Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

Berapa lamakah menyalin Qur’an pada masa lampau?

Tidak seperti zaman sekarang, hingga akhir abad ke-19 kebanyakan Qur’an disalin dengan tangan. Memang, sejak pertengahan abad ke-19 telah muncul pencetakan mushaf dengan teknik litografi (cetak batu), namun produksinya sangat terbatas, dan pencetakan dalam skala besar baru terjadi pada awal abad ke-20 seiring dengan kemajuan teknologi percetakan (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/pencetakan-quran.html). Muncul pertanyaan, berapa lamakah menyalin sebuah mushaf pada masa lampau?
Kolofon "Kanjeng Kiai Qur'an" dalam huruf pegon (Arab-Jawa).

Senin, 18 Maret 2013

Foto mengaji

Tiga foto dari KITLV

"Seorang pembaca al-Quran dan peminum teh di Yogyakarta", lebih kurang tahun 1880. 
Ada sebilah keris di atas bantal. Foto dibuat oleh Kassian Cephas, fotografer istana Yogyakarta, dan dikenal sebagai perintis fotografi Indonesia.

"Dokter mata J. Tijssen yang sudah mengoperasi mata orang Aceh sehingga bisa membaca al-Qur'an". Tahun 1932. 
Melihat foto ini, baru ingat lagi bahwa dahulu anak-anak itu memang telanjang jika bermain sehari-hari! Hingga pertengahan dasawarsa 1970-an, ketika saya kecil, di kampung saya di Purworejo, Jawa Tengah, masih terjadi.

Foto ini sangat terkenal: anak-anak mengaji di serambi sebuah langgar di Jawa, ±1910. 
Di latar depan terlihat beberapa pasang teklek yang hingga tahun 1970-an masih dipakai, sebelum "zaman plastik" masuk pedesaan Indonesia. Sejak itu, alas kaki dari kayu digantikan dengan sandal jepit yang beralas empuk, ringan, dan tidak membuat pegal jari kaki... 
Langgar biasanya terdiri atas dua ruangan. Ruang dalam khusus untuk salat, sedangkan ruang luar (serambi), yang biasanya letaknya lebih rendah, digunakan untuk mengaji atau mengobrol usai salat. Langgar biasanya berupa bangunan panggung dan beralas plupuh (batang bambu yang dicacah), atau papan kayu untuk langgar yang lebih 'mewah'. 

Kamis, 27 September 2012

Mushaf Keraton Yogyakarta

Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: 
Melestarikan Tradisi Penyalinan Qur'an

Untuk melestarikan tradisi penyalian Qur’an di istana, Keraton Yogyakarta pada tahun 2011 menerbitkan “Mushaf Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” yang ditandatangani resmi oleh Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 20 Mei 2011. Dapat dikatakan bahwa Keraton Kesultanan Yogyakarta dalam hal ini merupakan perintis, karena kesultanan lain tampaknya belum ada yang mengawali untuk meneruskan kembali tradisi penyalinan Qur’an di istana. Kaligrafi teks ayat dimodifikasi dari Mushaf Madinah karya Usman Taha. Mushaf ini dicetak oleh Lembaga Percetakan Al-Qur'an (LPQ), Kementerian Agama RI. 
 Iluminasi awal mushaf: Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah.

Kanjeng Kiai Qur'an: Pusaka Keraton Yogyakarta

Salah satu Qur’an indah dari kesultanan Nusantara adalah “Kanjeng Kiai Qur’an”, salah satu pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Gambar 1). Qur’an ini berukuran 40 x 28 cm, tebal 575 halaman, saat ini disimpan di Perpustakaan Widya Budaya, di lingkungan Keraton Yogyakarta. Naskah Qur’an ini sangat istimewa, karena setiap halaman beriluminasi nan indah. Iluminasi lebih istimewa terdapat di bagian awal, tengah dan akhir Qur’an. “Kanjeng Kiai Qur’an” pada awalnya adalah milik Kanjeng Gusti Raden Ayu Sekar Kedhaton, putri Sultan Hamengkubuwana II (1772-1828), yang diajari mengaji oleh gurunya, Haji Mahmud, seorang abdi dalem.
Gambar 1. Halaman iluminasi awal “Kanjeng Kiai Qur’an”,
koleksi Museum Keraton Yogyakarta. [Foto: LPQ].