Informasi tentang harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau cukup langka. Saya memperoleh riwayat dari Pak Lukman (60-an tahun), asal Losari, Cirebon, yang sejak menikah tinggal di Cakung, Jakarta Timur. Pak Lukman mengatakan (1-9-2021) bahwa ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kakeknya (buyutnya Pak Lukman, bernama Yahya, seorang kiai di Losari) mengatakan bahwa mushaf miliknya dibeli dengan seekor kerbau! Semasa kecilnya, Pak Lukman sempat melihat mushaf tersebut, namun sayangnya, sekarang tidak tahu lagi di mana. Jika diperkirakan bahwa satu generasi itu 30 tahun, maka Kiai Yahya hidup pada akhir abad ke-19.
Blog untuk kajian sejarah dan seni mushaf al-Qur'an di Asia Tenggara. Semua foto dibuat oleh penulis, kecuali disebut sumbernya. Terbit sejak 2012.
Tampilkan postingan dengan label (a) Mushaf Tulis Tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (a) Mushaf Tulis Tangan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 September 2021
Senin, 15 Oktober 2018
Sumatera Utara
Manuskrip Al-Qur’an di Sumatera Utara: Menelusuri Asal
Usul
Pengantar untuk Katalog Mushaf Al-Qur'an Kuno di Sumatera Utara
Penyusun: Ichwan Azhari dan Candiki Repantu
Medan: LPTQ Sumatera Utara, 2018
Medan: LPTQ Sumatera Utara, 2018
Alhamdulillah, akhirnya ditemukan juga sejumlah manuskrip
Al-Qur’an di Sumatera Utara! Selama beberapa tahun penelusuran manuskrip
Al-Qur’an di Indonesia, sejak tahun 2003 hingga belakangan ini, 2018, di
Sumatera Utara tidak—atau tepatnya belum—ditemukan manuskrip Al-Qur’an. Para
peneliti dari Puslitbang Lektur Keagamaan yang pertama kali melakukan penelusuran
naskah-naskah Al-Qur’an di Sumatera Utara hanya menemukan sebuah mushaf tua
cetakan India di Masjid Al-Mashun, Medan. Beberapa tahun kemudian, ketika
penelusuran naskah Al-Qur’an dilanjutkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, para peneliti juga tidak memperoleh informasi keberadaan mushaf,
hingga kini.
![]() |
| Katalog Mushaf di Sumatera Utara. |
Jumat, 05 Agustus 2016
Tradisi Mushaf NTB
Antara Keraton dan Masyarakat
Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat
Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat
mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat.
Katalog.
Rabu, 03 Agustus 2016
Qur'an dari Palembang
Mushaf Gaya 'Pantai Timur'
Menyaksikan 'Pameran Peradaban Islam' (demikian temanya) yang digelar dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 30 Juli - 6 Agustus 2016, ada satu pajangan yang menarik di anjungan Sumatera Selatan. Senang sekali, saya diberi izin untuk membuka Qur'an tua di dalam kaca itu. Inilah catatannya.
Ukuran mushaf 30,5 x 20 cm, tebal 6 cm. Kertas Eropa, cap kertas ProPatria, Concordia, dengan cap tandingan ‘Van Gelder’. 15 baris per halaman. Tinta hitam, merah untuk kepala surah, tanda tajwid, garis bingkai, dan lingkaran tanda ayat. Sampul kulit coklat dengan hiasan cap timbul. Mushaf lengkap, terdapat beberapa halaman kosong di bagian depan dan belakang. Kondisi naskah sampai dengan Surah Ali ‘Imran cukup bagus, namun halaman-halaman selanjutnya, hingga bagian akhir mushaf, rusak parah karena kertas dimakan tinta yang mengandung zat besi.
Ukuran mushaf 30,5 x 20 cm, tebal 6 cm. Kertas Eropa, cap kertas ProPatria, Concordia, dengan cap tandingan ‘Van Gelder’. 15 baris per halaman. Tinta hitam, merah untuk kepala surah, tanda tajwid, garis bingkai, dan lingkaran tanda ayat. Sampul kulit coklat dengan hiasan cap timbul. Mushaf lengkap, terdapat beberapa halaman kosong di bagian depan dan belakang. Kondisi naskah sampai dengan Surah Ali ‘Imran cukup bagus, namun halaman-halaman selanjutnya, hingga bagian akhir mushaf, rusak parah karena kertas dimakan tinta yang mengandung zat besi.
Halaman iluminasi awal mushaf, sebagian bersepuh tinta emas.
Rabu, 10 Februari 2016
Menelusuri Qur'an Kuno Sumbawa
Untuk menuju Pulau Sumbawa, dari Jakarta, tidak ada
penerbangan langsung. Pesawat mendarat di Mataram, dan perjalanan selanjutnya
menggunakan angkutan travel, berupa
minibus dengan 11 penumpang. Mobil yang saya tumpangi merapat di pelabuhan
menuju Sumbawa tepat waktu, beberapa saat sebelum pintu feri ditutup. Langit
masih menyisakan biru, sebelum pelan-pelan meredup jadi kemerahan. Para
penumpang travel semua turun dari mobil, menyebar entah ke mana. Saya sempat
meminta tolong kepada supir bahwa nanti saya dicarikan hotel di dekat “Istana
Tua” – suatu istilah yang baru saya tahu tadi ketika mencari tiket travel.
Istana Tua adalah sebutan untuk bekas istana Kerajaan Sumbawa.
Senin, 11 Mei 2015
Pengaruh Qur'an Turki Usmani di Asia Tenggara
Tulisan saya berjudul “The Influence of Ottoman Qur'ans in Southeast Asia through the Ages” (Pengaruh Qur’an [Turki] Usmani di Asia Tenggara dari Masa ke Masa) – diterjemahkan oleh Annabel Teh Gallop – dimuat di dalam buku From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia, Andrew Peacock and Annabel Teh Gallop (eds), Oxford: Oxford University Press, 2015, hlm. 311-334. (Deskripsi lebih lengkap, lihat: http://ukcatalogue.oup.com/product/9780197265819.do).
Tulisan ini membahas tentang pengaruh Qur’an Turki Usmani (Ottoman) terhadap Qur’an di Asia Tenggara, sejak masa manuskrip, masa cetak awal, hingga sekarang. Pengaruh Turki Usmani dapat dilihat pada aspek-aspek tertentu, seperti iluminasi, kaligrafi, dan tataletak teks. Pada masa belakangan, pengaruh tersebut lebih menguat, terutama sejak disahkannya "Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia" pada 1984, sebab salah satu dari tiga jenis Al-Qur’an yang disahkan tersebut didasarkan pada Qur’an Turki Usmani yang dicetak oleh Matba’ah Bahriyah di Istanbul. Jenis mushaf ini telah lama digunakan di Indonesia oleh para penghafal Al-Qur’an di berbagai pesantren tahfiz -- sering disebut sebagai 'Qur'an pojok' atau 'Qur'an sudut'.
Pdf artikel bisa diunduh di: https://www.academia.edu/10791780/The_influence_of_Ottoman_Qur_ans_in_Southeast_Asia_through_the_ages
Pdf artikel bisa diunduh di: https://www.academia.edu/10791780/The_influence_of_Ottoman_Qur_ans_in_Southeast_Asia_through_the_ages
Senin, 27 Januari 2014
Qur'an Surau
Qur’an Surau, Sumatera Barat
Saat ini,
koleksi Qur’an tampaknya lebih banyak ditemukan di museum atau perpustakaan
daripada di tempat aslinya, yaitu di lembaga-lembaga keagamaan seperti
pesantren, masjid, meunasah, atau surau. Itu artinya, naskah telah berpindah
tangan, tidak lagi di tempat asalnya ketika naskah tersebut digunakan dan
diperlakukan sehari-hari oleh pemakainya. Sebenarnya hal itu patut disayangkan,
karena tradisi naskah tersebut telah tercabut dari akarnya, sehingga ada
sesuatu yang hilang.
Sebuah Qur'an dari Surau Bintungan Tinggi, Pariaman.
Kamis, 22 Agustus 2013
Masalah tulisan dan bahasa
Jangan
langsung percaya! (1)
Sebaiknya, jangan langsung
percaya pada semua informasi yang ada pada suatu naskah. Perlu lebih cermat,
apalagi jika Anda, misalnya, sedang meneliti naskah, atau kolektor yang mau
membeli naskah. Hal-hal yang terkait tulisan, bahasa, kertas, tinta, warna, dan
ilumniasi, akan membatu kita untuk menganalisis keaslian informasi pada suatu
naskah. Beberapa contoh gambar di bawah ini sepertinya menarik.
Gambar 1.
Jumat, 16 Agustus 2013
Koleksi Masjid Ba'alwie
Singapura
Qur’an dan ‘njaluk banyu’ di
Masjid Ba’alwie
Tiga buah
Qur’an di bawah adalah koleksi keluarga habib Ba'alwie, Singapura, seperti yang dimuat dalam
buku Aksara: Menjejaki tulisan Melayu –
The passage of Malay scripts (Singapore: NLB, 2007) yang diterbitkan dalam
rangka pameran itu, berlangsung di Perpustakaan Nasional Singapura, 18 Januari
- 30 Juni 2007.
Rupanya
ketiga Qur’an di atas berasal dari Indonesia. Sebuah Qur’an dengan kertas dluwang
berasal dari Jombang, Jawa Timur, kemungkinan dari lingkungan pesantren.
Qur’an lainnya berasal dari Malang, Jawa Timur, dan sebuah Qur’an dengan cap
kertas bergambar bulan sabit berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Lima tahun lalu, ketika saya berkunjung ke masjid ini pada 2008, menurut pengakuan pihak keluarga, Ba’alwie mengoleksi lima Qur’an kuno. Namun pada waktu itu semuanya sedang dikonservasi, sehingga koleksi itu tidak bisa dilihat langsung.
Qur'an dari Malang, Jawa Timur. (Foto: Repro)
Kamis, 25 Juli 2013
Koleksi Brunei Darussalam
Brunei Darussalam
Koleksi Balai Pameran Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah
Koleksi Qur'an di Brunei Darussalam barangkali lebih banyak di perorangan, karena sering terdengar kabar bahwa ada (sejumlah) pedagang naskah di Indonesia yang menjual naskahnya kepada (katanya) warga Brunei. Namun berita itu sulit ditelusuri, karena penjualan naskah-naskah itu tidak tercatat, sementara pemiliknya pun tidak pernah mengumumkan koleksinya.
Pada Oktober 2008 saya pernah mengunjungi Perpustakaan Universiti Brunei Darussalam untuk melihat koleksi manuskrip Qur'annya, namun rupanya urusan tidak mudah, sehingga saya gagal memperoleh informasi yang pasti.
Sementara itu, yang membuat saya lega, di Balai Pameran Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah yang gedungnya menyatu dengan Jabatan Mufti (kantor urusan fatwa), di Bandar Seri Begawan, terdapat sejumlah koleksi naskah, termasuk di antaranya Qur'an. Balai ini mengoleksi banyak benda peninggalan Islam, tidak hanya dari Nusantara, namun juga dari sejumlah negeri Islam. Koleksinya beragam, dari pedang, tasbih, tongkat, hingga astrolab.
Koleksi naskahnya, yang saya hitung secara cepat waktu itu, ada 231 naskah dari berbagai disiplin ilmu dan dari berbagai negeri Islam. Dari jumlah keseluruhan tersebut, 44 di antaranya dari Nusantara, dan 15 di antaranya adalah Qur'an. Kenusantaraannya saya identifikasi dari ciri-ciri kodikologis lazimnya naskah Nusantara. Sayangnya, Qur'an-Qur'an koleksi Balai ini tidak (atau belum?) disertai caption, sehingga pengunjung akan sulit membedakan mana Qur'an dari India, misalnya, atau negeri Islam lainnya, dengan Qur'an dari Nusantara. Kesulitan itu ditambah lagi dengan "haram"-nya memotret semua koleksi Balai, sehingga kajian tidak bisa dilanjutkan di 'rumah' dalam suasana yang lebih nyaman...
Tapi, bisa jadi, keadaan hampir lima tahun lalu itu sekarang sudah berbeda. Semoga.
Senin, 22 April 2013
Kaligrafi Qur'an Banten
Ciri khas kaligrafi Qur’an
Banten
Naskah-naskah Qur’an Banten memiliki ciri khat NaskhÄ« yang dapat dikatakan istimewa
dalam tradisi penyalinan mushaf Nusantara―sesuatu yang belum ditemukan dalam
tradisi kaligrafi di wilayah lain. Dari beberapa mushaf
yang ada, kita dapat menemukan “gaya tulisan Banten”.
Secara
umum, para penyalin Qur'an di Banten pada masa lalu dapat dikatakan cukup konsisten dengan gaya Naskhī khasnya, dan gaya khat ini ditemukan di sejumlah naskah di beberapa
tempat. Khat tersebut terlihat tidak hanya untuk menulis
teks Al-Qur'an, yang biasanya dianggap lebih istimewa, namun juga untuk menulis
terjemahannya dalam bahasa Jawa (PNRI A.54).
Mushaf Banten koleksi PNRI (A.50). (Foto atas kebaikan James Bennett).
Selasa, 19 Maret 2013
Tanda Tashih
Tanda Tashih dari Masa ke Masa
Tidak banyak manuskrip Qur'an Nusantara yang mempunyai tanda tashih. Memang, banyak manuskrip Qur'an yang tampaknya ditashih, atau dikoreksi, entah oleh penyalinnya sendiri atau orang lain yang membaca kemudian. Itu tampak dari hasil koreksi yang biasanya diletakkan di bagian pinggir halaman. Pada waktu itu belum ada lembaga khusus pentashihan mushaf, dan kebanyakan manuskrip tidak mencantumkan proses pentashihannya. Di antara langkanya petunjuk proses tashih (atau 'pernyataan tashih') pada manuskrip Qur'an di masa lalu, ada sebuah mushaf dari Sulawesi Barat yang ditashih di Mekah (Gambar 1).
| Gambar 1. |
Sabtu, 16 Maret 2013
Koleksi Prancis
Empat Qur'an dari Jawa Koleksi Prancis
Menurut katalog François Deroche, Bibliothèque nationale di Paris menyimpan lima buah Qur'an dari Jawa. Empat di antara Qur'an tersebut, yaitu Arabe 458, 582, 583 and 584, kini dapat diakses secara online, dengan resolusi tinggi, dan dapat diunduh 'percuma':
http://gallica.bnf.fr/Search?ArianeWireIndex=index&p=1&lang=EN&f_typedoc=manuscrits&q=java


| Arabe 584: halaman Surah al-Fatihah. |
Kamis, 14 Maret 2013
Koleksi Belanda
Qur'an Nusantara dalam koleksi
Belanda
Sebuah Qur'an dari Pulau Manipa, Maluku, koleksi Universitas Leiden.
(Foto: Jan van der Putten)
Naskah
Qur'an di negeri Belanda terdapat di beberapa lembaga, di
antaranya Universitas Leiden, Koninklijk Instituut voor de Tropen (Amsterdam),
Rijkmuseum voor Volkenkunde (Leiden), Nijmeegs Volkenkundig Museum,
Universiteitsbibliotheek van Amsterdam, Universiteitsbibliotheek (Utrecht),
serta Wereldmuseum (Rotterdam). Karena keterkaitan sejarah, museum-museum ini
mengoleksi sejumlah Qur'an Aceh (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/02/tradisi-penyalinan-al-quran-di-aceh.html#more).
Perpustakaan Universitas Leiden
meng-online-kan secara lengkap sebuah Qur'an indah dari Aceh, bernomor
Cod.Or.2064 (lihat: https://socrates.leidenuniv.nl/R/9FL51F57FY1XVU74EK1I7XE1GB4ICDLQ2ID3EVJKST9198419K-02797).
Iluminasi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah terdapat pada nomor foto
016-017.
Kamis, 21 Februari 2013
Koleksi Inggris
Qur'an Nusantara Koleksi Inggris
Koleksi mushaf Nusantara terbanyak
berpusat di kawasan Nusantara sendiri, terutama Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Dalam
kepustakaan Eropa, naskah Al-Qur'an tidak terlalu banyak. Masuk akal, karena kajian
mereka, sejak abad ke-17 maupun sesudahnya, selalu terfokus pada bahasa dan
sastra. Para peminat naskah di Barat pun jauh lebih banyak mengumpulkan
naskah-naskah sastra dan sejarah, daripada naskah Al-Qur'an. Menurut Annabel
Teh Gallop, Kepala Bagian Asia Tenggara The British Library, London, tidak ada
Al-Qur'an Nusantara dalam naskah-naskah Raffles, Mackenzie dan Farquhar pada
awal abad ke-19, demikian pula dalam naskah-naskah Wilkinson, Winstedt dan
Maxwell pada awal abad ke-20.
Di seluruh Inggris,
sebelum tahun 1995 hanya terdapat 4 buah mushaf Nusantara. British Library
hanya menyimpan dua buah Al-Qur'an dari Asia Tenggara, yang diperoleh John
Crawfurd selama kekuasaan administratif Inggris di Jawa (1811-1815). Baru sejak
tahun 1996 British Library memperoleh sekitar 7 buah mushaf lagi, dua di antaranya
dari Aceh. Selain mushaf-mushaf tersebut, ada satu buah fragmen mushaf dalam
koleksi William Marsden, dan satu buah
mushaf lainnya koleksi Royal Asiatic Society (Arabic No. 4).
Koleksi mushaf Nusantara terbanyak
berpusat di kawasan Nusantara sendiri, terutama Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Dalam
kepustakaan Eropa, naskah Al-Qur'an tidak terlalu banyak. Masuk akal, karena kajian
mereka, sejak abad ke-17 maupun sesudahnya, selalu terfokus pada bahasa dan
sastra. Para peminat naskah di Barat pun jauh lebih banyak mengumpulkan
naskah-naskah sastra dan sejarah, daripada naskah Al-Qur'an. Menurut Annabel
Teh Gallop, Kepala Bagian Asia Tenggara The British Library, London, tidak ada
Al-Qur'an Nusantara dalam naskah-naskah Raffles, Mackenzie dan Farquhar pada
awal abad ke-19, demikian pula dalam naskah-naskah Wilkinson, Winstedt dan
Maxwell pada awal abad ke-20.
Di seluruh Inggris,
sebelum tahun 1995 hanya terdapat 4 buah mushaf Nusantara. British Library
hanya menyimpan dua buah Al-Qur'an dari Asia Tenggara, yang diperoleh John
Crawfurd selama kekuasaan administratif Inggris di Jawa (1811-1815). Baru sejak
tahun 1996 British Library memperoleh sekitar 7 buah mushaf lagi, dua di antaranya
dari Aceh. Selain mushaf-mushaf tersebut, ada satu buah fragmen mushaf dalam
koleksi William Marsden, dan satu buah
mushaf lainnya koleksi Royal Asiatic Society (Arabic No. 4).
Baru-baru ini British Library meng-online-kan secara lengkap sebuah koleksi mushaf Nusantara
yang cukup indah, yaitu naskah Or. 15227. Mushaf ini berasal dari Pantai Timur Semenanjung Melayu, yaitu kawasan Patani, Kelantan, dan Terengganu, dari abad ke-19 (lihat http://www.bl.uk/manuscripts/Viewer.aspx?ref=or_15227_f001r).
Jumat, 07 Desember 2012
Qur'an di Bangkok
Thailand
Koleksi mushaf di tiga masjid di Bangkok, dll.
Qur’an yang
berasal dari Thailand (khususnya Pattani, Thailand Selatan) terdapat dalam
koleksi beberapa lembaga di Malaysia, di antaranya di Perpustakaan Negara Malaysia, Islamic Arts Museum Malaysia, Museum
Seni Asia (Universiti Malaya), dan Kandis Resource Center (Kelantan).
Sedangkan informasi dari Thailand sendiri sejauh ini sangat sulit diperoleh. Pada tahun 2009 saya pernah mencapai Kota Bharu, Kelantan, dan berharap bisa masuk ke Patani. Namun, kata beberapa orang di Kelantan, situasi kurang kondusif. Nah, baru-baru ini, melalui media sosial facebook, Sukre Sarem, warga Bangkok, menginformasikan bahwa di tiga masjid di sekitar Bangkok menyimpan paling tidak tiga Qur’an lama,
yaitu (1) di Masjid Tonson dan (2) Masjid Banglung (Bangkok), serta (3) Masjid Darossaadah
Ban Paklad Prapadang Samutprakran (selatan Bangkok).
Dilihat dari iluminasinya, ketiga Qur'an di bawah ini mempunyai ciri yang sama dengan sejumlah Qur'an asal Patani koleksi beberapa lembaga di atas. Dapat diperkirakan bahwa ketiga Qur'an ini juga berasal dari Patani. Yang paling menonjol dari ciri itu, dan membedakannya dari ciri iluminasi dari wilayah lainnya di Nusantara, adalah bagian luar halaman yang dibiarkan kosong, bersih. Ini berbeda dengan iluminasi Qur'an dari Terengganu, untuk sekadar contoh, yang memanfaatkan halaman secara penuh, dan hampir tidak ada yang tersisa (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/malaysia-museum-negeri-terengganu.html).
Informasi lainnya, dari orang yang sama, adalah sebuah mushaf yang dikatakan dari kekhalifahan Usmaniyah (Gambar 4), namun tidak disebutkan dalam koleksi siapa. Dikatakan bahwa mushaf yang berada di Bangkok tersebut dibeli dari Mekah. Tetapi, jika melihat ciri iluminasinya, dapat diduga kuat bahwa mushaf tersebut adalah mushaf dari Nusantara, dan tidak tampak ciri-ciri sebagai mushaf dari kekhalifahan Usmaniyah. Iluminasinya dapat dibandingkan dengan sebuah mushaf koleksi Bayt al-Qur'an & Museum Istiqlal (lihat https://www.facebook.com/photo.php?fbid=242741115779575&set=a.242740989112921.69300.216356611751359&type=3&theater). Iluminasi tengah mushaf pada permulaan Surah al-Isra' menunjukkan adanya kemiripan dengan Mushaf La Lino yang berasal dari Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat. Meskipun demikian, berdasarkan iluminasinya, Mushaf La Lino diduga sesungguhnya berasal dari kesultanan Terengganu, pantai timur Semenanjung Malaya.
Dilihat dari iluminasinya, ketiga Qur'an di bawah ini mempunyai ciri yang sama dengan sejumlah Qur'an asal Patani koleksi beberapa lembaga di atas. Dapat diperkirakan bahwa ketiga Qur'an ini juga berasal dari Patani. Yang paling menonjol dari ciri itu, dan membedakannya dari ciri iluminasi dari wilayah lainnya di Nusantara, adalah bagian luar halaman yang dibiarkan kosong, bersih. Ini berbeda dengan iluminasi Qur'an dari Terengganu, untuk sekadar contoh, yang memanfaatkan halaman secara penuh, dan hampir tidak ada yang tersisa (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/malaysia-museum-negeri-terengganu.html).
Informasi lainnya, dari orang yang sama, adalah sebuah mushaf yang dikatakan dari kekhalifahan Usmaniyah (Gambar 4), namun tidak disebutkan dalam koleksi siapa. Dikatakan bahwa mushaf yang berada di Bangkok tersebut dibeli dari Mekah. Tetapi, jika melihat ciri iluminasinya, dapat diduga kuat bahwa mushaf tersebut adalah mushaf dari Nusantara, dan tidak tampak ciri-ciri sebagai mushaf dari kekhalifahan Usmaniyah. Iluminasinya dapat dibandingkan dengan sebuah mushaf koleksi Bayt al-Qur'an & Museum Istiqlal (lihat https://www.facebook.com/photo.php?fbid=242741115779575&set=a.242740989112921.69300.216356611751359&type=3&theater). Iluminasi tengah mushaf pada permulaan Surah al-Isra' menunjukkan adanya kemiripan dengan Mushaf La Lino yang berasal dari Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat. Meskipun demikian, berdasarkan iluminasinya, Mushaf La Lino diduga sesungguhnya berasal dari kesultanan Terengganu, pantai timur Semenanjung Malaya.
Gambar 1. Mushaf di Masjid Tonson, Bangkok. [Photos courtesy of Sukre Sarem]
Sabtu, 24 November 2012
Qur'an Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta
Sebuah manuskrip Al-Qur’an yang indah terdapat dalam koleksi
Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Koleksi itu, berdasarkan ciri fisiknya,
tampak ada kemiripan dengan “Kanjeng Kiai Qur’an” yang merupakan Mushaf Pusaka
Keraton Yogyakarta (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/quran-pusaka-keraton-yogyakarta.html). Mushaf Al-Qur’an ini berukuran 41,5 x 25 cm, tebal 7,5 cm, dengan
cap kertas Honig & Zoonen.
Rabu, 07 November 2012
Koleksi Museum Masjid Agung Jawa Tengah
Jawa Tengah
Koleksi mushaf "Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah"
di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang
Koleksi mushaf "Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah"
di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang
Jika Anda peminat kajian naskah atau mushaf kuno, dan kebetulan berada di Semarang, silakan datang ke Museum
Perkembangan Islam Jawa Tengah di kompleks “Masjid Agung Jawa Tengah” – awas, jangan keliru
dengan “Masjid Agung Semarang” di Kauman, atau “Masjid Jami’” di Simpang Lima. (Boleh lihat: http://seputarsemarang.com/masjid-agung-jawa-tengah-1726/).
Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah menempati lantai dua dan tiga
Al-Husna Tower – yaitu menara masjid ini – di bagian depan sisi selatan masjid.
Museum ini relatif baru, diresmikan pada tanggal 28 September 2007 oleh
Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, dan tentu saja dibangun bersamaan dengan
pembangunan masjid yang cukup megah ini.
Koleksi mushaf dan naskah lainnya.
Minggu, 14 Oktober 2012
Qur'an Jawa Timur
Jawa Timur
Qur’an-Qur'an dari Jawa Timur: Tradisi Dluwang, Indo-Persia, dan Timur Tengah
Banyak mushaf
Al-Qur’an dari Jawa Timur yang mencerminkan tradisi lokal, terutama dilihat
dari jenis kertas, kaligrafi, dan iluminasinya (Gambar 1, 2, 3, 4). Meskipun demikian,
tradisi intelektual masa lalu di Jawa Timur – juga Nusantara secara lebih luas
- menghubungkan kawasan ini dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah dan
Indo-Persia. Di antara pusat Islam yang terpenting pada masa lalu adalah Haramain, yang
merupakan pertemuan berbagai tradisi Islam: Turki, Afrika Utara, Persia, Asia
Tengah, dan India. Eratnya hubungan tersebut tercermin dalam beberapa mushaf
yang ditemukan di Jawa Timur.
Gambar 1, mushaf koleksi Museum Mpu Tantular, Sidoarjo.
Jumat, 12 Oktober 2012
Qur'an Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar
Apakah mushaf al-Qur'an itu bukan naskah/manuskrip? Maaf, pertanyaan ini perlu juga ditulis di sini, karena ada sebagian peneliti/penelusur naskah keagamaan yang (sering?) tidak memasukkan mushaf dalam hasil 'buruan'-nya, dan mengabaikan begitu saja di lapangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa mushaf bukanlah teks yang unik, dan mungkin, pikirnya, semua mushaf toh sama saja teksnya: buat apa dicatat? Tentu sah-sah saja menganggap seperti itu, karena mungkin penelusuran mereka mempunyai tujuan tertentu. Tetapi, tidak memasukkan mushaf dalam kumpulan naskah, menjadikan gambaran tentang khazanah naskah menjadi kurang utuh! Akhirnya, cita-cita untuk dapat menggambarkan tradisi intelektual, juga aspek lainnya, yang berlangsung pada masa lalu juga menjadi kurang utuh. Mushaf (awas, harap dibedakan dengan Qur'an!), sebagai salah satu benda budaya sebagaimana naskah lainnya, tentu mempunyai banyak aspek yang bisa dipelajari, dan merupakan satu kesatuan bersama 'teman-teman' naskah lainnya. Lebih dari itu, di lapangan kita tahu, akses terhadap naskah itu seperti suatu keberuntungan, seperti suatu kesempatan: tidak akan datang dua kali! Jika kita di lapangan menemukan naskah, perlu dicatat dan didokumentasi saat itu juga (syukur dalam bentuk foto). Kita perlu melakukan apa saja yang bisa kita lakukan, sebab "lain waktu, lain cerita". Jika kita datang untuk yang kedua kali, belum tentu kita bisa mendapatkan kembali naskah yang sama!
Nah, tidak ada hubungannya dengan paragraf di atas, namun agak disayangkan juga, Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar (disusun oleh Oman Fathurahman dkk, Jakarta: Komunitas Bambu dll, 2010) tidak memuat koleksi Qur'an yang dimiliki dayah tua nan penting ini. (Informasi selebihnya tentang katalog ini lihat http://www.manassa.org/main/publikasi/index.php?detail=20100802170545). Koleksi naskah yang diperikan dalam katalog setebal xxxiv + 374 halaman itu berjumlah 280 jilid naskah, terdiri atas 367 teks. Kategori kandungan isinya, yaitu ilmu al-Qur'an, hadis, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, tatabahasa, logika, sejarah, zikir dan doa, serta lain-lain. Terbanyak adalah fikih (99 teks), tatabahasa (78 teks), dan tasawuf (55 teks), dst. Penyusun tidak menyebutkan alasan mengapa naskah-naskah mushaf tidak disertakan dalam katalog yang penting dan hebat ini.
Halaman iluminasi awal mushaf koleksi Dayah Tanoh Abee.
Langganan:
Postingan (Atom)






