Tidak banyak penyalin Qur'an abad ke-19 yang dapat dikenali pada abad ke-21 ini, terlebih di kawasan Melayu. Kebanyakan penyalin Qur'an tidak mencantumkan namanya, barangkali, karena tidak ingin menonjolkan diri. Salah satu penyalin Riau yang dapat kita kenali namanya saat ini adalah Haji Abdul Karim yang menyalin di Daik, Pulau Lingga, Kepulauan Riau, seperti terbaca jelas dalam kolofon di akhir mushaf ini. Karya tulisnya cukup halus, dari awal hingga akhir mushaf. Tampak jelas bahwa Haji Abdul Karim bin Abbās bin Abdurraḥmān bin Abdullāh al-Banjār adalah penyalin terlatih. Sayang sekali, sebagaimana penyalin lainnya pada abad ke-19, riwayat hidupnya tidak dapat ditelusuri lagi. Mushaf ini selesai ditulis pada hari Jumat, 13 Jumadil Awal 1249 H (27 September 1833).
Blog untuk kajian sejarah dan seni mushaf al-Qur'an di Asia Tenggara. Semua foto dibuat oleh penulis, kecuali disebut sumbernya. Terbit sejak 2012.
Tampilkan postingan dengan label -Para Penyalin Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -Para Penyalin Qur'an. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Agustus 2023
Sabtu, 22 September 2018
Para Penulis 'Mushaf Standar Indonesia'
Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia terdiri atas tiga jenis, yaitu Mushahaf
Standar Usmani, Mushaf Standar Bahriyah, dan Mushaf Braille. Tulisan ini akan
menjelaskan tentang para penulis mushaf standar, khususnya Mushaf Standar
Usmani dan Mushaf Standar Bahriyah.
Mushaf Standar Usmani pertama kali ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa'ad
pada tahun 1973-1975 (1394-1396 H). Namun, sebagai "Mushaf al-Qur'an
Standar Indonesia" dengan 'rasm usmani' baru diresmikan pada tahun 1984
sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 25 tahun 1984
tentang Penetapan Mushaf Al-Qur'an Standar Mushaf Al-Qur'an yang ditulis oleh
Muhammad Syadzali ini, dalam contoh di bawah, diterbitkan oleh Maktabah
Sa'adiyah Putra, Jakarta, 1985. Di samping menulis "Mushaf Al-Qur'an
Standar Indonesia" edisi pertama, kaligrafer Muhammad Syadzali juga
menulis mushaf 30 juz lainnya, yaitu "Mushaf Indonesia" (ada yang
menyebut “Mushaf Pertamina”) atas pesanan Ibnu Sutowo yang selesai ditulis
tahun 1979. Muhammad Syazali lahir di Tangerang, 1913 dan wafat 1979. Semasa
hidupnya Syazali tinggal di Jl. Kenari, Jakarta Pusat, hingga akhir hayat.
Cover Mushaf Standar Usmani karya Muhammad Syazali, 1985.
Jumat, 26 Agustus 2016
Penyalin Qur'an (5): Hafiz Usman, Turki, Abad ke-17
Al-Ḥāfiẓ ʻUṡmān, kaligrafer jenius ini lahir di Istanbul pada 1642, putera Ali Efendi, seorang muazin Masjid Haseki. Usman muda menghafal Al-Qur’an sejak kecil sehingga dikenal sebagai al-Ḥāfiẓ (penghafal Qur'an). Ia mulai belajar enam gaya kaligrafi dasar kepada Darwis Ali selama beberapa tahun, kemudian sang guru mengirim Usman untuk belajar kaligrafi kepada murid terbaiknya, Suyolcuzade Mustafa el-Eyyubi (w. 1686). Hafiz Usman cepat menjadi salah satu muridnya yang terdepan, memperoleh ijazah ketika masih berumur 18. Ia lalu belajar kepada Nefeszade Ismail Efendi (w. 1678) yang mengajarinya metode Syaikh Hamdullah secara detail. Hafiz Usman meninggalkan metode Syaikh Hamdullah pada 1678 dan mulai menggunakan metodenya sendiri. Meskipun pada awalnya ia dikritik, inovasi tulisan yang ia perkenalkan kemudian diterima.
Mushaf hasil karya tulis Hafiz Usman (1642-1698) yang dicetak pada 1881 di Istanbul.
Sabtu, 30 Mei 2015
Penyalin Qur'an (4): Prof Salim Fachry, penulis Mushaf Pusaka
Salah satu mushaf penting koleksi Bayt al-Qur’an &
Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, adalah “Mushaf Pusaka”. Mushaf ini ditulis atas prakarsa
Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno dan merupakan mushaf resmi yang ditulis
tangan pertama kali setelah kemerdekaan RI. Mushaf ini dianggap sebagai hadiah
dari umat Islam Indonesia untuk kemerdekaan RI. Mushaf Pusaka ditulis oleh Prof Drs H Salim Fachry, guru besar IAIN Jakarta (wafat 1988), dimulai pada 23 Juni 1948 (17 Ramadan 1367 H), selesai 15 Maret 1960.
Halaman awal Mushaf Pusaka.
Minggu, 18 November 2012
Penyalin Qur'an (2): Safaruddin, Grobogan(?)
Mushaf ini ditulis oleh Safaruddin, asal Panunggalan (barangkali Panunggalan, Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah?), diterbitkan oleh Penerbit CV Wicaksana, Semarang, tahun 2001. Untuk menegaskan bahwa mushaf ini dengan rasm usmani, di halaman depan ditulis muwafiq li ar-rasm al-usmani (sesuai rasm usmani). Ukuran mushaf 15 x 11 cm. Mushaf ini selesai ditulis pada tahun 1418 H/1998, seperti tercantum di halaman awal dan akhir mushaf, namun baru terbit tiga tahun kemudian, tahun 2001, dengan tanda tashih tertanggal 30 Mei 2001. Tanda tashih ditandatangani oleh H Abdullah Sukarta (Kepala Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an) dan H Muhammad Shohib Tahar (Sekretaris).
[Catatan: Tidak banyak yang diketahui tentang riwayat hidup penulis mushaf ini. Jika di antara pembaca ada yang mengetahui riwayat hidup Safaruddin, mohon dapat berbagi melalui kotak komentar di bawah, atau email ke alamat saya: aliakbar.kaligrafi@gmail.com. Terima kasih.]Rabu, 14 November 2012
Para Penulis Qur'an di Indonesia: Penelusuran Awal
Sejak berabad
lampau, ketika mushaf Al-Qur’an masih disalin satu per satu secara manual, para
penyalin mushaf Nusantara telah berkarya dengan baik. Banyak mushaf telah
ditemukan, tersebar dari Aceh hingga Ternate, atau bahkan mungkin Raja Ampat di Papua.
Namun para penyalin mushaf tersebut kebanyakan tidak mencantumkan namanya
di dalam mushaf hasil karyanya – barangkali agar tidak mengurangi rasa
takzimnya kepada Al-Qur’an, atau alasan lainnya. Dari kolofon yang ada, tidak terlalu banyak
nama penyalin yang dapat dicatat hingga berakhirnya tradisi
manuskrip pada akhir abad ke-19.
Sejak pertengahan abad ke-19, mengawali teknologi cetak mushaf di Asia Tenggara, pada 1848 Muhammad Azhari menulis dan mencetak mushaf untuk pertama kali di kawasan ini (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-palembang-1848-mushaf.html). Berdasarkan bukti yang ada, ia juga menyalin mushaf lainnya, dan selesai dicetak pada 1854 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Pada periode cetak awal ini, beberapa penulis Nusantara juga berkarya di percetakan mushaf di Singapura. Di antara penyalinnya adalah Muhammad Hanafi bin Sulaiman as-Sumbawi (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/bali-koleksi-masjid-agung-jami.html), dan (mungkin orang yang sama, atau bersaudara) Haji Muhammad bin al-Marhum Sulaiman Sumbawi (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/mushaf-cetakan-singapura.html).
![]() |
| Tulisan Haji Muhammad bin al-Marhum Sulaiman Sumbawi. |
Sabtu, 03 November 2012
Penyalin Qur'an (3): Ustadz Rahmatullah, Demak
Rahmatullah ad-Dimawi - demikian ia menulis namanya di bagian akhir mushaf karyanya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Demak. Mushaf 30 juz ayat pojok dengan rasm usmani buah tangannya itu diterbitkan oleh Penerbit Asy-Syifa', Semarang, tahun 2000. Ciri hurufnya tebal, mengesankan seperti halnya mushaf asal cetakan Bombay yang disukai secara luas oleh masyarakat muslim Indonesia. Mushaf ini menggunakan model 'ayat pojok' atau 'ayat sudut' yang umum digunakan oleh para penghafal Qur'an.
Ustadz Rahmatullah telah wafat beberapa tahun lalu. Semasa hidup ia bersama adiknya, Ustadz Mujib - yang juga seorang kaligrafer dan penulis mushaf - mengasuh Pesantren an-Nuriyah di Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Selain menulis mushaf, Ustad Rahmatullah banyak menulis khat untuk buku-buku agama yang biasanya terbit di Semarang dan Kudus.
Sejak sekitar 10 tahun terakhir ini, hampir semua penerbit mushaf di Indonesia "mengambil jalan pintas" memodifikasi kaligrafi Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah untuk mushaf yang mereka terbitkan. Mushaf tersebut diterbitkan oleh Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif, Saudi Arabia. Kaligrafi yang memang sangat 'cantik' pada mushaf tersebut adalah karya Usman Taha, asal Suriah. Modifikasi kaligrafi "Mushaf Madinah" menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dengan memanfaatkan teknologi komputer dewasa ini memang adalah cara murah untuk menghasilkan teks mushaf yang siap cetak. Itu adalah jalan pintas, dan tentu saja jauh lebih cepat, dan sangat murah, dibandingkan jika menulis baru. Di tengah 'jalan mudah' para penerbit seperti itu dewasa ini, mushaf dengan kaligrafi karya bangsa sendiri seperti mushaf ini menjadi barang yang mahal, langka, dan membanggakan! Kita harus bangga dengan karya sendiri. Di samping itu, mushaf 30 juz yang ditulis sendirian, bukan tim, juga dewasa ini semakin langka. Mushaf-mushaf indah dan mewah seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, Mushaf Kalimantan Barat, dan Mushaf al-Bantani, semuanya ditulis oleh tim yang terdiri atas beberapa kaligrafer. Maka mushaf yang tampak sederhana seperti ini terasa semakin istimewa. (Semoga penulisnya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah).
Ustadz Rahmatullah telah wafat beberapa tahun lalu. Semasa hidup ia bersama adiknya, Ustadz Mujib - yang juga seorang kaligrafer dan penulis mushaf - mengasuh Pesantren an-Nuriyah di Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Selain menulis mushaf, Ustad Rahmatullah banyak menulis khat untuk buku-buku agama yang biasanya terbit di Semarang dan Kudus.
Sejak sekitar 10 tahun terakhir ini, hampir semua penerbit mushaf di Indonesia "mengambil jalan pintas" memodifikasi kaligrafi Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah untuk mushaf yang mereka terbitkan. Mushaf tersebut diterbitkan oleh Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif, Saudi Arabia. Kaligrafi yang memang sangat 'cantik' pada mushaf tersebut adalah karya Usman Taha, asal Suriah. Modifikasi kaligrafi "Mushaf Madinah" menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dengan memanfaatkan teknologi komputer dewasa ini memang adalah cara murah untuk menghasilkan teks mushaf yang siap cetak. Itu adalah jalan pintas, dan tentu saja jauh lebih cepat, dan sangat murah, dibandingkan jika menulis baru. Di tengah 'jalan mudah' para penerbit seperti itu dewasa ini, mushaf dengan kaligrafi karya bangsa sendiri seperti mushaf ini menjadi barang yang mahal, langka, dan membanggakan! Kita harus bangga dengan karya sendiri. Di samping itu, mushaf 30 juz yang ditulis sendirian, bukan tim, juga dewasa ini semakin langka. Mushaf-mushaf indah dan mewah seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, Mushaf Kalimantan Barat, dan Mushaf al-Bantani, semuanya ditulis oleh tim yang terdiri atas beberapa kaligrafer. Maka mushaf yang tampak sederhana seperti ini terasa semakin istimewa. (Semoga penulisnya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah).
(Terima kasih kepada Muhammad Labid atas informasi mengenai Ustadz Rahmatullah)
Sabtu, 06 Oktober 2012
Penyalin Qur'an (1): Muhammad Syadzali Sa'ad
Penjelasan mengenai pengertian "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dan latar belakang historisnya, silakan baca "Beberapa Sumber tentang Mushaf Standar Indonesia" di tautan ini: http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/04/bibliografi-mushaf-standar-indonesia.html dan empat buku terbitan baru: http://quran-nusantara.blogspot.com/2020/05/bibliografi-mushaf-standar-2.html
Di bawah ini adalah contoh mushaf al-Qur'annya. Mushaf Standar pertama ini ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa'ad pada tahun 1973-1975 (1394-1396 H). Namun, sebagai "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" dengan 'rasm usmani' baru diresmikan pada tahun 1984 sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 25 tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Al-Qur'an Standar (lihat Lampiran I buku Mengenal Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia di http://academia.edu/3876992/Mengenal_Mushaf_Al-Quran_Standar_Indonesia).
Mushaf al-Qur'an yang ditulis oleh Muhammad Syadzali ini, dalam contoh di bawah, diterbitkan oleh Maktabah Sa'adiyah Putra, Jakarta, 1985. Mushaf ini berhuruf tipis. Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia kemudian "ditulis ulang" (istilah yang sering digunakan) dengan huruf yang tebal oleh Ustaz Baiquni Yasin dan tim pada tahun 1999-2001 (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/mushaf-standar-indonesia-usmani-2004.html). Penulisan ulang Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia dengan huruf yang tebal, konon, karena permintaan masyarakat yang menyukai huruf tebal, seperti halnya huruf Mushaf Bombay.
Kaligrafer Muhammad Syadzali mempunyai paling kurang dua karya mushaf 30 juz, yaitu "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" edisi pertama ini, dan "Mushaf Indonesia" atas pesanan Ibnu Sutowo yang selesai ditulis pada tahun 1979 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/mushaf-indonesia.html).
Di bawah ini adalah contoh mushaf al-Qur'annya. Mushaf Standar pertama ini ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa'ad pada tahun 1973-1975 (1394-1396 H). Namun, sebagai "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" dengan 'rasm usmani' baru diresmikan pada tahun 1984 sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 25 tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Al-Qur'an Standar (lihat Lampiran I buku Mengenal Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia di http://academia.edu/3876992/Mengenal_Mushaf_Al-Quran_Standar_Indonesia).
Mushaf al-Qur'an yang ditulis oleh Muhammad Syadzali ini, dalam contoh di bawah, diterbitkan oleh Maktabah Sa'adiyah Putra, Jakarta, 1985. Mushaf ini berhuruf tipis. Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia kemudian "ditulis ulang" (istilah yang sering digunakan) dengan huruf yang tebal oleh Ustaz Baiquni Yasin dan tim pada tahun 1999-2001 (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/mushaf-standar-indonesia-usmani-2004.html). Penulisan ulang Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia dengan huruf yang tebal, konon, karena permintaan masyarakat yang menyukai huruf tebal, seperti halnya huruf Mushaf Bombay.
Kaligrafer Muhammad Syadzali mempunyai paling kurang dua karya mushaf 30 juz, yaitu "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" edisi pertama ini, dan "Mushaf Indonesia" atas pesanan Ibnu Sutowo yang selesai ditulis pada tahun 1979 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/mushaf-indonesia.html).
Langganan:
Postingan (Atom)


