Kamis, 14 Maret 2013

Koleksi Belanda

Qur'an Nusantara dalam koleksi Belanda

 Sebuah Qur'an dari Pulau Manipa, Maluku, koleksi Universitas Leiden. 
(Foto: Jan van der Putten)

Koleksi Qur'an Nusantara di negeri Belanda cukup banyak. Menurut P. Voorhoeve dalam Handlist of Arabic Manuscript in the Library of the University of Leiden and other Collections in the Netherlands (2nd Enlarged Ed.), The Hague: Leiden University Press, 1980, di Belanda tercatat ada 32 Qur'an lengkap, di samping terdapat 41 jilid terpisah bagian-bagian teks Qur'an, dan sekitar 20 naskah lain yang memuat bagian-bagian tertentu dari teks Qur'an. Sementara, E.P. Wieringa dalam Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts in the Library of Leiden University and other Collections in the Netherlands, Volume One (Leiden: Leiden University Library, 1998) mencatat sebuah naskah Qur'an, dengan nomor Cod.Or.247―namun hanya merupakan bagian dari sebuah naskah doa kecil yang berjumlah 59 halaman. 
Naskah Qur'an di negeri Belanda terdapat di beberapa lembaga, di antaranya Universitas Leiden, Koninklijk Instituut voor de Tropen (Amsterdam), Rijkmuseum voor Volkenkunde (Leiden), Nijmeegs Volkenkundig Museum, Universiteitsbibliotheek van Amsterdam, Universiteitsbibliotheek (Utrecht), serta Wereldmuseum (Rotterdam). Karena keterkaitan sejarah, museum-museum ini mengoleksi sejumlah Qur'an Aceh (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/02/tradisi-penyalinan-al-quran-di-aceh.html#more).
Perpustakaan Universitas Leiden meng-online-kan secara lengkap sebuah Qur'an indah dari Aceh, bernomor Cod.Or.2064 (lihat: https://socrates.leidenuniv.nl/R/9FL51F57FY1XVU74EK1I7XE1GB4ICDLQ2ID3EVJKST9198419K-02797). Iluminasi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah terdapat pada nomor foto 016-017.

Selasa, 26 Februari 2013

Mushaf Dunia Islam

Mushaf-mushaf Dunia Islam

Catatan: Semua ilustrasi pada bagian ini diambil dari buku Colin F. Baker, Qur'an Manuscripts: Calligraphy, Illumination, Design (London: British Library, 2007). Detail buku dapat dilihat (dan dibeli) di sini: http://www.amazon.com/Quran-Manuscripts-Calligraphy-Illumination-Design/dp/0712306897/ref=sr_1_1?s=books&ie=UTF8&qid=1363520100&sr=1-1&keywords=colin+baker+qur%27an+manuscripts

Sabtu, 23 Februari 2013

Pencetakan Qur'an

Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Suhuf, Vol.4 No.2, 2011, hlm. 271-287. File pdf bisa diunduh di http://academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia. Untuk pengutipan, sebaiknya mengacu pada terbitan di Jurnal Suhuf itu.

Ali Akbar
Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta

Tulisan ini menguraikan perkembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak masa awal pertumbuhannya pada pertengahan abad ke-19 hingga dewasa ini. Tulisan ini juga membahas pengaruh mushaf Al-Qur’an cetakan India dan Turki dalam masa awal pencetakan mushaf di Indonesia. Sejumlah penerbit mushaf yang berperan pada masa itu, demikian pula dalam perkembangannya hingga dewasa ini, digambarkan dengan ringkas. Sementara, bagian akhir tulisan ini membahas perkembangan kreatif dalam industri penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
 Kata kunci: mushaf Al-Qur’an, cetakan, Indonesia.

This article outlines the development of the printing of the Qur’an in Indonesia from its advent in the middle of 19th century to the present.  It also traces the influence of printed Qur’ans from India and Turkey on the early period of Qur’anic printing in Indonesia, and gives brief descriptions of some publishers of the Qur’an throughout the period in question. The last section analyses recent creative developments in the Qur’an publishing industry in  Indonesia.
 Key words:  Qur’an, printing, Indonesia.

Kamis, 21 Februari 2013

Koleksi Inggris

Qur'an Nusantara Koleksi Inggris 

Koleksi mushaf Nusantara terbanyak berpusat di kawasan Nusantara sendiri, terutama Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Dalam kepustakaan Eropa, naskah Al-Qur'an tidak terlalu banyak. Masuk akal, karena kajian mereka, sejak abad ke-17 maupun sesudahnya, selalu terfokus pada bahasa dan sastra. Para peminat naskah di Barat pun jauh lebih banyak mengumpulkan naskah-naskah sastra dan sejarah, daripada naskah Al-Qur'an. Menurut Annabel Teh Gallop, Kepala Bagian Asia Tenggara The British Library, London, tidak ada Al-Qur'an Nusantara dalam naskah-naskah Raffles, Mackenzie dan Farquhar pada awal abad ke-19, demikian pula dalam naskah-naskah Wilkinson, Winstedt dan Maxwell pada awal abad ke-20.  
Di seluruh Inggris, sebelum tahun 1995 hanya terdapat 4 buah mushaf Nusantara. British Library hanya menyimpan dua buah Al-Qur'an dari Asia Tenggara, yang diperoleh John Crawfurd selama kekuasaan administratif Inggris di Jawa (1811-1815). Baru sejak tahun 1996 British Library memperoleh sekitar 7 buah mushaf lagi, dua di antaranya dari Aceh. Selain mushaf-mushaf tersebut, ada satu buah fragmen mushaf dalam koleksi William Marsden, dan satu buah mushaf lainnya koleksi Royal Asiatic Society (Arabic No. 4).
Baru-baru ini British Library meng-online-kan secara lengkap sebuah koleksi mushaf Nusantara yang cukup indah, yaitu naskah Or. 15227. Mushaf ini berasal dari Pantai Timur Semenanjung Melayu, yaitu kawasan Patani, Kelantan, dan Terengganu, dari abad ke-19 (lihat http://www.bl.uk/manuscripts/Viewer.aspx?ref=or_15227_f001r).

Senin, 04 Februari 2013

Mushaf Indonesia

"Mushaf Indonesia" Ibnu Sutowo

Pernahkah Anda mendengar "Mushaf Indonesia"? Inilah mushaf (atau "mashaf", begitu dalam Qur'an ini disebut) yang ditulis atas prakarsa Dr Haji Ibnu Sutowo, sekaligus sebagai pemilik naskah asli. Ibnu Sutowo pada tahun 1970-an dikenal sebagai 'raja minyak', dan pendiri Yayasan Pendidikan Al-Qur'an yang menaungi Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) di Jakarta Selatan. 
'Perencana/pelaksana' pembuatan mushaf ini adalah HM Umar Murad, dan ditulis oleh Muhammad Syadzali, kaligrafer yang juga menulis Mushaf Standar Indonesia edisi pertama (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/10/mushaf-al-quran-standar-indonesia.html). Pembuat hiasan bingkai mushaf adalah Azhari Nur dan H Muzammil. Mushaf ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Al-Qur'an dengan bantuan pemerintah Arab Saudi. Mushaf yang dicetak di Percetakan PT Al-Ma'arif Bandung ini "disiarkan dengan cuma-cuma". Mushaf ini menggunakan rasm usmani, dengan sistem 'ayat pojok' yang biasa digunakan oleh para penghafal Qur'an.

Kamis, 24 Januari 2013

Cetakan al-Ma'arif, Pulau Pinang

Mengenal Mushaf al-Qur’an di Malaysia (3)

Mushaf cetakan al-Ma’arif, Pulau Pinang

Di kawasan Asia Tenggara, salah satu pusat produksi mushaf pada pertengahan abad ke-20 adalah Pulau Pinang – selain Singapura, Bukittinggi, Surabaya, Cirebon, Bandung, dan Jakarta. Para penerbit yang biasanya sekaligus sebagai percetakan di beberapa kota itu, pada masanya, merupakan “kepanjangan tangan” dari produksi mushaf Bombay. Boleh dikatakan bahwa pada era itu semua Qur’an yang dicetak di kawasan ini merupakan reproduksi cetakan India, dengan karakter huruf yang ekstra tebal.
Mushaf cetakan Al-Ma’arif Pulau Pinang ini tanpa tarikh produksi, namun berdasarkan ciri fisiknya, kemungkinan dicetak pada pertengahan abad ke-20 atau dasawarsa kemudian. Pada bagian depan mushaf cetakan ini dilengkapi dengan ‘muatan lokal’ berupa ilmu tajwid dalam tulisan Jawi sebanyak 15 halaman. Muatan lokal ini merupakan tambahan oleh percetakan Al-Ma’arif, seperti juga dilakukan oleh para pencetak mushaf lainnya pada zaman itu.
Dewasa ini, mushaf jenis ini tidak digunakan lagi di Malaysia, karena sejak Saudi Arabia melalui Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif mengeluarkan “Mushaf al-Madinah an-Nabawiyah” pada Januari 1985 (Jumadil Awal 1405 H), pemerintah Malaysia (dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri yang berwenang mentashih mushaf) hanya mengesahkan  “Mushaf Saudi” itu untuk penggunaan di Malaysia. Demikian pula dengan pemerintah Brunei Darussalam. Sedangkan pemerintah Indonesia, dengan pertimbangan historis dan luasnya persebaran mushaf Bombay di Nusantara, tetap mengakomodasi mushaf jenis ini, hingga kini, dengan modifikasi tertentu sesuai ‘Mushaf al-Qur’an Standar Indonesia’ (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/quran-bombay-karya-toha-putra-2000.html).
Mushaf ini adalah koleksi Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta.


Rabu, 23 Januari 2013

Mengkaji mushaf

Mengkaji sebuah mushaf dari Iran, abad ke-12


Qur'an dapat dilihat di: http://dla.library.upenn.edu/dla/medren/detail.html?id=MEDREN_5829382
A Project in the History of the Book

The Book
The NEP-27 Qur’an manuscript was purchased by the University of Pennsylvania Museum of Archaeology and Anthropology in 1927.  Since then, its beautiful colophon page has been reproduced in many handbooks on Islamic art. The copy states that it was copied and gilded in Hamadhan, Iran by the scribe (al- kātib) Mahmūd ibn al-Husayn al- Kirmānī in H559/ 1164 CE. Manuscripts that have survived from northwestern Iran of the mid-12th century are very rare, and this one is an important example of Seljuk period book production with the illumination practices continuing from models established in late Abbasid workshops. It is also an interesting case of book ‘restoration’ that must be closely examined as it points to a complex history of usage. 
Mushaf dari Iran, abad ke-12.