Senin, 01 April 2013

Qur'an Kuno-kunoan (3)

Qur’an Kuno-kunoan (3)
Pasar Lokal dan Internasional

Dalam sebuah festival Al-Qur’an yang pertama kali digelar di Jakarta tahun 2011, ada seorang kolektor atau pedagang naskah turut ambil bagian dengan memajang macam-macam koleksinya, berupa naskah keagamaan dan sejumlah mushaf Qur’an. Kebanyakan Qur’an yang dipajang itu, menurut dugaan kuat saya, bukanlah Qur’an tua seperti yang dikesankan. Dilihat dari kertas, tinta, warna iluminasi, serta model penyalinannya, secara pribadi saya yakin bahwa sejumlah Qur’an itu “kuno-kunoan”. Sang kolektor itu rupanya tidak tahu, dan menduga bahwa koleksinya adalah benda kuno. Menurut dia, sekurang-kurangnya berumur 150 tahun. Tetapi, secara fisik, saya yakin bahwa mushaf-mushaf yang umumnya berukuran agak besar itu belum lama dibuat. Tidak semua yang dipamerkan "kuno-kunoan". Ada sejumlah naskah, umumnya berukuran 'wajar', yang memang benar-benar kuno.
Selain berbahan kertas, beberapa mushaf yang dipajang berbahan daun lontar yang dijahit sedemikian rupa sehingga membentuk seperti lembaran kertas. Dari bahan yang digunakan, ini cukup aneh. Sejauh yang saya ketahui hingga kini, mushaf kuno tidak pernah ditulis di atas daun lontar. Daun lontar memang digunakan untuk menulis teks, bahkan hingga kini di Bali, namun untuk teks berhuruf Jawa. Model jilidannya berupa helai daun yang dirangkai/diikat dengan tali, dengan “cover” kayu selebar daun lontar itu yang ditangkupkan.
 
Sejumlah "Qur'an kuno-kunoan".

Rupanya, “Qur’an kuno-kunoan” ini tidak hanya beredar di tingkat nasional, tetapi juga telah merambah pasar internasional. Tidak hanya di negeri jiran, tetapi juga pasar global. Seorang kenalan, dari Eropa, beberapa bulan lalu melalui email memperlihatkan sebuah mushaf yang dijual di pasar benda antik online. Saya terkejut, karena yang ditawarkan itu, menurut saya, adalah “Qur’an Kuno-kunoan”. Qur’an tersebut tentu saja dianggap kuno, dan ditawarkan dengan harga tinggi, yaitu $60,000 (sekitar Rp550 juta). Dalam laman online-nya, mushaf ini diiklankan sebagai 'manuskrip Qur’an raksasa beriluminasi', dikatakan dari Aceh, lebih kurang tahun 1850. Ukuran 2’7” x 3’10” dengan jumlah halaman 103 lembar. Teks Qur’an ditulis dengan tinta warna emas, barangkali untuk mengesankan kemewahan. Namun alat tulis yang digunakan adalah spidol, sehingga tampak kurang rapi, dan dengan mudah dapat diduga kebaruannya.
Sebelum itu, seorang kenalan lainnya, tinggal di Eropa juga, diberitahu oleh koleganya bahwa museum tempatnya bekerja ditawari sebuah Qur’an ‘antik’ dari Cirebon. Tidak berselang lama, melalui telefon, saya dihubungi pula oleh seseorang dari Cirebon yang menawarkan sebuah Qur’an yang, kata dia, “munculnya secara tiba-tiba, setelah tirakat sejumlah ulama Cirebon di makam Sunan Gunung Jati.” Wah! Saya meminta foto Qur’an tersebut agar dikirimkan via email. Dan benar, ciri-ciri Qur’an yang ditawarkan itu sama dengan “Qur’an kuno-kunoan” lainnya.
Seakan-akan mushaf kuno.

 Sejumlah mushaf daun lontar 'kuno-kunoan'.

 Salah satu mushaf daun lontar 'kuno-kunoan'.

Artikel terkait:

5 komentar:

  1. Saudara Ali,
    Informasi yang bagus. Terima kasih kerana berkongsi. Saya selama ini sangat tertarik dengan Quran yang di tulis di atas daun lontar. Namun setelah saudara komentar bahawa Quran lontar mungkin tidak pernah wujud sebagai kuno, maka saya tidak perlu panjangkan pencarian saya. Namun jika saudara menemui Quran lontar kuno, tolong kongsikan bersama informasinya. Terima kasih

    BalasHapus
  2. Syukurlah jika informasi tersebut bermanfaat. Sejauh yg saya tahu, memang daun lontar tidak untuk menulis huruf Arab, apalagi utk teks panjang seperti Qur'an. Di Jawa, Islam-lah yang mengubah tradisi penulisan dari daun lontar ke bentuk buku (codex). Seperti diketahui, dunia Islam memang sejak awal mengembangkan buku. Mushaf sendiri berarti 'lembaran'.

    BalasHapus
  3. terimakasih infonya pak. kami menyimpan alquran kuno tulisan tangan bahan sampul kulit dan kertasnya sayang sudah sebagian termakan rayap kertas. dan ada dibeberapa lembar tintanya seperti pernah terkena air. yg saya tanyakan bagaimana merawatnya agar tidak terus habis dimakan rayap kertas . trimakasih

    BalasHapus
  4. Perlu ditempatkan di dalam kotak (jika belum ada, perlu dibuatkan). Beri cengkeh, tempatkan dalam plastik yg dilubangi, untuk menghindari ngengat. Simpan kotak di tempat yang TIDAK lembab.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus