Tampilkan postingan dengan label (a) Mushaf Tulis Tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (a) Mushaf Tulis Tangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2021

Berapakah Harga Sebuah Manuskrip Qur'an pada Masa Lampau?

Informasi tentang harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau cukup langka. Saya memperoleh riwayat dari Pak Lukman (60-an tahun), asal Losari, Cirebon, yang sejak menikah tinggal di Cakung, Jakarta Timur. Pak Lukman mengatakan (1-9-2021) bahwa ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kakeknya (buyutnya Pak Lukman, bernama Yahya, seorang kiai di Losari) mengatakan bahwa mushaf miliknya dibeli dengan seekor kerbau! Semasa kecilnya, Pak Lukman sempat melihat mushaf tersebut, namun sayangnya, sekarang tidak tahu lagi di mana. Jika diperkirakan bahwa satu generasi itu 30 tahun, maka Kiai Yahya hidup pada akhir abad ke-19.
Mushaf Qur'an koleksi Elang Panji Jaya, Cirebon.

Senin, 15 Oktober 2018

Sumatera Utara

Manuskrip Al-Qur’an di Sumatera Utara: Menelusuri Asal Usul

Pengantar untuk Katalog Mushaf Al-Qur'an Kuno di Sumatera Utara
Penyusun: Ichwan Azhari dan Candiki Repantu
Medan: LPTQ Sumatera Utara, 2018

Alhamdulillah, akhirnya ditemukan juga sejumlah manuskrip Al-Qur’an di Sumatera Utara! Selama beberapa tahun penelusuran manuskrip Al-Qur’an di Indonesia, sejak tahun 2003 hingga belakangan ini, 2018, di Sumatera Utara tidak—atau tepatnya belum—ditemukan manuskrip Al-Qur’an. Para peneliti dari Puslitbang Lektur Keagamaan yang pertama kali melakukan penelusuran naskah-naskah Al-Qur’an di Sumatera Utara hanya menemukan sebuah mushaf tua cetakan India di Masjid Al-Mashun, Medan. Beberapa tahun kemudian, ketika penelusuran naskah Al-Qur’an dilanjutkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, para peneliti juga tidak memperoleh informasi keberadaan mushaf, hingga kini. 
Katalog Mushaf di Sumatera Utara.

Jumat, 05 Agustus 2016

Tradisi Mushaf NTB

Antara Keraton dan Masyarakat
Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat. 
Katalog.

Rabu, 03 Agustus 2016

Qur'an dari Palembang

Mushaf Gaya 'Pantai Timur'


Menyaksikan 'Pameran Peradaban Islam' (demikian temanya) yang digelar dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 30 Juli - 6 Agustus 2016, ada satu pajangan yang menarik di anjungan Sumatera Selatan. Senang sekali, saya diberi izin untuk membuka Qur'an tua di dalam kaca itu. Inilah catatannya. 
Ukuran mushaf 30,5 x 20 cm, tebal 6 cm. Kertas Eropa, cap kertas ProPatria, Concordia, dengan cap tandingan ‘Van Gelder’. 15 baris per halaman. Tinta hitam, merah untuk kepala surah, tanda tajwid, garis bingkai, dan lingkaran tanda ayat. Sampul kulit coklat dengan hiasan cap timbul. Mushaf lengkap, terdapat beberapa halaman kosong di bagian depan dan belakang. Kondisi naskah sampai dengan Surah Ali ‘Imran cukup bagus, namun halaman-halaman selanjutnya, hingga bagian akhir mushaf, rusak parah karena kertas dimakan tinta yang mengandung zat besi.
Halaman iluminasi awal mushaf, sebagian bersepuh tinta emas.

Rabu, 10 Februari 2016

Menelusuri Qur'an Kuno Sumbawa

Untuk menuju Pulau Sumbawa, dari Jakarta, tidak ada penerbangan langsung. Pesawat mendarat di Mataram, dan perjalanan selanjutnya menggunakan angkutan travel, berupa minibus dengan 11 penumpang. Mobil yang saya tumpangi merapat di pelabuhan menuju Sumbawa tepat waktu, beberapa saat sebelum pintu feri ditutup. Langit masih menyisakan biru, sebelum pelan-pelan meredup jadi kemerahan. Para penumpang travel semua turun dari mobil, menyebar entah ke mana. Saya sempat meminta tolong kepada supir bahwa nanti saya dicarikan hotel di dekat “Istana Tua” – suatu istilah yang baru saya tahu tadi ketika mencari tiket travel. Istana Tua adalah sebutan untuk bekas istana Kerajaan Sumbawa.
Dari atas feri menuju Pulau Sumbawa.

Senin, 11 Mei 2015

Pengaruh Qur'an Turki Usmani di Asia Tenggara

Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmani di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
        Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmani (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Turki Usmani dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmani yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
        Pdf artikel bisa diunduh di: https://www.academia.edu/10791780/The_influence_of_Ottoman_Qur_ans_in_Southeast_Asia_through_the_ages

Sampul buku.

Senin, 27 Januari 2014

Qur'an Surau

Qur’an Surau, Sumatera Barat

Saat ini, koleksi Qur’an tampaknya lebih banyak ditemukan di museum atau perpustakaan daripada di tempat aslinya, yaitu di lembaga-lembaga keagamaan seperti pesantren, masjid, meunasah, atau surau. Itu artinya, naskah telah berpindah tangan, tidak lagi di tempat asalnya ketika naskah tersebut digunakan dan diperlakukan sehari-hari oleh pemakainya. Sebenarnya hal itu patut disayangkan, karena tradisi naskah tersebut telah tercabut dari akarnya, sehingga ada sesuatu yang hilang.
Sebuah Qur'an dari Surau Bintungan Tinggi, Pariaman.

Kamis, 22 Agustus 2013

Masalah tulisan dan bahasa

Jangan langsung percaya! (1)

Sebaiknya, jangan langsung percaya pada semua informasi yang ada pada suatu naskah. Perlu lebih cermat, apalagi jika Anda, misalnya, sedang meneliti naskah, atau kolektor yang mau membeli naskah. Hal-hal yang terkait tulisan, bahasa, kertas, tinta, warna, dan ilumniasi, akan membatu kita untuk menganalisis keaslian informasi pada suatu naskah. Beberapa contoh gambar di bawah ini sepertinya menarik.
Gambar 1.

Jumat, 16 Agustus 2013

Koleksi Masjid Ba'alwie

Singapura
Qur’an dan ‘njaluk banyu’ di Masjid Ba’alwie

Tiga buah Qur’an di bawah adalah koleksi keluarga habib Ba'alwie, Singapura, seperti yang dimuat dalam buku Aksara: Menjejaki tulisan Melayu – The passage of Malay scripts (Singapore: NLB, 2007) yang diterbitkan dalam rangka pameran itu, berlangsung di Perpustakaan Nasional Singapura, 18 Januari - 30 Juni 2007.
Rupanya ketiga Qur’an di atas berasal dari Indonesia. Sebuah Qur’an dengan kertas dluwang berasal dari Jombang, Jawa Timur, kemungkinan dari lingkungan pesantren. Qur’an lainnya berasal dari Malang, Jawa Timur, dan sebuah Qur’an dengan cap kertas bergambar bulan sabit berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Lima tahun lalu, ketika saya berkunjung ke masjid ini pada 2008, menurut pengakuan pihak keluarga, Ba’alwie mengoleksi lima Qur’an kuno. Namun pada waktu itu semuanya sedang dikonservasi, sehingga koleksi itu tidak bisa dilihat langsung.
Qur'an dari Malang, Jawa Timur. (Foto: Repro)

Kamis, 25 Juli 2013

Koleksi Brunei Darussalam

Brunei Darussalam
Koleksi Balai Pameran Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah

Koleksi Qur'an di Brunei Darussalam barangkali lebih banyak di perorangan, karena sering terdengar kabar bahwa ada (sejumlah) pedagang naskah di Indonesia yang menjual naskahnya kepada (katanya) warga Brunei. Namun berita itu sulit ditelusuri, karena penjualan naskah-naskah itu tidak tercatat, sementara pemiliknya pun tidak pernah mengumumkan koleksinya.
Pada Oktober 2008 saya pernah mengunjungi Perpustakaan Universiti Brunei Darussalam untuk melihat koleksi manuskrip Qur'annya, namun rupanya urusan tidak mudah, sehingga saya gagal memperoleh informasi yang pasti.
Sementara itu, yang membuat saya lega, di Balai Pameran Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah yang gedungnya menyatu dengan Jabatan Mufti (kantor urusan fatwa), di Bandar Seri Begawan, terdapat sejumlah koleksi naskah, termasuk di antaranya Qur'an. Balai ini mengoleksi banyak benda peninggalan Islam, tidak hanya dari Nusantara, namun juga dari sejumlah negeri Islam. Koleksinya beragam, dari pedang, tasbih, tongkat, hingga astrolab. 
Koleksi naskahnya, yang saya hitung secara cepat waktu itu, ada 231 naskah dari berbagai disiplin ilmu dan dari berbagai negeri Islam. Dari jumlah keseluruhan tersebut, 44 di antaranya dari Nusantara, dan 15 di antaranya adalah Qur'an. Kenusantaraannya saya identifikasi dari ciri-ciri kodikologis lazimnya naskah Nusantara. Sayangnya, Qur'an-Qur'an koleksi Balai ini tidak (atau belum?) disertai caption, sehingga pengunjung akan sulit membedakan mana Qur'an dari India, misalnya, atau negeri Islam lainnya, dengan Qur'an dari Nusantara. Kesulitan itu ditambah lagi dengan "haram"-nya memotret semua koleksi Balai, sehingga kajian tidak bisa dilanjutkan di 'rumah' dalam suasana yang lebih nyaman...
Tapi, bisa jadi, keadaan hampir lima tahun lalu itu sekarang sudah berbeda. Semoga.

 
Kunjungan tahun 2008.

Senin, 22 April 2013

Kaligrafi Qur'an Banten

Ciri khas kaligrafi Qur’an Banten

Naskah-naskah Qur’an Banten memiliki ciri khat NaskhÄ« yang dapat dikatakan istimewa dalam tradisi penyalinan mushaf Nusantara―sesuatu yang belum ditemukan dalam tradisi kaligrafi di wilayah lain. Dari beberapa mushaf yang ada, kita dapat menemukan “gaya tulisan Banten”.
Secara umum, para penyalin Qur'an di Banten pada masa lalu dapat dikatakan cukup konsisten dengan gaya Naskhī khasnya, dan gaya khat ini ditemukan di sejumlah naskah di beberapa tempat. Khat tersebut terlihat tidak hanya untuk menulis teks Al-Qur'an, yang biasanya dianggap lebih istimewa, namun juga untuk menulis terjemahannya dalam bahasa Jawa (PNRI A.54).
 
Mushaf Banten koleksi PNRI (A.50). (Foto atas kebaikan James Bennett).

Selasa, 19 Maret 2013

Tanda Tashih

Tanda Tashih dari Masa ke Masa

Tidak banyak manuskrip Qur'an Nusantara yang mempunyai tanda tashih. Memang, banyak manuskrip Qur'an yang tampaknya ditashih, atau dikoreksi, entah oleh penyalinnya sendiri atau orang lain yang membaca kemudian. Itu tampak dari hasil koreksi yang biasanya diletakkan di bagian pinggir halaman. Pada waktu itu belum ada lembaga khusus pentashihan mushaf, dan kebanyakan manuskrip tidak mencantumkan proses pentashihannya. Di antara langkanya petunjuk proses tashih (atau 'pernyataan tashih') pada manuskrip Qur'an di masa lalu, ada sebuah mushaf dari Sulawesi Barat yang ditashih di Mekah (Gambar 1).  
Gambar 1.

Sabtu, 16 Maret 2013

Koleksi Prancis

Empat Qur'an dari Jawa Koleksi Prancis

Menurut katalog François Deroche, Bibliothèque nationale di Paris menyimpan lima buah Qur'an dari Jawa. Empat di antara Qur'an tersebut, yaitu Arabe 458, 582, 583 and 584, kini dapat diakses secara online, dengan resolusi tinggi, dan dapat diunduh 'percuma':

Kamis, 14 Maret 2013

Koleksi Belanda

Qur'an Nusantara dalam koleksi Belanda

 Sebuah Qur'an dari Pulau Manipa, Maluku, koleksi Universitas Leiden. 
(Foto: Jan van der Putten)

Koleksi Qur'an Nusantara di negeri Belanda cukup banyak. Menurut P. Voorhoeve dalam Handlist of Arabic Manuscript in the Library of the University of Leiden and other Collections in the Netherlands (2nd Enlarged Ed.), The Hague: Leiden University Press, 1980, di Belanda tercatat ada 32 Qur'an lengkap, di samping terdapat 41 jilid terpisah bagian-bagian teks Qur'an, dan sekitar 20 naskah lain yang memuat bagian-bagian tertentu dari teks Qur'an. Sementara, E.P. Wieringa dalam Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts in the Library of Leiden University and other Collections in the Netherlands, Volume One (Leiden: Leiden University Library, 1998) mencatat sebuah naskah Qur'an, dengan nomor Cod.Or.247―namun hanya merupakan bagian dari sebuah naskah doa kecil yang berjumlah 59 halaman. 
Naskah Qur'an di negeri Belanda terdapat di beberapa lembaga, di antaranya Universitas Leiden, Koninklijk Instituut voor de Tropen (Amsterdam), Rijkmuseum voor Volkenkunde (Leiden), Nijmeegs Volkenkundig Museum, Universiteitsbibliotheek van Amsterdam, Universiteitsbibliotheek (Utrecht), serta Wereldmuseum (Rotterdam). Karena keterkaitan sejarah, museum-museum ini mengoleksi sejumlah Qur'an Aceh (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/02/tradisi-penyalinan-al-quran-di-aceh.html#more).
Perpustakaan Universitas Leiden meng-online-kan secara lengkap sebuah Qur'an indah dari Aceh, bernomor Cod.Or.2064 (lihat: https://socrates.leidenuniv.nl/R/9FL51F57FY1XVU74EK1I7XE1GB4ICDLQ2ID3EVJKST9198419K-02797). Iluminasi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah terdapat pada nomor foto 016-017.

Kamis, 21 Februari 2013

Koleksi Inggris

Qur'an Nusantara Koleksi Inggris 

Koleksi mushaf Nusantara terbanyak berpusat di kawasan Nusantara sendiri, terutama Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Dalam kepustakaan Eropa, naskah Al-Qur'an tidak terlalu banyak. Masuk akal, karena kajian mereka, sejak abad ke-17 maupun sesudahnya, selalu terfokus pada bahasa dan sastra. Para peminat naskah di Barat pun jauh lebih banyak mengumpulkan naskah-naskah sastra dan sejarah, daripada naskah Al-Qur'an. Menurut Annabel Teh Gallop, Kepala Bagian Asia Tenggara The British Library, London, tidak ada Al-Qur'an Nusantara dalam naskah-naskah Raffles, Mackenzie dan Farquhar pada awal abad ke-19, demikian pula dalam naskah-naskah Wilkinson, Winstedt dan Maxwell pada awal abad ke-20.  
Di seluruh Inggris, sebelum tahun 1995 hanya terdapat 4 buah mushaf Nusantara. British Library hanya menyimpan dua buah Al-Qur'an dari Asia Tenggara, yang diperoleh John Crawfurd selama kekuasaan administratif Inggris di Jawa (1811-1815). Baru sejak tahun 1996 British Library memperoleh sekitar 7 buah mushaf lagi, dua di antaranya dari Aceh. Selain mushaf-mushaf tersebut, ada satu buah fragmen mushaf dalam koleksi William Marsden, dan satu buah mushaf lainnya koleksi Royal Asiatic Society (Arabic No. 4).
Baru-baru ini British Library meng-online-kan secara lengkap sebuah koleksi mushaf Nusantara yang cukup indah, yaitu naskah Or. 15227. Mushaf ini berasal dari Pantai Timur Semenanjung Melayu, yaitu kawasan Patani, Kelantan, dan Terengganu, dari abad ke-19 (lihat http://www.bl.uk/manuscripts/Viewer.aspx?ref=or_15227_f001r).

Jumat, 07 Desember 2012

Qur'an di Bangkok

Thailand
Koleksi mushaf di tiga masjid di Bangkok, dll.

Qur’an yang berasal dari Thailand (khususnya Pattani, Thailand Selatan) terdapat dalam koleksi beberapa lembaga di Malaysia, di antaranya di Perpustakaan Negara Malaysia, Islamic Arts Museum Malaysia, Museum Seni Asia (Universiti Malaya), dan Kandis Resource Center (Kelantan). Sedangkan informasi dari Thailand sendiri sejauh ini sangat sulit diperoleh. Pada tahun 2009 saya pernah mencapai Kota Bharu, Kelantan, dan berharap bisa masuk ke Patani. Namun, kata beberapa orang di Kelantan, situasi kurang kondusif. Nah, baru-baru ini, melalui media sosial facebook, Sukre Sarem, warga Bangkok, menginformasikan bahwa di tiga masjid di sekitar Bangkok menyimpan paling tidak tiga Qur’an lama, yaitu (1) di Masjid Tonson dan (2) Masjid Banglung (Bangkok), serta (3) Masjid Darossaadah Ban Paklad Prapadang Samutprakran (selatan Bangkok). 
Dilihat dari iluminasinya, ketiga Qur'an di bawah ini mempunyai ciri yang sama dengan sejumlah Qur'an asal Patani koleksi beberapa lembaga di atas. Dapat diperkirakan bahwa ketiga Qur'an ini juga berasal dari Patani. Yang paling menonjol dari ciri itu, dan membedakannya dari ciri iluminasi dari wilayah lainnya di Nusantara, adalah bagian luar halaman yang dibiarkan kosong, bersih. Ini berbeda dengan iluminasi Qur'an dari Terengganu, untuk sekadar contoh, yang memanfaatkan halaman secara penuh, dan hampir tidak ada yang tersisa (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/malaysia-museum-negeri-terengganu.html).  
Informasi lainnya, dari orang yang sama, adalah sebuah mushaf yang dikatakan dari kekhalifahan Usmaniyah (Gambar 4), namun tidak disebutkan dalam koleksi siapa. Dikatakan bahwa mushaf yang berada di Bangkok tersebut dibeli dari Mekah. Tetapi, jika melihat ciri iluminasinya, dapat diduga kuat bahwa mushaf tersebut adalah mushaf dari Nusantara, dan tidak tampak ciri-ciri sebagai mushaf dari kekhalifahan Usmaniyah. Iluminasinya dapat dibandingkan dengan sebuah mushaf koleksi Bayt al-Qur'an & Museum Istiqlal (lihat https://www.facebook.com/photo.php?fbid=242741115779575&set=a.242740989112921.69300.216356611751359&type=3&theater). Iluminasi tengah mushaf pada permulaan Surah al-Isra' menunjukkan adanya kemiripan dengan Mushaf La Lino yang berasal dari Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat. Meskipun demikian, berdasarkan iluminasinya, Mushaf La Lino diduga sesungguhnya berasal dari kesultanan Terengganu, pantai timur Semenanjung Malaya.
 
Gambar 1. Mushaf di Masjid Tonson, Bangkok. [Photos courtesy of Sukre Sarem]

Sabtu, 24 November 2012

Qur'an Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta

Sebuah manuskrip Al-Qur’an yang indah terdapat dalam koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Koleksi itu, berdasarkan ciri fisiknya, tampak ada kemiripan dengan “Kanjeng Kiai Qur’an” yang merupakan Mushaf Pusaka Keraton Yogyakarta (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/quran-pusaka-keraton-yogyakarta.html). Mushaf Al-Qur’an ini berukuran 41,5 x 25 cm, tebal 7,5 cm, dengan cap kertas Honig & Zoonen.
Iluminasi awal Qur’an.

Rabu, 07 November 2012

Koleksi Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Jawa Tengah
Koleksi mushaf "Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah"
di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang

Jika Anda peminat kajian naskah atau mushaf kuno, dan kebetulan berada di Semarang, silakan datang ke Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di kompleks “Masjid Agung Jawa Tengah” – awas, jangan keliru dengan “Masjid Agung Semarang” di Kauman, atau “Masjid Jami’” di Simpang Lima. (Boleh lihat: http://seputarsemarang.com/masjid-agung-jawa-tengah-1726/). Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah menempati lantai dua dan tiga Al-Husna Tower – yaitu menara masjid ini – di bagian depan sisi selatan masjid. Museum ini relatif baru, diresmikan pada tanggal 28 September 2007 oleh Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, dan tentu saja dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid yang cukup megah ini.
Koleksi mushaf dan naskah lainnya.

Minggu, 14 Oktober 2012

Qur'an Jawa Timur

Jawa Timur
Qur’an-Qur'an dari Jawa Timur: Tradisi Dluwang, Indo-Persia, dan Timur Tengah

Banyak mushaf Al-Qur’an dari Jawa Timur yang mencerminkan tradisi lokal, terutama dilihat dari jenis kertas, kaligrafi, dan iluminasinya (Gambar 1, 2, 3, 4). Meskipun demikian, tradisi intelektual masa lalu di Jawa Timur – juga Nusantara secara lebih luas - menghubungkan kawasan ini dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah dan Indo-Persia. Di antara pusat Islam yang terpenting pada masa lalu adalah Haramain, yang merupakan pertemuan berbagai tradisi Islam: Turki, Afrika Utara, Persia, Asia Tengah, dan India. Eratnya hubungan tersebut tercermin dalam beberapa mushaf yang ditemukan di Jawa Timur.
Gambar 1, mushaf koleksi Museum Mpu Tantular, Sidoarjo.

Jumat, 12 Oktober 2012

Qur'an Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar

Apakah mushaf al-Qur'an itu bukan naskah/manuskrip? Maaf, pertanyaan ini perlu juga ditulis di sini, karena ada sebagian peneliti/penelusur naskah keagamaan yang (sering?) tidak memasukkan mushaf dalam hasil 'buruan'-nya, dan mengabaikan begitu saja di lapangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa mushaf bukanlah teks yang unik, dan mungkin, pikirnya, semua mushaf toh sama saja teksnya: buat apa dicatat? Tentu sah-sah saja menganggap seperti itu, karena mungkin penelusuran mereka mempunyai tujuan tertentu. Tetapi, tidak memasukkan mushaf dalam kumpulan naskah, menjadikan gambaran tentang khazanah naskah menjadi kurang utuh! Akhirnya, cita-cita untuk dapat menggambarkan tradisi intelektual, juga aspek lainnya, yang berlangsung pada masa lalu juga menjadi kurang utuh. Mushaf (awas, harap dibedakan dengan Qur'an!), sebagai salah satu benda budaya sebagaimana naskah lainnya, tentu mempunyai banyak aspek yang bisa dipelajari, dan merupakan satu kesatuan bersama 'teman-teman' naskah lainnya. Lebih dari itu, di lapangan kita tahu, akses terhadap naskah itu seperti suatu keberuntungan, seperti suatu kesempatan: tidak akan datang dua kali! Jika kita di lapangan menemukan naskah, perlu dicatat dan didokumentasi saat itu juga (syukur dalam bentuk foto). Kita perlu melakukan apa saja yang bisa kita lakukan, sebab "lain waktu, lain cerita". Jika kita datang untuk yang kedua kali, belum tentu kita bisa mendapatkan kembali naskah yang sama!
   Nah, tidak ada hubungannya dengan paragraf di atas, namun agak disayangkan juga, Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar (disusun oleh Oman Fathurahman dkk, Jakarta: Komunitas Bambu dll, 2010)  tidak memuat koleksi Qur'an yang dimiliki dayah tua nan penting ini. (Informasi selebihnya tentang katalog ini lihat http://www.manassa.org/main/publikasi/index.php?detail=20100802170545). Koleksi naskah yang diperikan dalam katalog setebal xxxiv + 374 halaman itu berjumlah 280 jilid naskah, terdiri atas 367 teks. Kategori kandungan isinya, yaitu ilmu al-Qur'an, hadis, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, tatabahasa, logika, sejarah, zikir dan doa, serta lain-lain. Terbanyak adalah fikih (99 teks), tatabahasa (78 teks), dan tasawuf (55 teks), dst. Penyusun tidak menyebutkan alasan mengapa naskah-naskah mushaf tidak disertakan dalam katalog yang penting dan hebat ini.
Halaman iluminasi awal mushaf koleksi Dayah Tanoh Abee.