Senin, 21 Januari 2013

Etika Penerbitan Al-Qur'an

Artikel Tamu (1)
Catatan: Untuk menambah wawasan dan turut menyebarkan pengetahuan, blog ini juga menampilkan beberapa artikel dari penulis lain yang akan dimasukkan dalam rubrik "Artikel Tamu". Tulisan di bawah ini merupakan makalah pada Lokakarya Penerbit Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, di Hotel Griya Astuti, Bogor, 24 September 2012. Tulisan telah diedit seperlunya oleh pengelola blog, tanpa mengubah isi. Dr Ahsin Sakho Muhammad adalah Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ), Ciputat, Tangerang. Tulisan ini telah dimuat di http://lajnah.kemenag.go.id/artikel/49-feature/156-etika-penerbitan-al-quran.html. Artikel yang dimuat di sini tidak mencerminkan pendapat pengelola blog.

Etika Penerbitan Al-Qur'an 
Oleh Dr. Ahsin Sakho Muhammad
Pendahuluan
Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia. Setelah Al-Qur’an selesai diturunkan, maka tidak akan ada lagi kitab suci yang diturunkan sesudahnya. Sebagai kitab suci terakhir, kaum Muslimin harus terus menjaga kesucian kitab ini sebagaimana layaknya menghormati sesuatu yang sangat berharga. Karena kitab suci ini diturunkan untuk menjadi kitab hidayah atau petunjuk bagi umat manusia, agar manusia bisa hidup selamat di dunia sampai akhirat. Penyepelean terhadap tugas ini akan membawa implikasi yang sangat serius baik bagi kehidupan kaum muslimin sendiri maupun bagi umat manusia secara keseluruhan. Jika kitab suci ini tercemar atau terkena perubahan oleh tangan-tangan manusia, maka di dunia ini sudah tidak ada lagi alat pengukur kebenaran satu ideologi dan nilai-nilai kehidupan.
Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an berfungsi sebagai alat pengontrol (muhaimin) bagi kehidupan keagamaan manusia masa lalu. Jika Al-Qur’an sudah tercemar atau terkena perubahan, sudah tidak lagi kitab suci berfungsi sebagai alat pengontrol. Ketiadaan alat ukur atau pengontrol ini akan menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kitab suci. Manusia pada akhirnya akan memilih jalan kehidupannya sendiri tanpa ada kontrol dari sumber kebenaran, yaitu agama yang diridlai oleh Allah. Jika hal ini berlangsung lama, maka kehidupan akan menunju kepada kehancuran. Padahal agama diturunkan oleh Allah adalah untuk mengarahkan manusia menuju ke jalan yang benar.
Pengalaman kaum Yahudi dan Nasrani menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita sekalian. Orang Yahudi dan Nasrani telah kehilangan sumber ajaran mereka yang asli, karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, sehingga Kitab Taurat dan Injil tidak lagi asli sebagaimana yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa. Ketidakaslian kedua kitab suci tersebut membawa dampak yang sangat serius dalam kehidupan keagamaan kedua umat tersebut, antara lain adalah hambarnya hubungan antara kedua kitab suci tersebut dengan kehidupan mereka.
Dengan demikian maka kaum Muslimin dituntut untuk terus menjaga keaslian kitab suci Al-Qur’an dengan seluruh kemampuan yang ada, yaitu dengan memperbanyak ahli Al-Qur’an yang selalu berkhidmat kepada Al-Qur’an, baik dari segi redaksi, bacaan maupun penafsirannya.

Sakralitas Al-Qur’an
Al-Qur’an di samping sebagai kitab hidayah, mempunyai sakralitasnya atau kesuciannya sendiri, hal itu bisa dilihat pada hal-hal di bawah ini:
Pertama: Al-Qur’an adalah Kalamullah atau perkataan Allah. Kalamullah berarti sifat yang ada pada diri atau Zat-Nya, yaitu sifat Kalam. Jika Zat Allah suci, maka begitu juga dengan sifat-Nya. Dengan demikian, Al-Qur’an adalah sesuatu yang suci dan sakral yang harus diperlakukan dengan penuh kehormatan dan tatakrama. Pada saat Nabi Musa bermunajat dengan Allah dan Allah memberikan wejangan melalui Kalam-Nya, Nabi Musa diberi julukan sebagai “Kalimullah” yaitu seorang yang diajak bicara langsung dengan Allah. Martabat sebagai “Kalimullah” merupakan martabat yang tinggi di mata para Nabi.
Kedua: Al-Qur’an sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad, berada pada satu tempat yang sangat terjaga, yaitu “Lauh Mahfuzh” satu tempat yang tidak bisa dijamah kecuali oleh para malaikat yang suci (Al-Waqi’ah/56: 79). Karena di sinilah letak rahasia Tuhan tentang apa yang akan terjadi di dunia ini. Penempatan Al-Qur’an di “Lauh Mahfuzh” jelas menjadi bukti tentang kesucian Al-Qur’an.
Ketiga: Al-Qur’an diturunkan di satu malam yang disebut “Lailatul Qadr”, satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Penentuan waktu yang demikian mulia untuk diturunkannya Al-Qur’an merupakan bukti keutamaan Al-Qur’an dibandingkan kalamullah yang lainnya.
Keempat: Al-Qur’an dibawa oleh Malaikat Jibril yang demikian kuat dan perkasa agar ayat-ayat Al-Qur’an tidak diganggu atau “dicuri” oleh setan, sebagaimana yang setan lakukan sebelum Al-Qur’an diturunkan terhadap kabar langit. Pemilihan Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah karena yang dibawanya juga merupakan hal yang sangat suci yang berisi pesan-pesan Allah kepada umat manusia.
Kelima: Menyentuh mushaf harus berwudlu. Nabi pernah berujar bahwa “tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang suci”. Ulama memang masih memperselisihkan kandungan hadis ini. Namun imam mazhab empat (Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat dengan teks hadis ini, yaitu:
روى مالك في الموطأ عن عبدالله بن محمد بن أبي بكر بن محمد بن عمرو ابن حزم أن في الكتاب الذي كتبه رسول الله صلى الله عيه وسلم لعمرو بن حزم أن لا يمس القرآن الا طاهر

Keenam: Nabi juga pernah melarang sahabatnya untuk membawa mushaf ke negeri musuh karena khawatir mereka akan menistakan Al-Qur’an (hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).
عن ابن عمر قال نهى رسول الله {صلى الله عليه وسلم} أن يسافر بالقرآن إلى أرض العدو زاد أبو مسعود قال مالك أرى ذلك مخافة أن يناله العدو) الجمع بين الصحيحين البخاري ومسلم (2/ 176)

Ketujuh: Salah satu indikator kesakralan Al-Qur’an adalah beberapa ayat Al-Qur’an bisa dijadikan untuk mengobati beberapa penyakit, gangguan jin, penangkal sihir, penjaga terhadap hal hal yang tidak diinginkan, seperti Surah Al-Fatihah, ayat Kursi, surah Al-Mu’awwidzatain (Surah al-Falaq dan an-Nas) dan lain sebagainya.
في صحيح مسلم قالت: "كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا مرض أحد من أهله نفث عليه بالمعوذات فلما مرض مرضه الذي مات فيه جعلت أنفث عليه وأمسحه بيد نفسه؛ لأنها كانت أعظم بركة من يدي"
Artinya: Dari Siti Aisyah: Nabi Muhammad, jika ada di antara keluarganya yang sakit, beliau membacakan bacaan-bacaan ta’awwudz, kemudian meniupkannya kepada yang sakit. Pada saat beliau sakit sebelum wafatnya, akulah yang meniupkan kepadanya, dan aku jadikan tangannya mengusap-usapkan ke tubuhnya, karena tangannya lebih berkah dari tanganku.
وفى الصّحِيحَيْنِ " مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إذَا أَوَى إلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفّيْهِ قُلْ هُوَ اللّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوّذَتَيْنِ . ثُمّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَمَا بَلَغَتْ يَدُهُ مِنْ جَسَدِهِ
  
Terhadap sakralitas Al-Qur’an ini, para ulama memberikan ulasan yang cukup panjang tentang tatakrama terhadap Al-Qur’an (mushaf) dan adab membaca Al-Qur’an. Al-Qurthubi dalam mukadimah tafsirnya memberikan uraian tentang bagaimana menghormati mushaf dan adab membaca Al-Qur’an. Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mencantumkan sekitar 42 butir tentang bagaimana seharusnya orang Islam mengagungkan Al-Qur’an.
Imam Sayuthi dalam Al-Itqan dan Imam Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an juga menguraikan hal serupa, begitu juga ulama lainnya yang menulis tentang etika terhadap Al-Qur’an. Betapapun para ulama Islam menaruh Al-Qur’an sebagai kitab yang sakral, tetapi kesakralan ini tidak diperlakukan berlebihan seperti menaruh mushaf di dalam almari yang tidak boleh dibuka kecuali setelah melakukan acara ritual terlebih dahulu, atau memajang mushaf sebagai jimat dan lain sebagainya.

Penerbitan Al-Qur’an
Pada masa Nabi, Al-Qur’an telah ditulis keseluruhan oleh para sahabat penulis wahyu. Namun masih berserakan di benda-benda yang bisa ditulis seperti kulit binatang, pelepah kurma, batu-batu putih yang tipis, tulang-belulang, dan lain sebagainya. Lalu pada masa Abu Bakar Al-Qur’an ditulis dalam satu mushaf yang sudah berurutan ayat dan surahnya. Namun belum ada titik, harakat (baris), nama surah, tanda waqaf, juz, hizb, rubu’, tsumun, tanda ayat sajadah, penomoran ayat, tanda-tanda bacaan tertentu seperti isymam, imalah dan lain sebagainya. Khat yang digunakan adalah khat Kufi yang kaku, sebagai kelanjutan dari khat Nabthi sebagai pelanjut dari khatnya bangsa Smith, yaitu induk dari bangsa-bangsa Arab, Israel dan lain sebagainya yang telah berkembang pada masa pra-Islam.
Pada pertengahan abad pertama hijrah, terjadi perubahan pada penulisan mushaf, yaitu digunakannya titik sebagai tanda baca seperti yang dilakukan oleh Abul Aswad ad-Du’ali (w 69 H). Titik yang digunakan oleh Abul Aswad masih terbatas pada akhir kalimat. Titik Abul Aswad ini akhirnya disempurnakan oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w 170 H) sebagaimana harakat yang ada sekarang ini. Pada akhir abad pertama ada dua orang yang berjasa dalam memberikan tanda titik untuk huruf-huruf yang sama tulisannya seperti huruf jim, ha’ dan kha’ dan lain sebagainya. Dua orang tersebut yaitu Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi (w 89 H) dan Yahya bin Ya’mur al-‘Udwani ( w 129 H).
Nashr bin ‘Ashim juga berjasa dalam membagi Al-Qur’an menjadi beberapa bagian (juz). Namun demikian apa yang dilakukan Nashr masih sebatas teori, tetapi belum dicantumkan dalam mushaf. Dari penelitian diketahui bahwa mushaf yang ditulis pada abad pertama, mushaf al-Hasan al-Basri (w 110 H) begitu juga mushaf-mushaf yang ditulis pada abad kedua dan ketiga hijri belum ada tanda pembagian Al-Qur’an menjadi beberapa juz. Baru pada pertengahan abad keempat hijri ditemukan mushaf yang sudah menggunakan teori Nashr bin ‘Ashim tersebut (lihat Ath-Thawil, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad Abdullah, Fann at-Tartil wa ‘Ulumuh, Madinah: Mujamma’ Malik Fahd, 1999 M/1420 H, Jilid I, hal. 66)
Pada mulanya Al-Qur’an ditulis dengan khat Kufi, kemudian muncul khat Tsulutsi dan kemudian khath Naskh. Dengan khath Naskh inilah Abu Ali bin Muqlah menulis mushafnya, dari semenjak itu penulisan mushaf menggunakan khat Naskh.
Jika pada mulanya Al-Qur’an ditulis pada kulit binatang, maka pada permulaan abad kedua hijri mushaf ditulis di atas kertas. Lalu pada tahun 1431 M muncul mesin cetak. Di kota Hamburg di Jerman Al-Qur’an dicetak pertama kali. Lalu muncul mushaf cetakan Italia pada abad ke-16 M. Pada tahun 1308 H, muncul mushaf cetakan Cairo yang ditekuni oleh Syekh Ridhwan bin Muhammad al-Mukhallati. Dalam cetakan ini mushaf ditulis dengan Rasm Utsmani, dicantumkan juga jumlah ayat pada masing-masing surah, tanda waqaf, tanda baca, dan lain sebagainya. Lalu pada tahun 1337 H muncul mushaf cetakan Kementerian Pendidikan (Wizaratul Ma’arif) Mesir, yang ditashih oleh para ulama Al-Azhar. Pada tahun 1342 H, Raja Fuad I membentuk tim pentashih mushaf dari ulama Al-Azhar. Pada tahun-tahun berikutnya Universitas Al-Azhar membentuk tim sendiri untuk mengawal pencetakan Al-Qur’an.
Lalu pada tahun 1403 H berdiri Mujamma’ Malik Fahd di Madinah untuk penerbitan Mushaf dalam skala besar. Pada tahun 1404 dibentuk tim pentashih mushaf dengan 15 anggota yang terdiri dari ulama qira’at, tafsir, bahasa, fiqh, dan lainnya. Dari Mujamma’ Malik Fahd inilah terbit mushaf Al-Qur’an dalam skala massif dan dengan berbagai macam riwayat, seperti riwayat Hafsh, Duri, Abu ‘Amr, dan Warsy (ibid., hal. 69-70).
Akan halnya di Indonesia, pada mulanya para ulama masih menggunakan tulisan tangan, kemudian datanglah mushaf dari luar negeri seperti dari India yang dikenal dengan mushaf Bombay, dan Turki yang dikenal dengan mushaf Bahriyah. Dari kedua mushaf inilah kaum muslimin di Indonesia membaca Al-Qur’an. Kemudian pada dekade 1980-1990-an muncul mushaf-mushaf yang ditulis oleh bangsa Indonesia sendiri seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf At-Tin, dan lain sebagainya.

Etika Penerbitan Mushaf
Pada bagian pertama dari tulisan ini penulis kemukakan tentang perlunya kaum muslimin menjaga keaslian dan kehormatan mushaf, maka sebagai tindak lanjutnya penulis akan kemukakan pokok-pokok dalam penerbitan mushaf. Namun sebelum itu penulis ingin mengemukakan bahwa jika penerbit akan menerbitkan mushaf, maka pertanyaannya adalah: apakah penerbit tersebut akan menerbitkan mushaf yang sudah ada dan sudah mendapatkan pengesahan dari sebuah lembaga yang berkompeten atau akan menerbitkan mushaf yang baru sama sekali? Jika menerbitkan mushaf yang sudah ada, maka tidak banyak yang dilakukan kecuali hanya meminta pengesahan baru dari lembaga yang berkompeten. Hal ini telah dilakukan oleh beberapa penerbit di India di mana mereka kebanyakan mengkopi dari mushaf yang sudah ada. Begitu juga di Turki, Syria, Mesir, dan lainnya.
Di Turki, mereka menggunakan mushaf terbitan “Bahriyah” (percetakan Angkatan Laut Turki). Diduga kuat bahwa mushaf terbitan “Menara Kudus” adalah copy dari mushaf Bahriyah Turki. Di Siria, Iran, Sudan, dan Saudi saat ini, penerbitannya mengacu pada khat karya Usman Thaha. Hanya saja pada penerbitan Madinah ada sedikit perubahan menyangkut waqaf dan lainnya. Di Mesir, mereka lebih cenderung menerbitkan mushaf hasil kerja Syekh Ridhwan al-Mukhallati.         

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan
Jika yang akan dilakukan oleh penerbit adalah menerbitkan mushaf yang baru sama sekali, maka beberapa pokok persoalan yang harus diperhatikan, yaitu:

Pertama: Rasm
Menurut jumhur ulama, mushaf Al-Qur’an harus ditulis dengan rasm usmani. Persoalan ini memang diperselisihkan oleh ulama. Ada yang mengatakan bahwa penulisan Al-Qur’an adalah tawqifi, yaitu menuliskan dan meniru apa adanya dari gaya tulisan yang ditulis pada masa sahabat Usman bin Affan. Ada juga yang berpendapat bahwa menulis mushaf tidak mesti dengan rasm usmani, tetapi boleh juga dengan rasm imla’i. Semuanya mempunyai alasannya masing masing. Imam Malik dan lainnya termasuk orang mengharuskan penulisan Al-Qur’an dengan rasm pertama (al-katbah al-ula) (lihat As-Sayuthi, Al-Itqan, Beirut: Dar al-Fikr, hal. 167). Fatwa ulama Al-Azhar pada tahun 1355 H mengaruskan pemakaian rasm usmani pada setiap penerbitan mushaf (lihat Al-Hamd, Ghanim Qadduri, Rasm Al-Mushaf, Baghdad, 1982, hal. 609).
Hemat penulis, jika Al-Qur’an ditulis untuk buku pelajaran, tafsir, di majalah dan lainnya yang bukan berupa mushaf, bisa menggunakan rasm imla’i atau istilahi. Namun jika ditulis di mushaf, lebih diutamakan memakai rasm usmani. Hal ini karena beberapa pertimbangan, antara lain:
a. Demi menjaga keaslian, keotentikan dan kemurnian Al-Qur’an. Jika ditulis dengan rasm imla’i, akan terjadi perubahan terus-menerus.
b. Bacaan (qira’at) yang sah adalah jika qira’at tersebut mengikuti rasm usmani, baik secara hakiki atau masih mirip.
c.  Mushaf yang ditulis dengan rasm usmani masih menyimpan bacaan-bacaan lain yang juga mutawatir. Jika ditulis dengan rasm imla’i, bacaan-bacaan lain tidak tertampung lagi.
d. Dengan rasm usmani maka terjadi hubungan emosional antara kita dengan generasi awal, karena seakan-akan kita membaca mushaf para sahabat.
e. Rasm usmani merupakan khazanah intelektual dan khazanah budaya yang sangat mahal untuk ditinggalkan. Dengan rasm usmani kita bisa melihat sejarah tulisan pada generasi awal dan sejarah penulisan Al-Qur’an pada masa itu. Hal ini bisa dijadikan lahan penelitian yang sangat berharga.

Jika sudah ditetapkan penulisannya dengan rasm usmani, maka yang harus diperhatikan adalah rasm usmani menurut riwayat siapa? Apakah riwayat Abu ‘Amr ad-Dani atau Abu Dawud Sulaiman bin Najah? Atau mengacu kepada kesepakatan keduanya? Sebab ada banyak perbedaan di antara keduanya. Contoh yang konkret adalah mushaf Jamahiriyyah yang dicetak pada masa pemerintahan Mu’ammar al-Qadzdzafi menggunakan riwayat Qalun dari segi bacaan dan menggunakan riwayat ad-Dani dari segi rasm usmani-nya. Sementara mushaf riwayat Hafsh cetakan Mujamma’ Malik Fahd di Madinah menggunakan rasm usmani dengan mengacu kepada kesepakatan keduanya dan menarjihkan riwayat Abu Dawud pada banyak tempat.

Kedua: Tidak mencampuradukkan antara ayat Al-Qur’an dengan bukan ayat Al-Qur’an.
Sebagaimana diketahui, pada saat awal Al-Qur’an diturunkan, Nabi melarang para sahabatnya menulis sesuatu selain Al-Qur’an melalui sabdanya:
جامع الأصول في أحاديث الرسول (8/ 32)
 أبو سعيد الخدري - رضي الله عنه -: أَنَّ رسولَ الله[ص:33] -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تكتُبوا عني غير القرآن - وفي رواية قال: لا تكتبوا عني ، ومن كتب عني غير القرآن فَلْيَمْحُه - وحَدِّثوا عني ولا حَرَج ، ومن كذب عليَّ [قال همام: أحسبه قال:] مُتعمِّدا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مقعده من النار». أَخرجه مسلم.

Artinya: Janganlah kamu menulis dariku sesuatu selain Al-Qur’an. Barang siapa menulis dariku selain Al-Qur’an, hapuskanlah.

Pada saat Zaid bin Tsabit menulis Al-Qur’an, baik pada masa Abu Bakar atau masa Usman, beliau dan teman-temannya sangat hati-hati dalam menulis Al-Qur’an. Bacaan yang telah dinasakh tidak akan dimasukkan, karena bacaan yang dinasakh tidak lagi disebut Al-Qur’an. Memasukkan sesuatu yang bukan Al-Qur’an ke dalam Al-Qur’an akan membawa konsekuensi tersendiri. Atas dasar ini juga para ulama generasi pertama tidak menyetujui adanya tanda-tanda selain ayat Al-Qur’an itu sendiri, seperti pemberian tanda pada setiap sepuluh ayat (ta’syir), tanda titik (nuqath), penamaan surah, dan lain sebagainya. Sahabat Ibnu Mas’ud pernah berkata:
ورُوي عن ابن مسعود، قال: جرِّدوا القرآن، لا تكتبوا فيه شيئاً إلاَّ كلام الله
أخرجه ابن أبي داود في " المصاحف " ص 154 - 155 من طرق عن سلمة بن كهيل، عن أبي الزعراء قال: قال عبد الله: " جردوا القرآن، ولا تلبسوا به ما ليس منه "، ومنها بلفظ: " جردوا القرآن ولا تخلطوا به ما ليس فيه "، وآخر بلفظ: " جردوا القرآن ولا تلبسوا به شيئاً ".

Artinya: Janganlah mencampuradukkan Al-Qur’an dengan yang bukan Al-Qur’an. Berkata lagi: sendirikanlah Al-Qur’an.

Abu Ruzain memberikan alasan tentang penulisan komentar pada awal surah bahwa surah ini dimulai dengan ayat ini dan diakhiri dengan ayat ini. Aku khawatir ada orang yang menganggap bahwa tulisan tersebut juga berasal dari langit. (Lihat Ibn Abi Dawud, dalam Al-Mashahif, Kairo: Muassasah Qurthubah, hal. 138).
Akan halnya dengan tafsir, maka seorang mufasir bisa saja menyelang-nyelingi ayat dengan penafsirannya sebagaimana yang kita lihat dalam tafsir Al-Jalalain. Jika demikian maka ayat-ayat Al-Qur’an harus dibedakan dengan tafsir, misalnya dengan memberikan tanda kurung terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Ketiga: Qira’at
Menulis Al-Qur’an harus mengikuti riwayat bacaan (qira’at) yang mutawatir seperti qira’at tujuh dan sepuluh. Kemudian tentukan juga riwayatnya, seperti Qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh, atau Qira’at Nafi’ riwayat Qalun. Untuk bisa menulis Al-Qur’an dengan riwayat yang mutawatir harus memperhatikan kaidah pada bacaan imam qira’at yang menjadi acuannya. Hal ini mau tidak mau harus merujuk kepada kitab-kitab qira’at yang mu’tabarah, seperti an-Nasyr, asy-Syathibiyyah, al-Buduraz-Zahirah dan lain sebagainya.

Keempat: Penomoran ayat
Jika telah ditentukan satu riwayat, maka konsekuensi lainnya adalah penomoran ayat harus mengacu kepada riwayat tersebut. Misalnya riwayat Hafsh dari ‘Ashim sebagaimana yang berlaku saat ini. Jumlah ayat dalam Al-Qur’an dalam riwayat ini adalah 5236 ayat sesuai dengan penghitungan ulama Kufah. Jika dengan riwayat Warsy atau Qalun keduanya dari Imam Nafi’, maka jumlah ayatnya adalah 6217 atau 6214 menurut penghitungan ulama Madinah. Jika akan menulis mushaf riwayat lainya maka juga harus mengikuti cara penghitungan ayat pada riwayat tersebut, yaitu cara penghitungan Basri, Syami, Makki.

Kelima: Tanda Baca
Sebaiknya menggunakan tanda baca yang sudah masyhur di kalangan masyarakat seperti baris kasrah, dhammah, fathah dan lain sebagainya. Begitu juga dengan tanda baca lainnya seperti idgham bighunnah, iqlab, ikhfa’ dan lainnya. Dalam catatan penulis ada perbedaan antara penulisan tanda baca antara mushaf Bombay, mushaf Bahriyah, dan mushaf Mesir. Mushaf Mesir yang bermula ditangani oleh Syekh Ridhwan al-Mukhallati menjadi acuan bagi mushaf terbitan Mesir, Syria, dan Saudi Arabia. Sementara tanda-tanda baca yang ada pada mushaf Bombay dan mushaf Bahriyah digunakan oleh Mushaf Standar Indonesia. Pada hemat penulis, mengingat tanda baca adalah bukan bagian dari rasm usmani, tetapi hasil ijtihad dari para ulama setelah masa sahabat, maka hal itu sah-sah saja untuk digunakan.

Keenam: Tanda Waqaf
Penggunaan tanda-tanda waqaf juga perlu diperhatikan. Ada banyak perbedaan antara tanda waqaf pada mushaf Bahriyah dan mushaf Bombay dan mushaf terbitan Mesir, Syria dan Madinah. Tanda waqaf yang banyak digunakan adalah sebagai berikut:
م: المد اللازم
صلى: الوصل اولى
قلى: الوقف اولى
ج: الوقف الجائز
لا: علامة الوقف الممنوع الا عند الفاصلة
علامة وقف المعانقة:

Ketujuh: Tanda juz, hizb, ruku’, tanda sajdah, imalah, saktah, tashil.
Sebagaimana diketahui, Al-Qur’an dibagi menjadi 30 juz. Setiap juz terbagi menjadi 2 hizb. Dan setiap hizb terbagi menjadi 4 bagian. Dengan demikian setiap juz terbagi menjadi 8 bagian. Pada setiap mushaf, awal juz selalu berada di halaman kiri paling atas.
Sementara tanda sajdah diberikan pada 15 tempat (al-A’raf: 206, ar-Ra’ad:15, an-Nahl: 50, al-Isra’: 106, Maryam: 58, al-Hajj: 18, al-Furqan: 60, an-Naml: 26, as-Sajdah: 15, Shad: 410, Fussilat: 38, an-Najm: 62, al-Insyiqaq:21, dan al-‘Alaq: 19). Inilah yang digunakan dalam mushaf standar Kementerian Agama. Ada lima tempat yang diperselisihkan para ulama, yaitu sajdah kedua pada Surah al-Hajj: 77. Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah bukan tempat sujud, menurut Imam Syafi’i dan lainnya merupakan tempat sujud). Dalam Surah Shad, menurut Imam Malik dan Abu Hanifah ada sujud, menurut Imam Syafi’i tidak ada sujud). Surah an-Najm, al-Insyiqaq dan al-‘Alaq, menurut Imam Malik bukan tempat sujud, menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah merupakan tempat sujud.
Tanda imalah pada riwayat Hafsh ada pada satu tempat saja (Hud:41). Tanda saktah pada riwayat Hafsh ada pada empat tempat (Kahf: 1, Yasin: 52, al-Qiyamah: 27, al-Mutahffifin: 14). Tanda tashilbaina baina’ ditaruh pada Surah Fushshilat: 44.

Kedelapan: Khat
Khat yang digunakan hendaklah memakai khat Naskh, karena inilah khat yang sangat masyhur dalam penulisan mushaf. Huruf-hurufnya terang dan mudah dibaca oleh orang awam. Al-Wazir Ibn Muqlah adalah orang yang pertama menulis mushaf dengan khat Naskh, kemudian diikuti oleh Ibn al-Bawwab (w 413 H) dan Yaqut al-Musta’shimi (w 698 H). Ketiganya bisa dikatakan guru dari penulis khat Naskh pada periode berikutnya.

Kesembilan: Penulis mushaf
Penulis mushaf, di samping mempunyai keahlian dalam bidang seni kaligrafi, seharusnya juga mempunyai dasar-dasar ilmu rasm usmani, ilmu tajwid, ilmu qira’at, ilmu tafsir, waqf dan ibtida’, dan ulumul Qur’an pada umumnya. Diutamakan adalah mereka yang hapal Al-Qur’an.

Kesepuluh: Pemeriksaan ulang
Al-Qur’an yang sudah ditulis hendaknya diperiksa kembali secara berulang-ulang oleh tim ahli agar jangan sampai terjadi kesalahan walaupun sedikit, sehingga pada saat diterbitkan sudah tidak ada lagi satu kesalahan pun. Teknik pemeriksaan bisa berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Kalau di Indonesia ditangani oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang selalu bersidang secara berkala untuk memeriksa mushaf yang akan diterbitkan di Indonesia. Sementara di Mujamma’ Malik Fahd di Madinah, naskah yang akan dijadikan master diteliti oleh tim senior yang terdiri dari masyayikh ahli qira’at, tafsir dan spesialis lain yang dibutuhkan. Mereka bersidang secara berkala. Naskah yang sudah ditashih oleh satu orang diserahkan kepada anggota lain untuk ditashih secara bergiliran, sampai beberapa kali. Setelah mendapatkan persetujuan, pada saat setelah mushaf naik cetak, masih ada lagi tim yunior yang akan melihat kesahihan halaman, sebelum akhirnya dibubuhi stempel yang bernomor oleh pemeriksa yang bersangkutan. Agar jika terjadi kesalahan, pemberi stempel itulah yang bertanggung jawab.

Beberapa Terbitan Mushaf
Dalam pengamatan penulis, penerbitan mushaf Al-Qur’an mengalami kemajuan yang cukup signifikan pada dekade ini. Apalagi dengan teknologi komputer saat ini. Ada beberapa penerbitan mushaf yang beredar yang akan penulis kemukakan di sini, yaitu:

a. Mushaf Tajwid
Mushaf ini diterbitkan pertama kali oleh Islamic Book Sevice, New Delhi, pada tahun 2002, dan terus mengalami cetak ulang. Di Indonesia mushaf ini dipublikasikan oleh Lautan Lestari. Dalam mushaf ini penerbit menggunakan warna-warna tertentu untuk menandai satu bacaan. Seperti bacaan ikhfa’ dengan warna biru muda, qalqalah dengan merah tua, idgham bighunnah dengan biru muda, dan lain sebagainya. Mushaf terbitan ini tidak ada masalah, karena tidak ada tanda baru kecuali pewarnaan bacaan yang ada. Hal ini untuk mempermudah bacaan bagi pemula.

b. Mushaf Tahajjud
Mushaf ini ditulis untuk mereka yang ingin membaca Al-Qur’an pada salat tahajjud. Setiap pojoknya ada tanda akhir ayat, sehingga memungkinkan mengakhiri bacaan pada akhir ayat kemudian rukuk. Biasanya mushaf ini formatnya agak besar dan diletakkan di depan imam dan bisa dibaca secara langsung.

c. Mushaf Alifi dan Mushaf Wawi
Kedua mushaf ini ditulis oleh orang India yang memulai setiap barisnya dengan huruf alif atau waw. Ciri tulisannya seperti mushaf-mushaf India lainnya. Mushaf ini bisa menjadi kemukjizatan lain dari Al-Qur’an.

d. Mushaf dengan huruf Latin
Menulis mushaf dengan huruf Latin diperselisihkan di antara ulama. Banyak yang melarangnya, karena bisa mengacaukan bacaan. Namun ada juga yang membolehkan jika teks Arabnya masih disertakan. Di antara mushaf model ini yang terbit di Indonesia mencantumkan juga arti setiap kosakatanya dalam bahasa Indonesia.

e. Mushaf dengan terjemah
Mushaf dengan terjemah sudah banyak dilakukan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Penulisan mushaf masih menggunakan tulisan Arab baik dengan rasm usmani atau imla’i. Mushaf ini banyak membantu pembaca mengetahui arti kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

f. Mushaf dengan tafsir
Mushaf ini sudah banyak diterbitkan di Syria dan Mesir. Mushaf yang di pinggirnya ada tafsir dilakukan oleh Ustadz Na’im al-Himshi dari Syria. Ada juga yang menggunakan ikhtisar dari Tafsir ath-Thabari, atau Tafsir al-Jalalain dan lain sebagainya. Kadangkala juga dirangkai dengan kitab Asbabun-Nuzul karya Al-Wahidi an-Naisaburi.

g. Mushaf dengan makna Jawa gandul (jenggotan)
Mushaf ini judulnya Al-Qur’an Al-Karim, Tamba Ati. Makna Jawanya dengan tulisan Arab pegon dikerjakan oleh Mifathul Huda Jr dari Kediri. Mushaf ini ditulis untuk kalangan santri yang terbiasa memaknai satu ungkapan dalam kitab kuning. Oleh karena itu pada halaman depan ditulis juga عنى على فسانترين maksudnya mushaf dengan makna ala pesantren. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Bagi kalangan pesantren mushaf ini bisa menolong dalam membaca Al-Qur’an disertai makna Jawanya.

h. Mushaf untuk anak-anak (I Love My Al-Qur’an)
Mushaf ini terbitan Pelangi Mizan, Bandung. Mushafnya menggunakan ayat pojok. Ada isyarat bacaan dengan tajwid seperti bacaan dengung dengan huruf berwarna hijau. Hanya saja di pinggirnya ada komentar terhadap ayat-ayat yang ada secara global. Setiap ayat dikomentari dengan memberi judul lalu disertai ungkapan, misalnya, hikmah ayat: 58-59. Semuanya dikemas dengan bahasa anak-anak, gampang dicerna, disertai dengan ilustrasi untuk membantu pemahaman. Ada terjemahan kata dengan bahasa Indonesia dan Inggris disertai dengan gambarnya. Contohnya, kata يحزنون diartikan dengan they grieve, mereka bersedih hati. Ada gambar tiga orang yang bercucur air mata. Kata: بقرة diartikan dengan a cow, seekor sapi, lalu ada gambar sapi. Ada juga rubrik “Kamu Perlu Tahu”, “Lihat Juga”, “Untuk Ayah-Ibu”, “Rambu Baca”, dan “Peta”. Buku ini terbit dalam 15 jilid, setiap jilid terdiri dari 2 juz yang memiliki warna berbeda. Dilihat dari penampilannya, karya ini cukup inovatif karena selama ini terjemahan atau penafsiran hanya ditujukan untuk orang dewasa dan dengan bahasa orang dewasa. Mushaf ini khusus dirancang untuk anak anak. Ini adalah terobosan yang sebelumnya belum ada di Indonesia.
Terhadap mushaf model ini penulis mempunyai pendapat sebagai berikut. Pertama, jika di pinggirnya tidak ada lukisan, tetapi cukup mencantumkan penafsirannya saja, atau untaian hikmahnya saja tidak menjadi soal, karena seperti Al-Qur’an terjemah. Meskipun demikian, penafsirannya harus ditelaah oleh tim ahli. Kedua, jika mushafnya dipisahkan dari komentar yang ada gambarnya, hal itu juga tidak menjadi masalah. Ketiga, jika tetap sebagaimana yang ada, yaitu mushafnya di tengah sedangkan gambarnya di pinggir maka ada catatan, yaitu:
a.  Lukisan atau gambar masih diperselisihkan oleh banyak ulama, boleh atau tidak. Jika hal itu terdapat di dalam mushaf, maka keberadaannya akan menyulut kontroversi yang lebih kuat lagi.
b. Mushaf dengan penuh gambar akan kehilangan sakralitasnya sebagai mushaf. Mushaf model begini akan diperlakukan sebagai buku biasa yang bisa diletakkan di mana saja, sementara banyak ulama yang wanti-wanti agar mushaf harus selalu diletakkan di atas kitab-kitab yang lain. Persoalannya adalah karena ada mushafnya. Jika bukan mushaf, persoalannya akan menjadi lain, seperti buku pelajaran yang di dalamnya ada ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk lebih gampang dipahami, penerbit mencantumkan gambar-gambar. Hal ini sudah tentu berbeda.

Penutup
Kaum muslimin ditantang untuk mensosialisasikan Al-Qur’an kepada masyarakat dengan berbagai macam cara dan metode, bagaimana agar Al-Qur’an bisa sampai kepada masyarakat, dimulai dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Namun demikian, nilai kesucian dan sakralitas Al-Qur’an harus tetap dipertahankan agar wibawanya dan sentuhannya bisa merasuk ke dalam hati para pembacanya.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar