Apakah mushaf al-Qur'an itu bukan naskah/manuskrip? Maaf, pertanyaan ini perlu juga ditulis di sini, karena ada sebagian peneliti/penelusur naskah keagamaan yang (sering?) tidak memasukkan mushaf dalam hasil 'buruan'-nya, dan mengabaikan begitu saja di lapangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa mushaf bukanlah teks yang unik, dan mungkin, pikirnya, semua mushaf toh sama saja teksnya: buat apa dicatat? Tentu sah-sah saja menganggap seperti itu, karena mungkin penelusuran mereka mempunyai tujuan tertentu. Tetapi, tidak memasukkan mushaf dalam kumpulan naskah, menjadikan gambaran tentang khazanah naskah menjadi kurang utuh! Akhirnya, cita-cita untuk dapat menggambarkan tradisi intelektual, juga aspek lainnya, yang berlangsung pada masa lalu juga menjadi kurang utuh. Mushaf (awas, harap dibedakan dengan Qur'an!), sebagai salah satu benda budaya sebagaimana naskah lainnya, tentu mempunyai banyak aspek yang bisa dipelajari, dan merupakan satu kesatuan bersama 'teman-teman' naskah lainnya. Lebih dari itu, di lapangan kita tahu, akses terhadap naskah itu seperti suatu keberuntungan, seperti suatu kesempatan: tidak akan datang dua kali! Jika kita di lapangan menemukan naskah, perlu dicatat dan didokumentasi saat itu juga (syukur dalam bentuk foto). Kita perlu melakukan apa saja yang bisa kita lakukan, sebab "lain waktu, lain cerita". Jika kita datang untuk yang kedua kali, belum tentu kita bisa mendapatkan kembali naskah yang sama!
Nah, tidak ada hubungannya dengan paragraf di atas, namun agak disayangkan juga, Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar (disusun oleh Oman Fathurahman dkk, Jakarta: Komunitas Bambu dll, 2010) tidak memuat koleksi Qur'an yang dimiliki dayah tua nan penting ini. (Informasi selebihnya tentang katalog ini lihat http://www.manassa.org/main/publikasi/index.php?detail=20100802170545). Koleksi naskah yang diperikan dalam katalog setebal xxxiv + 374 halaman itu berjumlah 280 jilid naskah, terdiri atas 367 teks. Kategori kandungan isinya, yaitu ilmu al-Qur'an, hadis, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, tatabahasa, logika, sejarah, zikir dan doa, serta lain-lain. Terbanyak adalah fikih (99 teks), tatabahasa (78 teks), dan tasawuf (55 teks), dst. Penyusun tidak menyebutkan alasan mengapa naskah-naskah mushaf tidak disertakan dalam katalog yang penting dan hebat ini.
Halaman iluminasi awal mushaf koleksi Dayah Tanoh Abee.