Senin, 25 November 2013

Angka lima

Jangan langsung percaya (2)
Masalah angka lima

Seorang pemilik naskah menyatakan bahwa naskah miliknya “amat sangat tua sekali”, berdasarkan sebuah bentuk angka 5 yang ada di bagian depan naskahnya. Bentuk angka 5-nya berupa lingkaran, tidak jauh berbeda dengan angka 5 yang berlaku dewasa ini. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya pada ketuaan naskah miliknya itu! Mengapa?
Penulisan angka 5, 4, dan 0 pada sebuah Qur'an di Sulawesi Barat.

Kira-kira hingga akhir abad ke-19, masyarakat Nusantara menulis angka 5 dalam bentuk yang ‘aneh’ menurut ‘ukuran’ zaman sekarang! Bentuknya seperti huruf B kapital terbalik. Bentuk ‘lucu’ itu berlaku di Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Maluku. Penulisan angka 0 (nol) juga bukan berupa titik seperti yang umumnya berlaku dewasa ini, tetapi dalam bentuk lingkaran beneran. Angka empat juga bentuknya berbeda, seperti angka 4 yang hingga kini masih berlaku di India-Pakistan.
Muncul pertanyaan, kenapa penulisan angka bisa berubah? Sederhana saja, itu hukum pasar: yang bisa menguasai itulah yang menang! Pada awal abad ke-20, penggandaan teks-teks Islam hampir sepenuhnya sudah beralih dari tulisan tangan ke percetakan, dan bentuk angka yang berlaku di dunia percetakan itulah yang akhirnya diterima masyarakat muslim, dan berlaku hingga sekarang.
Penulisan angka 5 pada sebuah Qur'an dari Jawa.


Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar