Mungkin
sudah banyak yang melupakan medote baca Qur’an ini. Sejak munculnya metode baca
Iqra’ pada tahun 1980-an, perlahan-lahan Qa’idah Bagdadiyah kehilangan ‘pengaruh’-nya. Apalagi, kemunculan Iqra’ kemudian segera memancing tumbuh
suburnya metode-metode baca lainnya, seperti al-Barqi, Hatta’iyah, an-Nur, Tilawati, Ummi, dan
(sepertinya) belasan lainnya. Sebelum Iqra’,
sebenarnya metode Qira’ati muncul lebih
dahulu – bahkan sebenarnya Iqra’
diilhami oleh Qira’ati – namun
sebagai ‘gerakan’, Iqra’ lebih massive, sehingga benar-benar menjadi
fenomena baru pada waktu itu. Sejak itu, metode baca Qur’an yang dianggap lebih
sistematis itu digunakan di hampir semua kalangan, juga tentu saja
sekolah-sekolah.
Qa'idah Bagdadiyah versi ringkas, cetakan Penerbit Karya Toha Putra, Semarang, tahun ±2011. Tulisan pada kulit buku ini tidak asli lagi (karya Rahmatullah), berbeda dengan edisi dasawarsa 1970-an dengan huruf bergaya "Bombay".
Masifnya penggunaan Iqra’ dan berbagai metode baca lainnya segera menenggelamkan metode baca “tradisional”, yaitu Qa’idah Bagdadiyah”. Metode ini sepertinya 'serta merta' dianggap tidak sistematis dalam tahap-tahap pembelajaran baca Qur'an. Namun, meski kebanyakan masyarakat telah tidak menggunakan lagi metode ini, pasar bagi buku yang biasa disebut Turutan ini terbukti masih ada. Penerbit Karya Toha Putra Semarang dan Penerbit Menara Kudus masih mencetak, dan kita bisa menemukannya di toko kitab. Kitab di bawah ini dicetak sekitar tahun 2011. Melihat kecenderungan penggunaan Qur'an di Indonesia dewasa ini, diperkirakan, pengguna dan 'penganjur' Turutan itu adalah "sisa-sisa" generasi lama yang masih 'setia' dengan Qur'an Bombay.
Keterkaitan Qa'idah
Bagdadiyah dengan Qur'an Bombay memang dekat. Yang paling mudah dilihat
adalah model hurufnya. Kedua kitab itu model khatnya sama: tebal. Jadi,
meskipun nama kitab kecil ini "Bagdadiyah" (tentu saja nisbat dari nama kota Bagdad di Irak), namun bisa diperkirakan bahwa produksi dan penggunaan metode ini
bersamaan dengan beredarnya Qur'an Bombay di Asia Tenggara sejak sekitar perempat akhir abad ke-19. Di samping itu, kode tanda-tanda baca Qur'an (lihat daftar Alamat ar-Rumuz allati fi al-Qur'an al-Majid di bawah) itu jelas mengacu kepada tanda baca yang
digunakan dalam Qur'an Bombay. Al-Qur'an al-Majid merupakan nama yang lazim digunakan dalam mushaf-mushaf cetakan Bombay.
Seperti kita lihat dalam daftar di bawah,
kode-kode huruf waqf tersebut tidak berubah, masih dicetak apa adanya hingga kini. Padahal, sesungguhnya sebagian
kode itu sudah tidak digunakan lagi, dan sudah sejak lama tidak tercantum lagi
dalam Qur'an di Indonesia. Dalam
Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (1984), tanda huruf tha', zai,
shad, qaf-fa', qaf, dan kaf, tidak digunakan lagi,
disederhanakan menjadi qaf-lam-ya' (al-waqf aula = sebaiknya berhenti) dan shad-lam-ya' (al-wasl aula = sebaiknya terus/lanjut), sebagaimana
juga dalam Mushaf al-Madinah an-Nabawiyah.
Nah, siapakah penyusun Qa'idah
Bagdadiyah ini? Belum ada informasi yang pasti. Namun, kemungkinan, seseorang yang bergelar "al-Bagdadi"...
Rumus tanda baca (kiri bawah) yang tidak berubah. Al-Qur'an al-Majid adalah judul khas Qur'an-Qur'an cetakan Bombay, India.
Qa'idah Bagdadiyah versi lengkap, cetakan Penerbit Karya Toha Putra, Semarang, tahun ±2011.
Qa'idah Bagdadiyah cetakan Penerbit Menara Kudus, tahun ±2011.
Artikel Terkait:
"Qaidah Bagdadiyah cetakan Bombay": https://quran-nusantara.blogspot.com/2024/07/qaidah-bagdadiyah-cetakan-bombay.html
siip, salut buat Dr. Ali Akbar... lanjutkan!! apapun itu fenomenanya, kita (sampai angkatan 1980-an) kayaknya sarjana-sarjana 'bagdadiyah' semua pak... wa-ilal mu'allif hadzal kitab, al-fatihah.....
BalasHapusjazakallah ilmunya..subhanallah keren
BalasHapusklo mau beli dmna ya,minta info..???
BalasHapusMaaf, baru baca. Buku Qa'idah Bagdadiyah masih bisa dibeli di toko-toko kitab di berbagai kota di Jawa Tengah. Atau mungkin bisa beli online via penerbitnya, Karya Toha Putra (Semarang) dan Menara Kudus (Kudus). Coba saja dihubungi. Terima kasih.
Hapussaya mengenalnya dulu denga sebutan tuturutan. sungguh banyak sekali kandungan pesan yang tersirat dalam qoidah bagdadiyyah jika saudara-sudara semua mencermatinya ... mohon pencerahannya siapakah pengarang qoidah bagdadiyyah?
BalasHapusItulah, belum diketahui hingga kini. Perlu penelusuran ke India, khususnya Bombay...
Hapussaya juga generasi Baghdadiyah :D
BalasHapusMetode Baghdadiyah lebih mengena dan mengajarkan bersabar tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu ,lebih dari itu ABU MANSUR ABDUL QOHIR AL BAGHDADI penyusun metode belajar tersebut tentunya tidak asal-asalan, melalui tirakat dan riyadhoh.agar manfaat bagi umat Islam di seluruh dunia.
BalasHapusKalo mau berkah ya pakai kitab JUZ AMMA versi itu.semoga manfaat.
Boleh tahu, dari mana sumbernya bahwa penyusun Qa'idah Baghdadiyah adalah ABU MANSUR ABDUL QOHIR AL BAGHDADI ? Terima kasih sebelumnya
HapusPenyusunan Abu Mansur mhon diaertakan referenaiy dr mana geh?
Hapusdi sini semendo muara-enim sumsel masih menggunakan turutan kelibihan metode ini ada kelebihan seperti zaman rasul saw......seorang murid diajarkan dari dasar huruf alquran sehingga tahu betul perhuruf dri alif smpi ya, kemudian merangkai kalimat terakhir membaca susunan ayat...metode turutan istilahnya makai 3 tingkatan/klas,,jika santri hanya smpi ketingkat 2 saja tetapi matang betul dia sudah bca sendiri alquran/santri turutan bisa paham betul detail huruf2 alquran....sedangkan yang makai metode iqra santrinya sy lihat gk paham huruf2nya,, bahkan bingung bacaan kalimatnya (klo metode turutan dia tahu betul itu klimat trdiri dri huruf apa,tandanya apa dan cara merangkainya.....kl sy lihat metode iqra itu metode langsung melalar/menyusun kalimat...artinya itu lagsung ketingkat 3 metode turutan....maaf y a sy ikut komen bukan apa2 hanya ikut cerita senang sj tentang hal ini
BalasHapusTerima kasih Ustadz, atas komentarnya! Sangat mencerahkan. Juga infonya, bahwa di Muara Enim, Sumsel, masih menggunakan metode lama ini...
HapusSekarang masih ada juga ditempat kami namun hanya sedikit..dipedalaman masih menggunakan metode bagdadiyah juga
BalasHapusBoleh tahu, tempat kakak di mana? Dan di pedalaman itu di mana? Trims infonya.
HapusBermanfaat sekali..salam dari bekasi utara
BalasHapus