Qur'an kuno Nusantara pada umumnya - sekitar 90%(?) - ditulis di atas kertas yang diimpor dari Eropa. Oleh karena itu, biasanya disebut "kertas Eropa", yang mencakup asal kertas dari Belanda, Inggris, Italia, dan mungkin sedikit Prancis. Namun sebagian Qur'an - juga naskah-naskah keagamaan lainnya - terutama di Jawa, Madura, dan Lombok, ditulis di atas dluwang (kertas tradisional dari kulit kayu). Masyarakat yang tidak mudah memperoleh akses kertas Eropa, seperti lingkungan pesantren, menyalin mushafnya dengan dluwang yang mereka produksi sendiri.
Berikut adalah foto-foto proses pembuatan dluwang (Sunda: daluang).
Blog untuk kajian sejarah dan seni mushaf al-Qur'an di Asia Tenggara. Semua foto dibuat oleh penulis, kecuali disebut sumbernya. Terbit sejak 2012.
Tampilkan postingan dengan label -Alas Tulis (Kertas). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -Alas Tulis (Kertas). Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Februari 2025
Selasa, 05 Maret 2024
Tiga kertas 'ProPatria' dalam satu mushaf
Pada kertas Eropa, watermark (cap kertas) selalu berpasangan dengan countermark (cap tandingan). Watermark (yang biasanya berupa gambar) terletak di sebelah kiri, dan countermark (yang biasanya berupa huruf singkatan atau kata) terletak di sebelah kanan. Untuk memastikan suatu pasangan cap kertas, ketika hendak mengidentifikasi, kita wajib terlebih dahulu mencari tengah kuras naskah. Ini untuk memastikan bahwa lembar kertas sebelah kiri bersambung dengan lembar sebelah kanan. Tidak bisa tidak!
Sabtu, 15 Februari 2020
Watermark, Asal, dan Usia Naskah
| Cap kertas "Three Crescents". |
Untuk mengkaji suatu naskah, asal dan usia-nya perlu
diketahui terlebih dahulu, atau sekurang-kurangnya diperkirakan, sebelum
mengkaji aspek lainnya secara teliti. Sebab, suatu naskah atau teks tentu saja
tidak jatuh begitu saja dari langit. Naskah disalin pasti dalam ruang dan waktu historis tertentu – dalam konteks tertentu. Persoalannya, naskah-naskah Nusantara
kebanyakan tidak memiliki kolofon (catatan naskah) – entah karena memang tidak
ditulis oleh penyalinnya, atau karena naskahnya rusak dimakan waktu. Oleh karena itu,
perlu dicari berbagai cara untuk mengetahui asal dan usia naskah. Tentu saja
banyak cara untuk mengenali asal dan usia naskah, seperti dari bahasa (ini yang
paling mudah!), bahan, tulisan, jilidan, iluminasi, dan lain-lain, tergantung
ketersediaan informasi yang ada pada naskah yang dikaji. Karena mushaf Qur’an
dalam bahasa Arab, pengkaji mushaf sering menjumpai kesulitan untuk
mengidentifikasi asal dan usia mushaf. Nah, satu aspek lain yang bisa
ditambahkan dalam hal ini adalah kertas.
Sabtu, 07 Desember 2019
Cap Kertas dan Cap Tandingan dalam Kertas Eropa
Berapakah ukuran kertas Eropa utuh? Tidak gampang menjawabnya, karena di lapangan, biasanya yang kita dapati adalah kertas Eropa yang sudah digunakan dalam bentuk codex atau manuskrip jadi. Oleh karena itu, kertasnya sudah dilipat dua (atau empat, tergantung ukuran naskahnya), dan sudah dipotong bagian tepinya. Kita tidak tahu kertas Eropa utuhnya berukuran berapa cm. Kita pun mungkin tidak tahu posisi watermark (cap kertas) dan countermark (cap tandingan) itu sesungguhnya seperti apa dalam lembaran utuh kertas Eropa. Nah, di bawah ini adalah contoh menarik, dari sebuah lembaran yang belum sempat dijilid dan dipotong!
Lembaran utuh kertas Eropa asal Italia. (Naskah Kesultanan Kotaringin, Kalimantan Tengah).
Minggu, 14 Desember 2014
'Shadow' pada kertas Eropa
Apa itu shadow pada kertas abad ke-18?
Dalam pos tentang cap kertas sebelum ini (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2014/11/cap-kertas.html#more), kita melihat betapa pentingnya melihat 'shadow' (semacam bayangan) pada chain line (garis tebal) suatu kertas Eropa. Itu 'teori' sederhana dari Dr Russell Jones untuk membedakan antara kertas abad ke-17-18 (ber-shadow) dan kertas abad ke-19 (tanpa shadow). Nah, apa itu 'shadow' yang dimaksud oleh Pak Russell?
Bayangan (shadow) di sepanjang garis tebal.
Sabtu, 15 November 2014
Cap Kertas "Blauw & Briel"
Kemarin (15-11-2014) saya menulis email kepada Russell Jones (sekitar 85 tahun), ahli kertas Eropa, khususnya yang digunakan dalam naskah-naskah Nusantara. Di samping ketekunannya yang luar biasa dalam memperhatikan kertas -- suatu bidang yang amat sedikit diperhatikan orang -- ia juga seorang ahli sastra, dan menulis disertasi tentang naskah sastra sufi Hikayat Ibrahim bin Adham.
Iluminasi halaman akhir Qur'an PNRI A.47. (Foto: Repro Illuminations)
Jumat, 26 Oktober 2012
Alas Tulis: Kertas Eropa dan Dluwang
Pada umumnya, kertas/alas tulis yang digunakan untuk menyalin Qur'an di Nusantara adalah kertas Eropa. Disebut demikian karena dibuat di Eropa dan dipasarkan di Nusantara. Pada umumnya, kertas Eropa dibuat di Belanda, Inggris, dan Italia. Kertas Eropa mudah dicirikan, yaitu jika diterawang terdapat garis tebal (chain lines) berjarak sekitar 2,5 cm, dan garis tipis (laid lines) berjarak sekitar 1 mm. Secara fisik, kertas Eropa mirip dengan kertas merek Conqueror pada zaman sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)



