Senin, 25 November 2013

Huruf mim

Jangan langsung percaya (3)
Masalah huruf mim setelah angka tahun

Pada sebuah pameran, seorang pedagang dan kolektor naskah tergopoh-gopoh menunjukkan sebuah koleksinya yang menurut dia disalin sejak sebelum zaman para wali! Dia memperlihatkan kolofon di akhir naskah, yang tertulis angka 1300 sekian, diikuti huruf mim. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya bahwa naskah miliknya itu telah disalin sebelum zaman para wali di Jawa! Mengapa?
Contoh penggunaan huruf mim pada akhir sebuah naskah 
dari Palembang, pertengahan abad ke-19.

Huruf mim yang diterakan setelah angka tahun itu sesungguhnya bukanlah merupakan singkatan dari “Miladiyah” (Masehi) seperti yang umum berlaku dewasa ini! Di samping itu, marilah kita ‘masuk lorong waktu’, perhitungan tahun yang berlaku pada masa itu (abad ke-14) bukanlah perhitungan Masehi! Perhitungan tahun Masehi (Gregorian) di Nusantara dibawa oleh bangsa Eropa. Lebih dari itu, meskipun bangsa Eropa telah hadir di Nusantara sejak abad ke-15, tapi kaum muslimin Nusantara tidak menggunakannya hingga sekitar awal abad ke-20 ketika pendidikan Barat (baca: Belanda) mulai dikenyam bangsa kita!
Lalu, huruf mim setelah angka tahun itu apa? Rupanya itu adalah kependekan dari tamma (tamat, sempurna), yang merupakan pamungkas sebuah naskah. Tamma juga terkadang ditulis lengkap dengan huruf ta’ dan mim. Jadi, tentu saja angka yang dimaksud oleh penyalin naskah itu adalah tahun Hijri, bukan Masehi! 

Artikel terkait:

1 komentar: