Tampilkan postingan dengan label (c) Mushaf Cetakan 1933-1983. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (c) Mushaf Cetakan 1933-1983. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Januari 2021

"Qur'an '60-an" (2): Cetakan Kementerian Agama, 1967

Pada tahun 1967 Kementerian Agama RI melalui Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur'an menerbitkan mushaf dengan pengantar Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. "Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur'an adalah salah satu yayasan yang dibentuk oleh Departemen (sekarang 'Kementerian') Agama dengan tugas kewajiban menterjemah dan mentafsir Al-Qur'an serta memperbanyak tersebarnya Al-Qur'an di Tanah Air kita Indonesia," demikian bunyi satu paragraf mukadimah Ghazali Thayib, ketua yayasan ini. Penerbitan mushaf ini merupakan hasil kerja sama dengan Percetakan Yamunu, Jakarta.

Jumat, 09 Oktober 2020

Cetakan Kemenag 1960

"Qur'an '60-an (1)"

Tepat pada Hari Pahlawan 10 November 1960 Menteri Agama K.H. Muhammad Wahib Wahab mengeluarkan tanda tashih untuk mushaf yang diterbitkan oleh Kementerian (waktu itu 'Departemen') Agama sendiri. Format tanda tashihnya berbeda dengan yang berlaku dewasa ini. Tanda tashih dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Agama, disertai empat nama pentashih. Sedangkan Kepala Lajnah Pentashih Mashaf (sic) Al-Qur'an di bagian bawah, H. Muhammad Saleh Suaidi, memberikan himbauan agar umat Islam memelihara kesucian mushaf. Tanda tashih ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Arab (halaman recto) dan bahasa Indonesia di sebaliknya (verso). 

Dari karakter huruf teks Al-Qur'annya yang tebal, kita ketahui bahwa mushaf ini merupakan reproduksi mushaf Bombay. Rupanya, mushaf inilah yang sering disebut sebagai "Qur'an Tahun '60-an" sebagai bahan penyusunan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia. Sayang sekali, kondisi mushaf ini tidak lengkap. Bagian awal dan akhir mushaf telah hilang. Namun, untung-nya, lembar tanda tashih yang telah koyak tersimpan di tengah mushaf. 

Tanda tashih versi bahasa Indonesia.


Rabu, 25 Juni 2014

Mustafa Nazif

Penulis “Qur’an Kudus”

Melalui perbadingan tulisan, dapat dipastikan bahwa penulis "Qur'an Kudus" adalah Mustafa Nazif (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html). Namun, siapa dia? Dalam literatur kaligrafi Turki saya menemukan ada tiga nama "Nazif", yaitu Mustafa Nazif, Haji Nazif Bey (1846-1913), dan Mehmed Nazif . Pertanyaannya, apakah tiga nama Nazif itu sebenarnya satu orang, atau masing-masing berbeda?  Penasaran dengan teka-teki itu, saya bertanya kepada Prof. M. Ugur Derman, sejarawan kaligrafi Turki terpandang saat ini. 
Kolofon di akhir Qur'an yang menyatakan bahwa penulisnya adalah Mustafa Nazif.

Rabu, 20 Maret 2013

Qur'an Kudus (2): Qur'an dari Turki

Sejak awal kemunculan “Qur’an Pojok” (sebutan untuk mushaf yang setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat) di Turki pada akhir abad ke-16, mushaf jenis ini terkait erat dengan para penghafal Al-Qur’an. Setiap halaman yang diakhiri dengan akhir ayat sangat memudahkan para penghafal dalam mempelajari tahap-tahap hafalan.
    Dalam sejarahnya, di Turki, “Qur’an Pojok” (dalam bahasa Turki disebut āyet ber-kenār) paling tua adalah sebuah mushaf bertahun 1598, dengan 14 baris tulisan (Derman 2010: 103). Pada awalnya, jumlah baris setiap halaman bervariasi, namun sejak paruh kedua abad ke-18 mushaf jenis ini selalu terdiri atas 15 baris, dan ini menjadi standar sampai berakhirnya penyalinan naskah mushaf secara manual pada akhir abad ke-19 (Stanley 2004: 59).
    Selama beberapa dasawarsa sejak awal tahun 1930-an, produksi mushaf di Indonesia didominasi oleh cetak ulang “Qur’an Bombay” yang berciri huruf tebal. Keadaan itu berlangsung hingga tahun 1970-an, ketika Penerbit Menara Kudus mulai mencetak “Qur’an Sudut” (nama lain model ini) untuk memenuhi kebutuhan para santri yang belajar menghafal Al-Qur’an. 
"Qur'an pojok" cetakan Turki: halaman Surah al-Kahf.

Sabtu, 23 Februari 2013

Pencetakan Qur'an

Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Suhuf, Vol.4 No.2, 2011, hlm. 271-287. File pdf bisa diunduh di http://academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia. Untuk pengutipan, sebaiknya mengacu pada terbitan di Jurnal Suhuf itu.

Ali Akbar
Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta

Tulisan ini menguraikan perkembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak masa awal pertumbuhannya pada pertengahan abad ke-19 hingga dewasa ini. Tulisan ini juga membahas pengaruh mushaf Al-Qur’an cetakan India dan Turki dalam masa awal pencetakan mushaf di Indonesia. Sejumlah penerbit mushaf yang berperan pada masa itu, demikian pula dalam perkembangannya hingga dewasa ini, digambarkan dengan ringkas. Sementara, bagian akhir tulisan ini membahas perkembangan kreatif dalam industri penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
 Kata kunci: mushaf Al-Qur’an, cetakan, Indonesia.

This article outlines the development of the printing of the Qur’an in Indonesia from its advent in the middle of 19th century to the present.  It also traces the influence of printed Qur’ans from India and Turkey on the early period of Qur’anic printing in Indonesia, and gives brief descriptions of some publishers of the Qur’an throughout the period in question. The last section analyses recent creative developments in the Qur’an publishing industry in  Indonesia.
 Key words:  Qur’an, printing, Indonesia.

Senin, 04 Februari 2013

Mushaf Indonesia

"Mushaf Indonesia" Ibnu Sutowo

Pernahkah Anda mendengar "Mushaf Indonesia"? Inilah mushaf (atau "mashaf", begitu dalam Qur'an ini disebut) yang ditulis atas prakarsa Dr Haji Ibnu Sutowo, sekaligus sebagai pemilik naskah asli. Ibnu Sutowo pada tahun 1970-an dikenal sebagai 'raja minyak', dan pendiri Yayasan Pendidikan Al-Qur'an yang menaungi Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) di Jakarta Selatan. 
'Perencana/pelaksana' pembuatan mushaf ini adalah HM Umar Murad, dan ditulis oleh Muhammad Syadzali, kaligrafer yang juga menulis Mushaf Standar Indonesia edisi pertama (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/10/mushaf-al-quran-standar-indonesia.html). Pembuat hiasan bingkai mushaf adalah Azhari Nur dan H Muzammil. Mushaf ini diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Al-Qur'an dengan bantuan pemerintah Arab Saudi. Mushaf yang dicetak di Percetakan PT Al-Ma'arif Bandung ini "disiarkan dengan cuma-cuma". Mushaf ini menggunakan rasm usmani, dengan sistem 'ayat pojok' yang biasa digunakan oleh para penghafal Qur'an.

Kamis, 24 Januari 2013

Cetakan al-Ma'arif, Pulau Pinang

Mengenal Mushaf al-Qur’an di Malaysia (3)

Mushaf cetakan al-Ma’arif, Pulau Pinang

Di kawasan Asia Tenggara, salah satu pusat produksi mushaf pada pertengahan abad ke-20 adalah Pulau Pinang – selain Singapura, Bukittinggi, Surabaya, Cirebon, Bandung, dan Jakarta. Para penerbit yang biasanya sekaligus sebagai percetakan di beberapa kota itu, pada masanya, merupakan “kepanjangan tangan” dari produksi mushaf Bombay. Boleh dikatakan bahwa pada era itu semua Qur’an yang dicetak di kawasan ini merupakan reproduksi cetakan India, dengan karakter huruf yang ekstra tebal.
Mushaf cetakan Al-Ma’arif Pulau Pinang ini tanpa tarikh produksi, namun berdasarkan ciri fisiknya, kemungkinan dicetak pada pertengahan abad ke-20 atau dasawarsa kemudian. Pada bagian depan mushaf cetakan ini dilengkapi dengan ‘muatan lokal’ berupa ilmu tajwid dalam tulisan Jawi sebanyak 15 halaman. Muatan lokal ini merupakan tambahan oleh percetakan Al-Ma’arif, seperti juga dilakukan oleh para pencetak mushaf lainnya pada zaman itu.
Dewasa ini, mushaf jenis ini tidak digunakan lagi di Malaysia, karena sejak Saudi Arabia melalui Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif mengeluarkan “Mushaf al-Madinah an-Nabawiyah” pada Januari 1985 (Jumadil Awal 1405 H), pemerintah Malaysia (dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri yang berwenang mentashih mushaf) hanya mengesahkan  “Mushaf Saudi” itu untuk penggunaan di Malaysia. Demikian pula dengan pemerintah Brunei Darussalam. Sedangkan pemerintah Indonesia, dengan pertimbangan historis dan luasnya persebaran mushaf Bombay di Nusantara, tetap mengakomodasi mushaf jenis ini, hingga kini, dengan modifikasi tertentu sesuai ‘Mushaf al-Qur’an Standar Indonesia’ (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/quran-bombay-karya-toha-putra-2000.html).
Mushaf ini adalah koleksi Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta.


Senin, 17 September 2012

Penerbit Al-Ma'arif, Bandung

Mushaf Cetakan Penerbit Al-Ma'arif, Bandung, 1950-an

Penerbit Al-Ma’arif, Bandung, Jawa Barat, didirikan oleh Muhammad bin Umar Bahartha pada tahun 1948, menyusul generasi pertama pencetak mushaf Al-Qur’an di Indonesia yang dipelopori Abdullah bin Afif Cirebon  –  yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930-an bersamaan dengan Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan Penang – serta Salim bin Sa’ad Nabhan Surabaya. Para penerbit itu tidak hanya mencetak Al-Qur’an, namun juga buku-buku keagamaan lain yang banyak dipakai umat Islam. Al-Ma'arif aktif sebagai penerbit dan percetakan hingga sekitar tahun 1985.
Mushaf cetakan Al-Ma'arif, 1950-an, di bawah ini adalah reproduksi cetakan Bombay dengan tambahan "Kitab Tajwid" di bagian akhir mushaf.

Minggu, 27 Mei 2012

Qur'an Kudus (1): Cetakan 1974

'Mushaf pojok' (yang setiap halaman berakhir dengan penghabisan ayat) ini biasanya digunakan oleh para santri tahfiz, berukuran 15,5 x 11,5 cm, tebal 2,5 cm. Memperoleh izin edar dari Kepala Lembaga Lektur Keagamaan tertanggal 29 Mei 1974, setelah selesai ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an pada tanggal 16 Mei 1974. Melalui perbandingan kaligrafi -- meskipun di dalam mushaf ini tidak dicantumkan nama penulisnya -- dapat dipastikan bahwa khat mushaf ini ditulis oleh Mustafa Nazif, kaligrafer terkenaTurki (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html).

Sampul plastik hijau.
Al-Qur'an Bombay Menara Kudus, 1974


Cetakan Tintamas, 1954

Tintamas, Jakarta, 1954

Qur'an ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, dengan tambahan di bagian belakang mushaf sebanyak 13 halaman, berupa ilmu tajwid (disusun oleh Muhammad Ali al-Hamidi, Jatinegara, 1954), tanda waqaf, tashih oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan Muhammad Zain Jambek, serta daftar surah dan juz.

Sampul berbahan karton.
Pustaka al-Haidari Kutaraja dan Pustaka Andalus Medan, 1951-1952

Reproduksi cetakan Bombay, India, yang negeri asalnya mushaf ini dicetak kira-kira 10 tahun sebelumnya, yaitu Rabiul Akhir 1359 H (Mei-Juni 1940).


Sinar Kebudayaan Islam, Jakarta, 1951

Reproduksi cetakan Bombay, dengan halaman tambahan di akhir mushaf berupa ilustrasi makharij huruf, daftar juz dan surah yang ditulis oleh khattat Abdul Razaq Muhili.

Jumat, 25 Mei 2012

Al-Ma'arif Bandung

Mushaf cetakan Al-Ma'arif, Bandung 1950/1957

Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, dengan surat izin mencetak Al-Qur'an dari Menteri Agama KH M Iljas, tertanggal 18 November 1957. Di halaman depan dinyatakan bahwa mushaf ini "di bawah pengawasan sejumlah dari ahli qiraah yang teliti", tertanggal 1-1-1950.



Mushaf cetakan Abdullah bin Afif, Cirebon, 1933-1957

Mushaf al-Qur'an ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, dengan tambahan "muatan lokal" di akhir mushaf, berupa uraian ilmu tajwid, tanda tashih, dan lain-lain.


Kamis, 24 Mei 2012

Cetakan Bukittinggi 1933

Cetakan Matba'ah Al-Islamiyah, Bukittinggi, 1933

Mushaf al-Qur'an ini dicetak oleh Percetakan (Matba'ah) Al-Islamiyah milik HMS Sulaiman, Bukittinggi, Sumatra Barat. Selesai dicetak pada bulan Rabi'ul Akhir 1352 H (Juli-Agustus 1933). Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, India, dan merupakan generasi awal cetakan mushaf Al-Qur'an di Indonesia.