Tampilkan postingan dengan label (b) Mushaf Cetakan Awal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (b) Mushaf Cetakan Awal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

Qur'an litograf Singapura, 1870-an

        Seorang kenalan mengirimkan beberapa foto mushaf yang belum lama di tangannya. Saya senang sekali melihat foto itu, karena mushaf litograf (cetak batu) Singapura tersebut merupakan mushaf 'baru' yang belum pernah saya lihat. Itu menambah perbendaharaan pengetahuan kita tentang khazanah mushaf cetakan Singapura.
Halaman awal Surah al-Isra'.

Sabtu, 18 Januari 2020

Johor

Tiga mushaf cetak koleksi Yayasan Warisan Johor

Mushaf Al-Qur’an cetak koleksi Yayasan Warisan Johor merupakan ‘warisan’ dari Masjid Sultan Abu Bakar, masjid kesultanan Johor, yang berlokasi tidak jauh dari Yayasan. “Ketika Qur’an-Qur’an lama yang sudah tidak dipakai lagi akan dibakar, kami selamatkan beberapa yang masih bagus, dan kita simpan di Yayasan ini,” demikian kata Mazlan bin Keling, Penolong Pegawai Tadbir Yayasan (14/1/2020). Untunglah mushaf-mushaf ini bisa diselamatkan, sehingga bisa mengisi mata rantai sejarah penggunaan mushaf di Johor—atau Malaysia secara lebih luas. Mushaf-mushaf lainnya telah musnah menjadi abu.
 Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru.

Sabtu, 07 Desember 2019

Singapura

Mushaf di Masjid Sultan Singapura

Jika Anda memegang kamera dan menemui sesuatu yang Anda anggap penting, sebaiknya langsung dijepret! Bisa jadi, itu satu-satunya kesempatan, dan tidak ada kesempatan kedua! Hehe... Dan saya merasa beruntung, pada awal bulan Maret 2019 lalu ketika berkunjung ke Masjid Sultan Singapura sempat memotret beberapa mushaf lama yang ada di masjid terkenal ini. Nah, awal November 2019, ketika saya berkunjung lagi ke masjid ini, mushaf-mushaf tersebut sudah tidak ada lagi, entah di mana. Namanya mushaf tua, kapan saja bisa dipindahkan, bahkan, kapan saja bisa dimusnahkan... 
Dalam bahasa Jawa ada istilah "Qur'an amoh (rusak)". Kata-kata ini juga kadang digunakan untuk menyebut sesuatu yang tidak ada manfaatnya lagi, tapi membuangnya adalah mustahil. Tidak bisa digunakan lagi, karena sudah rusak, tapi menjaganya juga 'sia-sia', akan membuang waktu dan tenaga ... 
Oleh karena itu, jadi masuk akal, Qur'an amoh itu biasanya dibakar! Ini cara yang paling lazim untuk memusnahkan benda mulia yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Kita sering mendengar santri atau pengurus masjid bercerita pengalamannya membakar Qur'an yang sudah usang. Jadi, Qur'an tua yang masih bisa kita saksikan sekarang adalah sesuatu yang istimewa: itulah Qur'an yang 'selamat'!
Baik, inilah beberapa mushaf tua yang pernah menghiasi rak dan digunakan di Masjid Sultan Singapura. Siapa tahu bisa digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
Masjid Sultan dan kawasan Kampung Gelam dilihat dari Village Bugis Hotel.

Minggu, 28 Agustus 2016

Karakter tulisan

Jangan langsung percaya! (11)

        Meneliti Qur’an cetakan—sebenarnya begitu juga manuskrip—jangan mudah percaya... Sebuah mushaf yang mungkin dicetak oleh Mustafa al-Babi al-Halabi, Mesir—kita pun tidak tahu, apakah ini cetakan ulang oleh penerbit lain atau bukan—mencantumkan pada kolofon di bagian akhir mushaf bahwa mushaf tersebut selesai ditulis oleh Hafiz Usman pada 1299 H (1881). Itu jelas mustahil, karena kaligrafer jenius Turki Usmani itu hidup pada abad ke-17 (1642-1698) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.co.id/2016/08/hafiz-usman.html)!
Nah, kita perlu mempertimbangkan karakter tulisan. Tampak bahwa angka tahun '1299' di bagian bawah kolofon itu ditambahkan oleh orang berbeda, dan pada masa yang berbeda. Karakter tulisannya tidak sama dan tampak begitu sederhana, tidak sesuai kaidah kaligrafi standar. Seorang kaligrafer hebat pasti tidak akan menulis angka '2' dalam bentuk yang biasanya digunakan dalam tulisan sehari-hari.
Kolofon di akhir mushaf.

Goresan angka '2' yang 'tidak standar'.

Jumat, 05 Agustus 2016

Tradisi Mushaf NTB

Antara Keraton dan Masyarakat
Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat. 
Katalog.

Senin, 11 Mei 2015

Pengaruh Qur'an Turki Usmani di Asia Tenggara

Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmani di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
        Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmani (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Turki Usmani dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmani yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
        Pdf artikel bisa diunduh di: https://www.academia.edu/10791780/The_influence_of_Ottoman_Qur_ans_in_Southeast_Asia_through_the_ages

Sampul buku.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Mencetak Qur'an

Berapa lamakah mencetak Qur’an pada masa lampau?

Kita patut bersyukur bahwa dari kolofon (catatan naskah) Qur’an cetakan tertua di Indonesia—dan juga di Asia Tenggara—kita bisa memperoleh informasi tentang jumlah cetak dan lama mencetak Qur'an pada zaman dahulu. Berapa lamakah?
Kolofon di akhir Qur'an dalam tulisan Jawi (Arab-Melayu).

Jumat, 06 Desember 2013

Lagi, Qur'an kecil

Lagi, dua Qur’an kecil

Rupanya, artikel singkat tentang Qur'an mini (http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/quran-kecil.html) memperoleh perhatian yang cukup luas dari khalayak pembaca. Banyak orang 'penasaran' dengan mushaf kecil. Nah, berikut adalah dua Qur’an kecil koleksi baru Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal yang merupakan sumbangan Ibu Siti Rofiqoh, Bogor, dan Ibu Yusi Herawati, Depok. 
Qur’an yang sering disebut “Qur’an Istanbul” atau “Stambul” ini, yang pertama berukuran 1,8 x 2,7 cm. Setiap halaman terdiri atas 12 baris. Naskah asli Qur'an ini ditulis oleh kaligrafer kenamaan Turki Usmani abad ke-17, Hafiz Usman (1642-1698), selesai pada pertengahan Rabiul Awal 1094 H (Maret 1683). Tidak ada keterangan kapan mushaf ini dicetak, karena bagian akhir mushaf mini ini telah hilang. Namun, diperkirakan, dicetak pada abad ke-20.
Mushaf kecil, cetakan, ukuran 1,8 x 2,7 cm.

Jumat, 29 November 2013

Cetakan litografi

Jangan langsung percaya! (5)

Jangan percaya kepada pengurus masjid! Haha…, maaf, maaf, ini terkait dengan keterangan tentang suatu Qur’an cetakan. Pernah, seorang peneliti Qur’an menulis laporan penelitian demikian panjang, dan mengajukannya untuk dimuat di sebuah jurnal, namun dia keliru mengidentifikasi Qur’an cetakan sebagai manuskrip (tulisan tangan)! Ia menyatakan bahwa naskah yang ditelitinya itu sebagai tulisan tangan, padahal merupakan cetakan litografi. Nah, kekeliruan itu bersumber dari keterangan pengurus masjid yang ‘ditelan mentah’. Maka sekali lagi, janganlah langsung percaya!

Cetakan litografi yang 'lentur' sebagaimana tulisan tangan biasa: 
Qur'an cetakan Muhammad Azhari, Palembang, 1848.

Senin, 01 April 2013

Belum diketahui

Qur’an cetakan awal yang belum diketahui asal-usulnya

Asal-usul Qur’an cetakan awal (early printed Qur’an) yang beredar di Asia Tenggara pada paruh akhir abad ke-19, berdasarkan temuan hingga kini, tidaklah banyak. Pusat-pusat percetakan yang diketahui, yaitu Palembang, Singapura, Bombay, serta Turki. Di antara mushaf tersebut, yang paling tua, dicetak di Palembang pada 1848 dan 1854 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-palembang-1848-mushaf.html dan http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Cetakan lainnya, yang beredar luas di kepulauan Nusantara pada akhir abad ke-19 adalah cetakan Singapura (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/mushaf-cetakan-singapura.html) dan cetakan Bombay, India (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-india-koleksi-kms.html#more). Banyak di antara mushaf-mushaf tersebut yang memiliki kolofon (catatan naskah) di bagian belakang mushaf, sehingga tidak ada keraguan tentang asal-usul cetakannya.
Salah satu cetakan yang belum diketahui asal-usulnya adalah mushaf berhuruf tebal yang dari beberapa segi cukup ‘asing’ (lihat gambar). Mushaf tersebut terdiri atas 10 jilid, masing-masing jilid berisi 3 juz. Setiap halaman hanya terdiri atas tujuh baris, suatu hal yang bisa dikatakan tidak pernah ditemui dalam tradisi penyalinan mushaf di Asia Tenggara. Mushaf ini diketahui di tiga tempat, pertama di Masjid Agung Surakarta (10 jilid), Pontianak (satu jilid), dan milik seseorang di Tangerang (10 jilid). Mushaf ini tampaknya tidak beredar luas seperti halnya cetakan Singapura dan Bombay.
Awal Surah Maryam.

Sabtu, 23 Februari 2013

Pencetakan Qur'an

Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Suhuf, Vol.4 No.2, 2011, hlm. 271-287. File pdf bisa diunduh di http://academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia. Untuk pengutipan, sebaiknya mengacu pada terbitan di Jurnal Suhuf itu.

Ali Akbar
Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta

Tulisan ini menguraikan perkembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak masa awal pertumbuhannya pada pertengahan abad ke-19 hingga dewasa ini. Tulisan ini juga membahas pengaruh mushaf Al-Qur’an cetakan India dan Turki dalam masa awal pencetakan mushaf di Indonesia. Sejumlah penerbit mushaf yang berperan pada masa itu, demikian pula dalam perkembangannya hingga dewasa ini, digambarkan dengan ringkas. Sementara, bagian akhir tulisan ini membahas perkembangan kreatif dalam industri penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
 Kata kunci: mushaf Al-Qur’an, cetakan, Indonesia.

This article outlines the development of the printing of the Qur’an in Indonesia from its advent in the middle of 19th century to the present.  It also traces the influence of printed Qur’ans from India and Turkey on the early period of Qur’anic printing in Indonesia, and gives brief descriptions of some publishers of the Qur’an throughout the period in question. The last section analyses recent creative developments in the Qur’an publishing industry in  Indonesia.
 Key words:  Qur’an, printing, Indonesia.

Selasa, 11 Desember 2012

Qur'an Kecil, "Qur'an Istanbul"

Banyak orang bertanya-tanya tentang Qur'an kecil, mini, yang umumnya mereka warisi dari keluarganya. Qur'an kecil itu biasanya disebut "Qur'an Istanbul", "Istambul", atau "Stambul". Dua hal yang umumnya menjadi pertanyaan, yaitu apakah itu tulis tangan atau cetakan, dan kapan Qur'an ini dibuat. Untuk pertanyaan pertama, Qur'an kecil seperti itu (hampir) bisa dipastikan adalah cetakan, bukan tulis tangan. Dan karena dahulu umumnya dicetak di Istanbul, maka nama kota itu melekat menjadi sebutan, "Qur'an Istanbul". 
Gambar 1. Qur'an kecil cetakan Istanbul.

Senin, 17 September 2012

Qur'an cetakan Singapura, 1868

Qur’an cetakan Singapura ini selesai disalin pada 1 Syawal 1284 H (26 Januari 1868). Mushaf ini terdapat di sebuah toko benda antik di kawasan Ciputat, Tangerang, Jawa Barat (2011). Kolofon di akhir mushaf berbunyi:

Qad tammat hāzihi [sic!] al-Qur’ān al-‘azīm fī 1 min syahri Syawwāl hijrat an-Nabī salla Allāhu ‘alaihi wa sallam sanat 1284 ‘alā yadi al-faqīr ad-da‘īf ilā maulāhu al-ganiyy Haj Muhammad bin al-marhūm Sulaimān Sumbāwī ma‘a sāhib al-Qur’ān asy-Syaikh Muhammad ‘Alī bin Mustafā ... Jawa Purbalingga qaryat makan c-h-y-a-n tubi‘a fi Bandar Singapura qudum Masjid Sultān ‘Alī bin Maulānā as-Sultān Husain Iskandar gafara Allāhu lahum al-khatā’ wa an-nisyān wa li-wālidaihim wa li-jamī‘i al-muslimīn. Āmīn yā Rabb al-‘ālamīn, la‘alla ... al-Qur’ān fa-yazīdukum man qara’ahā, tammat, wallāhu a‘lam bi as-sawāb.

Selasa, 31 Juli 2012

Koleksi Qur'an di Australia

Di bawah ini sejumlah Qur'an - umumnya berciri Jawa - milik seorang kolektor naskah dan benda seni di Adelaide, Australia Selatan. Dia memiliki sekurangnya 50 naskah, 23 di antaranya Qur'an. Sebagiannya adalah cetakan India dan Singapura yang dahulu beredar di kawasan Nusantara pada paruh kedua abad ke-19. Pemiliknya membeli naskah-naskah ini di Bali. 
        Catatan perjalanannya dapat dibaca di: https://quran-nusantara.blogspot.com/2014/01/perjalanan-ke-adelaide-1.html


Sabtu, 28 April 2012

Mushaf Bahriyah

Mushaf Bahriyah, cetakan Turki, 1910-1911

Dalam penelusuran di Istanbul, Turki, Mushaf Al-Qur’an Bahriyah terdapat dalam koleksi Beyazit Devlet Kutuphanesi, sebuah perpustakaan pemerintah, dengan nomor koleksi V 4119 M. Mushaf tersebut berukuran agak kecil, yaitu 17,5 x 10,5 dengan ketebalan 3 cm. Cover mushaf berwarna coklat dengan hiasan berbentuk segi empat dan motif floral yang dicapkan pada permukaan cover dengan teknik blind stamping (cap tanpa tinta).

Cetakan Turki 1881

Mushaf Cetakan Turki, 1881

Mushaf ini dicetak di Matba'ah Usmaniyah, Sya'ban 1298 H (Juni/Juli 1881). Sumber Turki menjelaskan bahwa pemerintah Turki Usmaniyah pada akhir abad ke-19 pernah mengirim ratusan Qur'an ke kawasan Asia Tenggara - diduga kuat (untuk tidak mengatakan pasti) adalah mushaf cetakan ini. Mushaf ini adalah milik sebuah keluarga di Wajo, Sulawesi Selatan.

Artikel terkait:
"Sejak kapaankah penomoran ayat dalam mushaf al-Qur'an?" http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/nomor-ayat-dalam-quran.html
Kulit mushaf (kiri).

Mushaf cetakan tertua di Nusantara, 1848

        Sejauh yang diketahui hingga sekarang, Al-Qur'an cetakan tertua di Indonesia—dan juga di Asia Tenggara—adalah cetakan Palembang, yang selesai dicetak pada hari Senin, 21 Ramadan 1264 H (21 Agustus 1848 M). Mushaf cetakan tertua ini adalah milik H. Abd Azim Amin, M.Hum, Kampung Tiga Ulu, Palembang, yang mewarisi mushaf tersebut dari pencetaknya sendiri.
        Mushaf ini ditulis oleh Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah, dicetak oleh Ibrahim bin Husin asal Singapura, di percetakan milik Haji Muhammad Azhari sendiri. Ukuran naskah 30 x 20 x 3 cm, bidang tulis 21 x 13 cm, tebal 607 + 2 halaman kolofon. Kertas tipis putih halus, tidak ada watermark; tidak ada kulit/sampul, pinggir jilidan disepuh emas; setiap juz terdiri atas 20 halaman; tanda ayat berupa lingkaran hitam, sebagian dibubuhi emas; masing-masing juz dibagi dalam nisf; setiap juz dan nisf ditandai dengan hiasan di bagian kanan dan kiri; tulisan juz di dalam lingkaran dari juz 1-10 merupakaan tulisan baru; variasi hiasan awal juz dan nisf, di kiri dan kanan halaman, selalu berbeda, menunjukkan kekayaan motif dan keterampilan yang memadai; di bagian atas terdapat nama surah kecil, dan di bagian bawah terdapat angka halaman (ini merupakan sesuatu yang baru); catatan qira’at terutama di bagian awal al-Qur’an merupakan catatan baru, bukan asli cetakan; halaman awal Surah al-Kahf kotor bekas tangan – dan lebih kotor lagi adalah awal Surah Yasin, bahkan jilidan dan satu lembar halaman awal lepas – menunjukkan bahwa kedua surah ini pada masa lalu sering dibaca.
Halaman luminasi awal mushaf.

Kamis, 26 April 2012

Qur'an Cetakan Awal

Mushaf Cetakan India
(Koleksi pribadi, Palembang)

Di Nusantara, Qur’an cetakan India ditemukan di berbagai tempat, yaitu Kerinci, Palembang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lombok, Bima, Pulau Penyengat, Maluku, hingga Filipina Selatan. Qur’an cetakan tersebut kini merupakan koleksi pribadi, masjid, pesantren, dan museum, baik di dalam maupun luar negeri. Ada beberapa model cetakan yang ditemukan, menunjukkan bahwa industri pencetakan Qur’an (di samping naskah keagamaan lainnya) di India pada masa itu berlangsung cukup ramai, karena melibatkan beberapa nama percetakan. Perdagangan Qur’an India di Nusantara pun berlangsung lama, sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 – sementara pengaruhnya, jangan lupa, masih terasa hingga sekarang.  
Di bawah ini sebuah contoh cetakan India, akhir abad ke-19. 

Rabu, 18 April 2012

Mushaf cetakan Singapura

Bali
Masjid Agung Jami' Singaraja

Kolofon sebuah mushaf cetakan Singapura tahun 1869 berbunyi: 
Qad hasala al-firāgh min tahrīri hāzā al-Qur’ān al-Majīd bi-fadlillāhi al-Qādir bi-yadi aqalli al-kuttāb Muhammad Hanafi bin as-Sulaimān as-Sumbāwī fī awā’il asy-syahr min Sya‘bān fī yaum al-Isnain al-mubārak fī hilāl s-l-s sanat 1286 sitt wa samānīn wa mi’atain ba‘da al-alif min hijrat al-muqaddasah an-nabawiyyah lisy-Syaikh Muhammad ‘Alī bin al-Marhūm al-Mustafā min bilād Purbalinqa (f-r-b-l-n-q-a) fī qaryat as-Sirr an-Nūr wa natba‘ [?] fī matba‘at al-Amān fī bilād as-Sinqāpūr fī az-zamān ad-daulat as-Sultān ‘Alī bin al-Marhūm as-Sultān Husain Iskandar Syāh ghafarallāhu lī wa lakum wa li-sāhibi at-tab‘i al-ikhwān al-masāni' minal-muslimīn wal-mu’minīn ajma’īn. Āmīn.
Halaman iluminasi awal mushaf.

Senin, 16 April 2012

Qur'an Cetakan Palembang, 1854

Kolofon Qur'an cetakan Palembang (berada di Masjid Dog Jumeneng, kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon) ini berbunyi:

    Telah selesailah daripada menyurat Qur’an al-Azim ini pada hari Isnain empat belas hari bulan Zilqa’dah itungan ahadiyah daripada hijrah Nabi sallallahu alaihi wa sallam seribu dua ratus tujuh puluh [7 Agustus 1854] betul di dalam negeri Palembang di Kampung Pedatu'an dengan suratan faqir al-haqir al-mu’tarif biz-zanb wat-taqsir Kemas Haji Muhammad Azhari ibn Kemas Haji Abdullah ibn Kemas Haji Ahmad ibn Kemas Haji Abdullah ibn Mas Nuruddin ibn Mas Syahid ghafarallahu li wa lahum wa li-jami’il-muslimin. Amin.

 Catatan kolofon di bagian akhir mushaf.