Kamis, 28 November 2013

Asal naskah

Jangan langsung percaya! (4)

Jika Anda menemukan sebuah manuskrip di suatu daerah, janganlah langsung percaya – tapi pasti Anda tidak! – bahwa naskah tersebut merupakan asli naskah setempat. Tidak hanya sekarang, pada zaman dahulu migrasi naskah dari suatu tempat ke tempat lainnya juga banyak terjadi, bahkan sampai ke tempat-tempat yang cukup jauh, dengan berbagai sebab: bisa hadiah, jual-beli, bahkan bisa juga merupakan rampasan. Sebuah Qur’an asal Aceh di Singaraja, Bali, membuktikan hal ini. Meskipun orang setempat mengatakan bahwa naskah tersebut merupakan asli tempatan, kita boleh saja mengangguk-angguk, tapi jangan percaya! Bagaimana kita bisa ‘yakin’ tentang asal-muasal suatu naskah?
Qur'an Aceh di Bali.

        Singkatnya, dari pengamatan! Dengan berulang kali mengamati naskah dan gejalanya di suatu tempat, lama-kelamaan kita akan menemukan ciri-ciri tertentu. Semakin banyak naskah yang kita lihat, semakin baik, dan akan menambah keyakinan kita akan suatu ciri tertentu. Yang diamati bisa beberapa hal: kertas, watermark, iluminasi, kaligrafi, paleografi, warna, motif hiasan, tatamuka halaman, cover, jilidan, atau aspek lainnya lagi.
        Demikianlah, pada masa lalu banyak naskah yang telah bermigrasi dari suatu kota ke kota lainnya. Sebuah Qur’an yang berciri Patani berada di Maluku, sementara yang lainnya berciri Terengganu berada di Nusa Tenggara Barat -- sekadar contoh.


Artikel terkait:

1 komentar: