Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Turki. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2015

Pengaruh Qur'an Turki Usmani di Asia Tenggara

Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmani di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
        Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmani (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Turki Usmani dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmani yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
        Pdf artikel bisa diunduh di: https://www.academia.edu/10791780/The_influence_of_Ottoman_Qur_ans_in_Southeast_Asia_through_the_ages

Sampul buku.

Rabu, 25 Juni 2014

Mustafa Nazif

Penulis “Qur’an Kudus”

Melalui perbadingan tulisan, dapat dipastikan bahwa penulis "Qur'an Kudus" adalah Mustafa Nazif (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html). Namun, siapa dia? Dalam literatur kaligrafi Turki saya menemukan ada tiga nama "Nazif", yaitu Mustafa Nazif, Haji Nazif Bey (1846-1913), dan Mehmed Nazif . Pertanyaannya, apakah tiga nama Nazif itu sebenarnya satu orang, atau masing-masing berbeda?  Penasaran dengan teka-teki itu, saya bertanya kepada Prof. M. Ugur Derman, sejarawan kaligrafi Turki terpandang saat ini. 
Kolofon di akhir Qur'an yang menyatakan bahwa penulisnya adalah Mustafa Nazif.

Jumat, 06 Desember 2013

Lagi, Qur'an kecil

Lagi, dua Qur’an kecil

Rupanya, artikel singkat tentang Qur'an mini (http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/quran-kecil.html) memperoleh perhatian yang cukup luas dari khalayak pembaca. Banyak orang 'penasaran' dengan mushaf kecil. Nah, berikut adalah dua Qur’an kecil koleksi baru Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal yang merupakan sumbangan Ibu Siti Rofiqoh, Bogor, dan Ibu Yusi Herawati, Depok. 
Qur’an yang sering disebut “Qur’an Istanbul” atau “Stambul” ini, yang pertama berukuran 1,8 x 2,7 cm. Setiap halaman terdiri atas 12 baris. Naskah asli Qur'an ini ditulis oleh kaligrafer kenamaan Turki Usmani abad ke-17, Hafiz Usman (1642-1698), selesai pada pertengahan Rabiul Awal 1094 H (Maret 1683). Tidak ada keterangan kapan mushaf ini dicetak, karena bagian akhir mushaf mini ini telah hilang. Namun, diperkirakan, dicetak pada abad ke-20.
Mushaf kecil, cetakan, ukuran 1,8 x 2,7 cm.

Rabu, 20 Maret 2013

Qur'an Kudus (2): Qur'an dari Turki

Sejak awal kemunculan “Qur’an Pojok” (sebutan untuk mushaf yang setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat) di Turki pada akhir abad ke-16, mushaf jenis ini terkait erat dengan para penghafal Al-Qur’an. Setiap halaman yang diakhiri dengan akhir ayat sangat memudahkan para penghafal dalam mempelajari tahap-tahap hafalan.
    Dalam sejarahnya, di Turki, “Qur’an Pojok” (dalam bahasa Turki disebut āyet ber-kenār) paling tua adalah sebuah mushaf bertahun 1598, dengan 14 baris tulisan (Derman 2010: 103). Pada awalnya, jumlah baris setiap halaman bervariasi, namun sejak paruh kedua abad ke-18 mushaf jenis ini selalu terdiri atas 15 baris, dan ini menjadi standar sampai berakhirnya penyalinan naskah mushaf secara manual pada akhir abad ke-19 (Stanley 2004: 59).
    Selama beberapa dasawarsa sejak awal tahun 1930-an, produksi mushaf di Indonesia didominasi oleh cetak ulang “Qur’an Bombay” yang berciri huruf tebal. Keadaan itu berlangsung hingga tahun 1970-an, ketika Penerbit Menara Kudus mulai mencetak “Qur’an Sudut” (nama lain model ini) untuk memenuhi kebutuhan para santri yang belajar menghafal Al-Qur’an. 
"Qur'an pojok" cetakan Turki: halaman Surah al-Kahf.

Sabtu, 05 Januari 2013

99 naskah Qur'an dari Istanbul

Qur'an-Qur'an indah dari Istanbul

Buku berjudul Ninety-Nine Qur'an Manuscripts from Istanbul ini adalah karya M Ugur Derman, seorang profesor, dahulu kaligrafer, dan kini telah menulis beberapa buku tentang sejarah dan hal-hal lain terkait dunia kaligrafi Islam. Buku yang bisa dibilang mewah ini merupakan 'buku projek' yang penerbitannya didukung oleh 'Istanbul 2010 European Capital of Culture Agency' dan 'Turkpetrol Vakfi', terbit Desember 2010. Sayangnya, buku setebal 422 halaman ini dicetak terbatas dan tidak beredar di pasaran luas. Namun buku ini bisa dibeli di kantor Turkpetrol Vakfi, seharga, seingat saya, 170 TL (1 TL = ± 6000 rp). (Saya merasa beruntung sempat membelinya. Sebenarnya sempat mikir-mikir juga waktu mau membeli, tapi karena "kalau tidak sekarang maka tidak akan pernah", akhirnya saya beli.)
Buku ini diawali dengan pendahuluan berjudul 'Concerning the ninety-nine Qur'an manuscripts from Istanbul' yang berisi uraian singkat tentang pena, pisau penajam pena, kertas, tinta, dan kekhasan naskah-naskah Qur'an. Bab selanjutnya adalah 'Catalogue' yang merupakan pokok buku ini, yaitu kumpulan 99 karya masterpiece Qur'an dari para kaligrafer 'top-markotop' (bahasa apa ini?) Turki Usmani. Mushaf-mushaf indah itu adalah karya 88 kaligrafer selama lima abad, dimulai dari karya Syeikh Hamdullah (1429-1520) yang bergelar ra'is al-khattatin, hingga Hasan Riza Efendi (1849-1920). Di bagian akhir buku dilengkapi dengan daftar bibliografi, 'the artistic genealogies', dan indeks.

Selasa, 11 Desember 2012

Qur'an Kecil, "Qur'an Istanbul"

Banyak orang bertanya-tanya tentang Qur'an kecil, mini, yang umumnya mereka warisi dari keluarganya. Qur'an kecil itu biasanya disebut "Qur'an Istanbul", "Istambul", atau "Stambul". Dua hal yang umumnya menjadi pertanyaan, yaitu apakah itu tulis tangan atau cetakan, dan kapan Qur'an ini dibuat. Untuk pertanyaan pertama, Qur'an kecil seperti itu (hampir) bisa dipastikan adalah cetakan, bukan tulis tangan. Dan karena dahulu umumnya dicetak di Istanbul, maka nama kota itu melekat menjadi sebutan, "Qur'an Istanbul". 
Gambar 1. Qur'an kecil cetakan Istanbul.

Selasa, 25 September 2012

Istanbul dalam foto

Istanbul dalam foto

Catatan perjalanan kali ini bukan berupa catatan tertulis, tetapi berupa foto. Orang bilang, foto dapat berbicara lebih banyak daripada seribu kata-kata.
Museum Aya Sofia. Sebelumnya merupakan gereja, lalu masjid.

Foto dalam beberapa album ini dibuat di sela-sela perjalanan penelitian tentang pengaruh Qur'an Turki Usmani di Asia Tenggara, atas dukungan British Institute at Ankara (BIAA) - British Academy. Mohon maaf kebanyakan foto belum diberi keterangan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Dr Andrew Peacock dan Dr Annabel Teh Gallop, pimpinan proyek "Islam, Trade, and Politics across the Indian Ocean" <http://www.ottomansoutheastasia.org/> yang memberi jalan buat saya menuju kota tua itu. 
Karena alasan kemudahan pemuatan, foto-foto itu saya muat di jaringan facebook, dalam 16 album. Semoga ada manfaatnya. 

Sabtu, 28 April 2012

Mushaf Bahriyah

Mushaf Bahriyah, cetakan Turki, 1910-1911

Dalam penelusuran di Istanbul, Turki, Mushaf Al-Qur’an Bahriyah terdapat dalam koleksi Beyazit Devlet Kutuphanesi, sebuah perpustakaan pemerintah, dengan nomor koleksi V 4119 M. Mushaf tersebut berukuran agak kecil, yaitu 17,5 x 10,5 dengan ketebalan 3 cm. Cover mushaf berwarna coklat dengan hiasan berbentuk segi empat dan motif floral yang dicapkan pada permukaan cover dengan teknik blind stamping (cap tanpa tinta).

Cetakan Turki 1881

Mushaf Cetakan Turki, 1881

Mushaf ini dicetak di Matba'ah Usmaniyah, Sya'ban 1298 H (Juni/Juli 1881). Sumber Turki menjelaskan bahwa pemerintah Turki Usmaniyah pada akhir abad ke-19 pernah mengirim ratusan Qur'an ke kawasan Asia Tenggara - diduga kuat (untuk tidak mengatakan pasti) adalah mushaf cetakan ini. Mushaf ini adalah milik sebuah keluarga di Wajo, Sulawesi Selatan.

Artikel terkait:
"Sejak kapaankah penomoran ayat dalam mushaf al-Qur'an?" http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/nomor-ayat-dalam-quran.html
Kulit mushaf (kiri).

Sabtu, 14 April 2012

Catatan dari Istanbul (1)

Mengunjungi “Turkish and Islamic Art Museum”, Istanbul

[Tulisan ini dimuat di Harian Repubika, Ahad, 25 September 2011, berjudul "Turkish and Islamic Art Museum, Istanbul". Perjalanan ke Istanbul ini disponsori oleh British Institute at Ankara (BIAA) - British Academy dan ASEASUK dalam rangka penelitian pengaruh Qur'an Turki Usmaniyah di Nusantara, yang merupakan bagian dari proyek yang mendalami hubungan Turki-Nusantara <http://www.ottomansoutheastasia.org/>. Terima kasih kepada Dr Andrew Peacock, Dr Annabel Teh Gallop, dan Dr Ismail Hakki Kadi yang memberikan jalan dan kemudahan untuk penelitian di Istanbul, 26 Juli - 6 Agustus 2011] 

SENIN, 25 Juli 2011, pukul 19.30 malam, pesawat Turkish Air yang saya tumpangi berangkat dari Jakarta, menuju Singapura untuk transit. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Penumpang dari Jakarta hanya sedikit, dan banyak sekali kursi kosong. Transit di Singapura selama sekitar satu jam, kemudian pesawat melanjutkan perjalanan panjangnya menuju Istanbul.
Pintu gerbang Istana Topkapi, Istanbul.

Kamis, 12 April 2012

Mushaf Bahriyah (Turki)

Dalam perbincangan tentang mushaf al-Qur'an di Indonesia, lebih khususnya mengenai "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia", istilah "Mushaf Bahriyah" akan sering disebut, karena masuk dalam salah satu 'jenis' Qur'an yang distandarkan di Indonesia (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_26.html). Meskipun demikian, banyak orang bertanya-tanya, seperti apakah sesungguhnya 'Mushaf Bahriyah' itu?