Jumat, 29 November 2013

Cetakan litografi

Jangan langsung percaya! (5)

Jangan percaya kepada pengurus masjid! Haha…, maaf, maaf, ini terkait dengan keterangan tentang suatu Qur’an cetakan. Pernah, seorang peneliti Qur’an menulis laporan penelitian demikian panjang, dan mengajukannya untuk dimuat di sebuah jurnal, namun dia keliru mengidentifikasi Qur’an cetakan sebagai manuskrip (tulisan tangan)! Ia menyatakan bahwa naskah yang ditelitinya itu sebagai tulisan tangan, padahal merupakan cetakan litografi. Nah, kekeliruan itu bersumber dari keterangan pengurus masjid yang ‘ditelan mentah’. Maka sekali lagi, janganlah langsung percaya!

Cetakan litografi yang 'lentur' sebagaimana tulisan tangan biasa: 
Qur'an cetakan Muhammad Azhari, Palembang, 1848.

Tidak semua naskah kuno adalah tulisan tangan 'asli'. Banyak pemilik dan pedagang naskah kuno yang menyangka bahwa naskah cetakan miliknya adalah tulisan tangan. Begitu juga peneliti ‘pemula’ (maaf, katakanlah demikian), sering keliru menyatakan naskah cetakan sebagai tulisan tangan. Bagaimana kita bisa membedakan antara tulisan tangan ‘asli’ dengan cetakan litografi? Memang perlu kejelian, tapi sesungguhnya itu sangat sederhana.
Penting diketahui, dan dibedakan, bahwa pada masa lalu ada dua ‘aliran’ teknik cetak: litografi (lithography) dan tipografi (typography, movable type). Hasil cetakan litografi (disebut juga ‘cetak batu’) sangat berbeda dengan cetakan tipografi (cetakan berdasarkan rangkaian huruf dari logam). Tipografi tidak bermasalah untuk mencetak huruf Latin, karena karakter hurufnya memang terdiri atas satuan huruf yang terpisah, yaitu huruf a, b, c, dst. Namun, jadi agak bermasalah jika diterapkan untuk huruf Arab yang karakter hurufnya berbeda-beda jika disambung, dan sangat fleksibel!
Hasil cetakan tipografi sangat mudah dikenali, karena hurufnya kaku, dan huruf yang sama pasti mempunyai anatomi yang sama persis. Sambungan antarhurufnya juga tampak jelas. Ini contohnya:
Cetakan tipografi Eropa yang kaku: Qur'an edisi Gustav Flugel, Jerman, 1834. 
Qur'an cetakan seperti ini 'tidak laku' dan 'tidak diterima' di dunia Islam.

Nah, litografi tidak dihasilkan dari cetakan rangkaian huruf-huruf yang semula terpisah, namun berasal dari tulisan tangan (manusia) biasa yang kemudian ditransfer ke dalam cetakan. Inilah yang kemudian membingungkan sebagian orang!
Karena cetakan litografi juga merupakan tulisan tangan biasa, untuk membedakannya dengan tulisan tangan ‘langsung’ (atau ‘asli’), kita perlu melihat tintanya. Antara tinta dawat dengan tinta cetakan pasti berbeda. Dawat biasanya hitam pekat (sebagian bahkan mengkilat), sementara hasil cetakan litografi biasanya tidak terlalu hitam pekat, hurufnya agak berongga-rongga, dan terkadang hasil cetakan tidak merata di seluruh permukaan halaman. Jika kita baru satu kali melihat, mungkin masih agak sulit membedakan, tetapi jika sudah berulang kali, pasti akan mudah membedakannya. 
Untuk melihat ragam cetakan Qur'an di Indonesia dari masa ke masa, sila lihat artikel "Pencetakan Mushaf Al-Qur'an di Indonesia": http://www.academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia; dan untuk melihat jenis-jenis cetakan litografi yang lain sila lihat beberapa artikel singkat dalam kategori "Mushaf Cetakan Awal" di blog ini: http://quran-nusantara.blogspot.com/search/label/%28b%29%20Mushaf%20Cetakan%20Awal 

Artikel terkait:

    2 komentar: