Kamis, 25 Oktober 2012

Sampul

Bagaimana Qur'an diproduksi pada masa lampau? (1)

Sampul

Seorang kenalan tadi siang (25/10/2012) membawa sebuah mushaf kuno milik saudaranya, dari Langitan, Tuban, Jawa Timur. Tidak ada kolofon dalam mushaf ini, sehingga pemiliknya ingin tahu kapan kira-kira mushaf ini dibuat. Membuka-buka mushaf tersebut, dan memotretnya, lalu terpikir bahwa mushaf ini cukup baik menjadi contoh bagaimana sebuah mushaf diproduksi pada masa lampau, meski mempunyai beberapa kekurangan. Tentu saja memang tidak ada sebuah mushaf yang benar-benar lengkap bisa mewakili semua aspek produksi sebuah mushaf. 
Baiklah, berdasarkan mushaf ini kita akan melihat beberapa aspek produksi mushaf dari masa lampau, disertai bandingan sejumlah mushaf lainnya yang relevan. Ditulis secara serial, agar tidak terlalu panjang dan membosankan.
Gambar 1. Sampul kulit bersepuh emas.

Sampul (cover) mushaf biasanya terbuat dari kulit. Dari segi hiasan, ada yang sederhana, ada yang bagus, dengan motif hiasan yang beragam. Berdasarkan mushaf-mushaf kuno yang ada, dapat diduga bahwa pada masa lampau ada semacam profesi khusus penjilid naskah, mengingat bahan yang digunakan diperkirakan tidak mudah didapatkan. Pekerjaan penjilidan naskah menyangkut jenis kulit, penyamakan, teknik pembuatan hiasan timbul, penjahitan kuras, pengeleman, pemotongan, dan hal-hal kecil lainnya. Lem yang digunakan biasanya berwarna coklat, berasal dari jenis tumbuhan tertentu. Hiasan kulit sampul biasanya berupa blind stamping (hiasan timbul tanpa warna) atau disepuh emas (Gambar 1). Pembuatan hiasan timbul tentu tidak mudah dilakukan, paling tidak dari segi peralatan yang digunakan. Penelitian M. Plomp menyimpulkan bahwa ada ciri-ciri tertentu dalam gaya hiasan sampul naskah dari beberapa daerah di Indonesia (dimuat dalam Jurnal BKI Vol. 149 No. 3, 1993, bisa diunduh di http://www.kitlv-journals.nl/index.php/btlv/issue/view/500).
Sampul naskah bagian belakang biasanya memiliki flap (penutup seperti pada amplop) (Gambar 2). Sampul naskah bagian dalam dilapisi dengan kertas, agar tampak rapi. Kertas yang digunakan biasanya adalah dluwang yang terbuat dari kulit kayu (Gambar 3), meskipun naskah yang dijilid adalah kertas Eropa. Pilihan dengan kertas tradisional untuk penjilidan naskah adalah karena dluwang lebih kuat, dan mempunyai daya lentur, sehingga tidak mudah sobek. Ini berlaku khususnya pada mushaf-mushaf dari Jawa, karena dluwang sendiri paling banyak digunakan di Jawa.
 Gambar 2. Sampul belakang dengan flap (lipatan sampul).

Gambar 3. Sampul naskah bagian dalam yang dilapisi dluwang.


Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar