Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2020

Watermark, Asal, dan Usia Naskah


Cap kertas "Three Crescents".
Untuk mengkaji suatu naskah, asal dan usia-nya perlu diketahui terlebih dahulu, atau sekurang-kurangnya diperkirakan, sebelum mengkaji aspek lainnya secara teliti. Sebab, suatu naskah atau teks tentu saja tidak jatuh begitu saja dari langit. Naskah disalin pasti dalam ruang dan waktu historis tertentu – dalam konteks tertentu. Persoalannya, naskah-naskah Nusantara kebanyakan tidak memiliki kolofon (catatan naskah) – entah karena memang tidak ditulis oleh penyalinnya, atau karena naskahnya rusak dimakan waktu. Oleh karena itu, perlu dicari berbagai cara untuk mengetahui asal dan usia naskah. Tentu saja banyak cara untuk mengenali asal dan usia naskah, seperti dari bahasa (ini yang paling mudah!), bahan, tulisan, jilidan, iluminasi, dan lain-lain, tergantung ketersediaan informasi yang ada pada naskah yang dikaji. Karena mushaf Qur’an dalam bahasa Arab, pengkaji mushaf sering menjumpai kesulitan untuk mengidentifikasi asal dan usia mushaf. Nah, satu aspek lain yang bisa ditambahkan dalam hal ini adalah kertas.

Rabu, 18 April 2012

Mushaf cetakan Singapura

Bali
Masjid Agung Jami' Singaraja

Kolofon sebuah mushaf cetakan Singapura tahun 1869 berbunyi: 
Qad hasala al-firāgh min tahrīri hāzā al-Qur’ān al-Majīd bi-fadlillāhi al-Qādir bi-yadi aqalli al-kuttāb Muhammad Hanafi bin as-Sulaimān as-Sumbāwī fī awā’il asy-syahr min Sya‘bān fī yaum al-Isnain al-mubārak fī hilāl s-l-s sanat 1286 sitt wa samānīn wa mi’atain ba‘da al-alif min hijrat al-muqaddasah an-nabawiyyah lisy-Syaikh Muhammad ‘Alī bin al-Marhūm al-Mustafā min bilād Purbalinqa (f-r-b-l-n-q-a) fī qaryat as-Sirr an-Nūr wa natba‘ [?] fī matba‘at al-Amān fī bilād as-Sinqāpūr fī az-zamān ad-daulat as-Sultān ‘Alī bin al-Marhūm as-Sultān Husain Iskandar Syāh ghafarallāhu lī wa lakum wa li-sāhibi at-tab‘i al-ikhwān al-masāni' minal-muslimīn wal-mu’minīn ajma’īn. Āmīn.
Halaman iluminasi awal mushaf.
Bali
[Koleksi: Masjid Baitul Qadim, Loloan, Negara]


 

Senin, 16 April 2012

Qur'an tertua di Indonesia

Sejauh yang diketahui hingga sekarang, mushaf Al-Qur'an tertua yang kini terdapat di Indonesia adalah sebuah mushaf yang selesai ditulis pada hari Kamis, 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). Penulisnya, seperti yang tercantum pada kolofon di akhir mushaf, adalah Abd as-Sufi ad-Din. Ukuran mushaf 25 x 17 x 6,5 cm, jumlah 769 halaman, kertas dluwang (kulit kayu). Mushaf tersebut adalah milik Bapak Muhammad Zen Usman, Singaraja, Bali. Sebuah mushaf tertua lainnya, diperoleh tahun 1606 di Johor (sekarang Malaysia), kini terdapat di negeri Belanda.
Iluminasi awal mushaf. Penggunaan motif geometris seperti ini sangat langka dalam mushaf-mushaf kuno Nusantara.