Kamis, 22 Agustus 2013

Tulisan dan bahasa

Jangan langsung percaya (1)
Masalah tulisan dan bahasa

Sebaiknya, jangan langsung percaya pada semua informasi yang ada pada suatu naskah. Perlu lebih cermat, apalagi jika Anda, misalnya, sedang meneliti naskah, atau kolektor yang mau membeli naskah. Hal-hal yang terkait tulisan, bahasa, kertas, tinta, warna, dan ilumniasi, akan membatu kita untuk menganalisis keaslian informasi pada suatu naskah. Beberapa contoh gambar di bawah ini sepertinya menarik.
Gambar 1.

1. Tulisan. Pada kolofon (catatan naskah) Gambar 1 di bawah ini yang berbunyi "bi yadi Abd al-Malik sanat 1202" - oleh Abdul Malik tahun 1202 (1787)" kita melihat goresan tulisan yang berbeda, antara ayat terakhir Qur'an dan catatan berikutnya. Itu artinya, bahwa penyalin Qur'annya berbeda dengan penulis kolofonnya. Maka, sangat mungkin bila catatan penulis dan tahun itu ditambahkan pada masa yang berbeda dengan selesainya penulisan Qur'an ini. Penulisnya pun dengan demikian juga pasti orang yang berbeda, karena penulis yang sama (hampir) pasti akan menghasilkan goresan yang sama, atau paling tidak bisa diperbandingkan. Walhasil, kita boleh mencurigai ketidakbenaran informasi itu. Contoh yang sama juga kita bisa lihat pada Gambar 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Tulisan pada Gambar 7, 8, 9 juga menunjukkan karakter yang berbeda dengan keseluruhan tulisan Qur'an yang menjadi teks utamanya. Dapat diperkirakan bahwa itu juga merupakan tambahan pada masa belakangan. Mushafnya sendiri memanglah mushaf lama, tapi janganlah percaya bahwa penyalin dan tahun penyalinan mushaf adalah seperti yang tercantum itu. Petunjuk lain harus kita usahakan, misalnya dengan melihat watermark dan countermark-nya untuk memperoleh perkiraan tarikh.
2. Bahasa. Selayaknya, bahasa juga menunjukkan konsistensi yang masuk akal. Pada Gambar 7 dengan naskah yang terbuat dari dluwang (kertas kulit kayu) kita melihat adanya perbedaan bahasa. Pada bagian atas, dalam bahasa Melayu berbunyi "Ini Qur'an ditulis oleh Ambo' Muhammad Arifin tiga Zulhijah 1223 H". Sementara di bagian bawahnya tertulis dalam bahasa Jawa berbunyi "Kang anduweni Qur'an ... (yang memiliki Qur'an ...)". Kertas dluwang biasanya diproduksi dan dipakai di Jawa, sehingga kita agak beralasan untuk mencurigai bahwa tulisan dalam bahasa Melayu di bagian atas itu merupakan tambahan kemudian. Sedangkan tulisan dalam bahasa Jawa di bagian bawah adalah tulisan yang lebih asli. Lihatlah, goresan tulisan dan pena yang digunakan juga berbeda. Lagi pula, penyingkatan tahun Hijriyah dengan huruf ha' pada masa lalu juga tidak lazim. Redaksi pada catatan kolofon zaman dahulu biasanya ditulis langsung "al-hijrat an-nabawiyyah", dan sebagainya.
Timbul pertanyaan, apa sesungguhnya motivasi penambahan catatan kolofon itu? Bisa macam-macam, tapi mungkin bisa dibedakan antara yang punya motivasi ekonomis dan yang tidak. Untuk pemilik naskah yang 'ikhlas', tidak ada motivasi ekonomis, mungkin karena adanya informasi baru yang diterima oleh ahli waris naskah (meskipun dia barangkali tidak melakukan verifikasi lebih lanjut). Kedua,  orang yang punya motivasi ekonomis - ini yang 'gawat', karena dia telah melakukan 'kebohongan publik' (sebut saja begitu)! Seyogianya dia tidak melakukan itu, karena tambahan catatan pendek saja 'urusan bisa panjang' dan bisa menjungkirbalikkan penulisan sejarah. 
Apakah kasus penambahan teks seperti ini ada dalam banyak naskah-naskah lain? Menurut pengalaman, sepertinya tidak banyak, atau mungkin ini karena dia melakukannya masih kurang "canggih", hehe...

"Jangan langsung percaya" pada suatu informasi dalam naskah juga menyangkut penilaian atau analisis terhadap kertas, alat tulis/pena, tinta, warna, jenis iluminasi, rasionalitas angka tahun, bahkan penggunaan huruf tertentu pada suatu naskah. Insyaallah akan disambung dengan tulisan singkat lainnya nanti.
Gambar 2.

Gambar 3.

Gambar 4.

 Gambar 5.

Gambar 6.

Gambar 7.

Gambar 8. 

Gambar 9.
(Semua foto dibuat oleh Zarkasi dan Ahmad Jaeni).

Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar