Tampilkan postingan dengan label -Jangan langsung percaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -Jangan langsung percaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

Bukan disalin di Sambas

Jangan langsung percaya! (13)

        Kita perlu kritis, jangan langsung percaya terhadap semua yang tertulis di manuskrip! Di bagian akhir mushaf ini tertulis: "Selesai di Sambas 2 Safar sanat 1071, ditulis al-Haj Asy'ari al-Hafiz adanya". Tetapi, apakah fakta-fakta lain dalam naskah ini mendukung?
Iluminasi 'wadana gapura' di awal mushaf.

Senin, 11 Mei 2020

Ditulis oleh Ar-Raniri?

Jangan langsung percaya! (12)

        Sekali lagi, jika Anda pergi ke museum—suatu tempat yang seharusnya tidak ada informasi yang salah—jangan langsung percaya kepada semua informasi yang disajikan! Kita perlu kritis. Bahkan, lebih dari itu, juga jangan langsung percaya kepada semua tulisan yang terdapat di manuskrip! Untuk memperoleh informasi yang autentik, kita perlu menimbang-nimbang gaya tulisan, alat tulis, tinta, kertas, jilidan, atau aspek kodikologis lainnya.
Gambar 1. Tulisan di sebuah manuskrip Qur'an.

Minggu, 28 Agustus 2016

Karakter tulisan

Jangan langsung percaya! (11)

        Meneliti Qur’an cetakan—sebenarnya begitu juga manuskrip—jangan mudah percaya... Sebuah mushaf yang mungkin dicetak oleh Mustafa al-Babi al-Halabi, Mesir—kita pun tidak tahu, apakah ini cetakan ulang oleh penerbit lain atau bukan—mencantumkan pada kolofon di bagian akhir mushaf bahwa mushaf tersebut selesai ditulis oleh Hafiz Usman pada 1299 H (1881). Itu jelas mustahil, karena kaligrafer jenius Turki Usmani itu hidup pada abad ke-17 (1642-1698) (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.co.id/2016/08/hafiz-usman.html)!
Nah, kita perlu mempertimbangkan karakter tulisan. Tampak bahwa angka tahun '1299' di bagian bawah kolofon itu ditambahkan oleh orang berbeda, dan pada masa yang berbeda. Karakter tulisannya tidak sama dan tampak begitu sederhana, tidak sesuai kaidah kaligrafi standar. Seorang kaligrafer hebat pasti tidak akan menulis angka '2' dalam bentuk yang biasanya digunakan dalam tulisan sehari-hari.
Kolofon di akhir mushaf.

Goresan angka '2' yang 'tidak standar'.

Jumat, 18 September 2015

Pewarnaan baru

Jangan langsung percaya! (10)
 
        Setiap naskah memiliki sejarahnya sendiri. Tidak semua naskah sekali diproduksi pada masa dahulu, lalu tidak mengalami intervensi dalam perjalanannya hingga masa kini. Dan, janganlah langsung percaya jika ada orang mengatakan bahwa sebuah naskah yang ia bawa itu KUNO sepenuhnya!
 Warna: 'ngêjrèng'!

Jumat, 21 Maret 2014

Qur'an "tiban"

Jangan langsung percaya! (9)

        Rupanya berita ini sudah lama, 8/8/2011, tapi saya baru menemukan di internet: “Pria misterius sumbangkan al-Qur’an Kuno” <http://nasional.news.viva.co.id/news/read/238871-pria-misterius-sumbangkan-al-quran-kuno>. Modus “misterius” seperti itu juga pernah terjadi di Desa Bojongleles, Banten, April 2009 <https://quran-nusantara.blogspot.com/2013/03/quran-kuno-kunoan-2.html>. Pada waktu itu, karena baru pertama kali muncul, masyarakat dan instansi terkait benar-benar dibuat sibuk oleh Qur’an tiban (tiba-tiba ada) itu.  
        Nah, entah mengapa, tampaknya “keajaiban” dan hal-hal yang di luar akal, sering dijadikan modus untuk 'memperkenalkan' Qur’an sejenis itu di masyarakat. Sekitar tiga tahun yang lalu, ada seseorang datang ke sebuah museum membawa Qur’an dan “berceramah” dengan panjang lebar dan berapi-api (dalam logat Sumatera – maaf) bahwa di dalam Qur’an yang dibawanya itu ada tanda tangan Paus Johanes Paulus! Hah, apa hubungan Qur’an ini dengan Sang Paus? Ketika seorang kawan menanyakan di mana tanda tangannya, dia jawab, “Wah, itu tidak bisa dilihat oleh orang biasa!” Dan, dia pun mengatakan, dengan nada meyakinkan, bahwa Qur'an tersebut muncul bersama halilintar yang menyambar! Ono-ono ae!
Beberapa Qur'an 'kuno-kunoan' dari daun lontar. 

Jumat, 21 Februari 2014

Khasiat Qur'an kecil?

Jangan langsung percaya! (8)

Ada seorang pembaca blog yang bertanya tentang khasiat Qur'an kecil. Nah, sebaiknya kita jangan buru-buru percaya pada informasi tentang khasiat-khasiat super dahsyat, yang tidak masuk akal, di luar kewajaran, dari sebuah Qur’an kecil. Namun, memang kenyataan, ada sebagian masyarakat yang mempercayainya. Padahal, Qur’an bagaimanapun tetap Qur’an. Besar atau kecil hanya soal ukuran! Qur’an adalah pedoman hidup Muslim, dan merupakan petunjuk bagi yang membaca dan memahami isi-nya.
        Terkait ini, kita perlu tahu bahwa tidak sedikit Qur’an kecil yang dicetak sembarangan – kalau tidak dikatakan ngawur. Teks Qur'annya tidak bisa dibaca, bahkan sebagian ayat terhapus, karena mutu cetakan tidak sempurna. Juga sebagian halaman masih terlipat, tidak bisa dibuka, dan mutu jilidan yang 'kacau'. Kok tega ya, orang memproduksi dan menjual Qur’an seperti itu?!
     Nah, bagaimana mungkin sebuah Qur’an kecil yang dicetak sembrono seperti ini bisa memberi khasiat super dahsyat di luar akal sehat?
Cetakan teks Qur'an yang tidak sempurna.

Qur'an Kecil Peninggalan Cheng Ho?

Jangan langsung percaya! (7)

Ada informasi di sebuah blog yang menyatakan bahwa sebuah Qur’an kecil mirip foto di bawah ini (lebih lanjut lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/12/lagi-quran-kecil.html) merupakan peninggalan Laksamana Cheng Ho! Nah, sebaiknya kita jangan buru-buru percaya. Mengapa? Cheng Ho merupakan penjelajah Muslim yang hidup pada tahun 1371-1433 (lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho). Beberapa penjelajahannya ke sejumlah pelosok negeri dilakukannya pada awal abad ke-15, yaitu antara tahun 1405-1433. Sedangkan Qur’an kecil yang ditunjukkan dalam informasi tersebut, sebagaimana terbaca pada kolofon (catatan naskah) di akhir Qur’an, adalah jelas-jelas cetakan Istanbul, akhir abad ke-19 (lihat juga http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/12/quran-kecil.html). Penulis asli Qur'an ini adalah Hafiz Usman, seorang kaligrafer (khattat) kenamaan Kesultanan Turki Usmani, selesai ditulis pada awal bulan Sya'ban 1097 H (Juni 1686). Namun Qur'an ini sendiri adalah hasil cetakan, yaitu dicetak di Percetakan Usmaniyah (al-Matba'ah al-Usmaniyah) pada Ramadan 1304 H (Juni 1887). 

Minggu, 29 Desember 2013

Label di museum

Jangan langsung percaya! (6)

Bahkan di museum – suatu tempat yang seharusnya tidak boleh ada informasi yang salah – kita jangan langsung percaya! Di sebuah museum (sssst, di Indonesia!) di sebuah pajangan Qur’an tua terdapat label, “Al-Qur’an tulisan tangan terbuat dari kulit kayu berumur ±500 tahun. Al-Qur’an ini ditulis oleh Muhammad … yang mengaji di negara Pakistan tahun 1500 M”. Nah, “tulisan tangan” benar, “terbuat dari kulit kayu” mungkin benar, tapi informasi “berumur 500 tahun” dan “ditulis oleh…” sepertinya agak sulit dipertanggungjawabkan! Mungkin, informasi seperti ini diperoleh dari qīla wa qāla (“konon katanya”).
Foto: istimewa

Jumat, 29 November 2013

Cetakan litografi

Jangan langsung percaya! (5)

Jangan percaya kepada pengurus masjid! Haha…, maaf, maaf, ini terkait dengan keterangan tentang suatu Qur’an cetakan. Pernah, seorang peneliti Qur’an menulis laporan penelitian demikian panjang, dan mengajukannya untuk dimuat di sebuah jurnal, namun dia keliru mengidentifikasi Qur’an cetakan sebagai manuskrip (tulisan tangan)! Ia menyatakan bahwa naskah yang ditelitinya itu sebagai tulisan tangan, padahal merupakan cetakan litografi. Nah, kekeliruan itu bersumber dari keterangan pengurus masjid yang ‘ditelan mentah’. Maka sekali lagi, janganlah langsung percaya!

Cetakan litografi yang 'lentur' sebagaimana tulisan tangan biasa: 
Qur'an cetakan Muhammad Azhari, Palembang, 1848.

Kamis, 28 November 2013

Asal naskah

Jangan langsung percaya! (4)

Jika Anda menemukan sebuah manuskrip di suatu daerah, janganlah langsung percaya – tapi pasti Anda tidak! – bahwa naskah tersebut merupakan asli naskah setempat. Tidak hanya sekarang, pada zaman dahulu migrasi naskah dari suatu tempat ke tempat lainnya juga banyak terjadi, bahkan sampai ke tempat-tempat yang cukup jauh, dengan berbagai sebab: bisa hadiah, jual-beli, bahkan bisa juga merupakan rampasan. Sebuah Qur’an asal Aceh di Singaraja, Bali, membuktikan hal ini. Meskipun orang setempat mengatakan bahwa naskah tersebut merupakan asli tempatan, kita boleh saja mengangguk-angguk, tapi jangan percaya! Bagaimana kita bisa ‘yakin’ tentang asal-muasal suatu naskah?
Qur'an Aceh di Bali.

Senin, 25 November 2013

Huruf 'mim' setelah angka tahun

Jangan langsung percaya! (3)

Pada sebuah pameran, seorang pedagang dan kolektor naskah tergopoh-gopoh menunjukkan sebuah koleksinya yang menurut dia disalin sejak sebelum zaman para wali! Dia memperlihatkan kolofon di akhir naskah, yang tertulis angka 1300 sekian, diikuti huruf mim. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya bahwa naskah miliknya itu telah disalin sebelum zaman para wali di Jawa! Mengapa?
Contoh penggunaan huruf mim pada akhir sebuah naskah 
dari Palembang, pertengahan abad ke-19.

Masalah angka lima

Jangan langsung percaya! (2)

Seorang pemilik naskah menyatakan bahwa naskah miliknya “amat sangat tua sekali”, berdasarkan sebuah bentuk angka 5 yang ada di bagian depan naskahnya. Bentuk angka 5-nya berupa lingkaran, tidak jauh berbeda dengan angka 5 yang berlaku dewasa ini. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya pada ketuaan naskah miliknya itu! Mengapa?
Penulisan angka 5, 4, dan 0 pada sebuah Qur'an di Sulawesi Barat.

Kamis, 22 Agustus 2013

Masalah tulisan dan bahasa

Jangan langsung percaya! (1)

Sebaiknya, jangan langsung percaya pada semua informasi yang ada pada suatu naskah. Perlu lebih cermat, apalagi jika Anda, misalnya, sedang meneliti naskah, atau kolektor yang mau membeli naskah. Hal-hal yang terkait tulisan, bahasa, kertas, tinta, warna, dan ilumniasi, akan membatu kita untuk menganalisis keaslian informasi pada suatu naskah. Beberapa contoh gambar di bawah ini sepertinya menarik.
Gambar 1.