Tampilkan postingan dengan label (d) Mushaf Cetakan 1984-2003. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (d) Mushaf Cetakan 1984-2003. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Qur'an Cetakan

Sulitnya meneliti Al-Qur’an Cetakan

Salah satu kesulitan dalam meneliti mushaf Al-Qur’an cetakan adalah sedikitnya penerbit yang mencamtumkan tahun cetakan/produksinya. Ini tidak seperti cetakan buku bacaan biasa yang di halaman depan hampir selalu mencantumkan tarikh produksi, berupa cetakan keberapa dan tahun berapa. 
Sebagai contoh, sebuah mushaf yang penulis beli di sebuah toko di dekat Masjid Agung Surakarta, 16 Agustus 2016 lalu. Mushaf yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Surakarta ini tidak mencantumkan tahun cetak, sehingga sulit untuk memastikan tahun berapa dicetak. Kondisi mushaf masih baru, dan pasti belum lama masuk di pasar. Satu-satunya penanggalan yang ada pada mushaf ini terdapat di tanda tashih. Mushaf ini ditashih pada 6 Maret 1989, dengan nomor P.III/TL.02.1/057/1989 (lihat Gambar). Apakah mushaf ini dicetak tidak lama setelah Surat Tanda Tashih diperoleh penerbit? Bisa dipastikan tidak, karena secara fisik, kondisi mushaf—baik kertas maupun jilidannya—bukanlah dari 27 tahun lalu.
Tanda tashih tahun 1989 (kanan), tetapi Qur'an ini mungkin dicetak pada 2016.

Sabtu, 23 Februari 2013

Pencetakan Qur'an

Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Suhuf, Vol.4 No.2, 2011, hlm. 271-287. File pdf bisa diunduh di http://academia.edu/2637901/Pencetakan_Mushaf_Al-Quran_di_Indonesia. Untuk pengutipan, sebaiknya mengacu pada terbitan di Jurnal Suhuf itu.

Ali Akbar
Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta

Tulisan ini menguraikan perkembangan pencetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak masa awal pertumbuhannya pada pertengahan abad ke-19 hingga dewasa ini. Tulisan ini juga membahas pengaruh mushaf Al-Qur’an cetakan India dan Turki dalam masa awal pencetakan mushaf di Indonesia. Sejumlah penerbit mushaf yang berperan pada masa itu, demikian pula dalam perkembangannya hingga dewasa ini, digambarkan dengan ringkas. Sementara, bagian akhir tulisan ini membahas perkembangan kreatif dalam industri penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.
 Kata kunci: mushaf Al-Qur’an, cetakan, Indonesia.

This article outlines the development of the printing of the Qur’an in Indonesia from its advent in the middle of 19th century to the present.  It also traces the influence of printed Qur’ans from India and Turkey on the early period of Qur’anic printing in Indonesia, and gives brief descriptions of some publishers of the Qur’an throughout the period in question. The last section analyses recent creative developments in the Qur’an publishing industry in  Indonesia.
 Key words:  Qur’an, printing, Indonesia.

Minggu, 25 November 2012

Qur'an Bombay 2000

Mushaf al-Qur'an Bombay Terbitan PT Karya Toha Putra, 2000

Setelah berkeliling ke sejumlah toko di Jakarta, Bogor, juga Semarang, akhirnya ketemu juga yang saya cari: Qur'an Bombay! Saya agak keliru, karena semula saya duga masih banyak beredar di pasaran. Rupanya, Qur'an berhuruf tebal asal India yang sejak tahun 1930-an menjadi mushaf utama yang dibaca masyarakat muslim Nusantara, dan beredar secara luas di kawasan ini hingga tahun 1980-an, belakangan ini semakin sulit dicari di toko buku. Sejak sekitar 10 tahun terakhir, para penerbit semakin sedikit yang mencetak mushaf jenis ini. Di antara yang sedikit itu, PT Karya Toha Putra, penerbit besar Qur'an di Semarang, masih mencetak Qur'an ini dengan nama seri "al-Malik" (Penerbit ini menamai setiap jenis Qur'an yang diterbitkannya dengan nama-nama Allah dalam Asma'ul Husna). 

Minggu, 18 November 2012

Penyalin Qur'an (2): Safaruddin, Grobogan(?)

Mushaf ini ditulis oleh Safaruddin, asal Panunggalan (barangkali Panunggalan, Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah?), diterbitkan oleh Penerbit CV Wicaksana, Semarang, tahun 2001. Untuk menegaskan bahwa mushaf ini dengan rasm usmani, di halaman depan ditulis muwafiq li ar-rasm al-usmani (sesuai rasm usmani). Ukuran mushaf 15 x 11 cm. Mushaf ini selesai ditulis pada tahun 1418 H/1998, seperti tercantum di halaman awal dan akhir mushaf, namun baru terbit tiga tahun kemudian, tahun 2001, dengan tanda tashih tertanggal 30 Mei 2001. Tanda tashih ditandatangani oleh H Abdullah Sukarta (Kepala Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an) dan H Muhammad Shohib Tahar (Sekretaris). 
        [Catatan: Tidak banyak yang diketahui tentang riwayat hidup penulis mushaf ini. Jika di antara pembaca ada yang mengetahui riwayat hidup Safaruddin, mohon dapat berbagi melalui kotak komentar di bawah, atau email ke alamat saya: aliakbar.kaligrafi@gmail.com. Terima kasih.]

Sabtu, 03 November 2012

Penyalin Qur'an (3): Ustadz Rahmatullah, Demak

Rahmatullah ad-Dimawi - demikian ia menulis namanya di bagian akhir mushaf karyanya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Demak. Mushaf 30 juz ayat pojok dengan rasm usmani buah tangannya itu diterbitkan oleh Penerbit Asy-Syifa', Semarang, tahun 2000. Ciri hurufnya tebal, mengesankan seperti halnya mushaf asal cetakan Bombay yang disukai secara luas oleh masyarakat muslim Indonesia. Mushaf ini menggunakan model 'ayat pojok' atau 'ayat sudut' yang umum digunakan oleh para penghafal Qur'an.
        Ustadz Rahmatullah telah wafat beberapa tahun lalu. Semasa hidup ia bersama adiknya, Ustadz Mujib - yang juga seorang kaligrafer dan penulis mushaf - mengasuh Pesantren an-Nuriyah di Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Selain menulis mushaf, Ustad Rahmatullah banyak menulis khat untuk buku-buku agama yang biasanya terbit di Semarang dan Kudus.
        Sejak sekitar 10 tahun terakhir ini, hampir semua penerbit mushaf di Indonesia "mengambil jalan pintas" memodifikasi kaligrafi Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah untuk mushaf yang mereka terbitkan. Mushaf tersebut diterbitkan oleh Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif, Saudi Arabia. Kaligrafi yang memang sangat 'cantik' pada mushaf tersebut adalah karya Usman Taha, asal Suriah. Modifikasi kaligrafi "Mushaf Madinah" menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dengan memanfaatkan teknologi komputer dewasa ini memang adalah cara murah untuk menghasilkan teks mushaf yang siap cetak. Itu adalah jalan pintas, dan tentu saja jauh lebih cepat, dan sangat murah, dibandingkan jika menulis baru. Di tengah 'jalan mudah' para penerbit seperti itu dewasa ini, mushaf dengan kaligrafi karya bangsa sendiri seperti mushaf ini menjadi barang yang mahal, langka, dan membanggakan! Kita harus bangga dengan karya sendiri. Di samping itu, mushaf 30 juz yang ditulis sendirian, bukan tim, juga dewasa ini semakin langka. Mushaf-mushaf indah dan mewah seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, Mushaf Kalimantan Barat, dan Mushaf al-Bantani, semuanya ditulis oleh tim yang terdiri atas beberapa kaligrafer. Maka mushaf yang tampak sederhana seperti ini terasa semakin istimewa. (Semoga penulisnya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah).

(Terima kasih kepada Muhammad Labid atas informasi mengenai Ustadz Rahmatullah)

Jumat, 02 November 2012

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (Bahriyah) 1991

        Mushaf ini merupakan salah satu dari tiga jenis Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_26.html). Di bagian depan mushaf tertulis "Mushaf Ayat Sudut Departemen Agama" - artinya mushaf ini berpola 'ayat sudut' (atau 'ayat pojok'), yaitu setiap halaman, di bagian sudut/pojok bawah-kiri, berakhir dengan penghabisan ayat. Mushaf dengan model seperti ini banyak digunakan oleh para penghafal Al-Qur'an (hafiz), sejak awal kemunculannya pada akhir abad ke-16 di Turki Usmani. Di Turki, sistem penulisan mushaf ini disebut ayet ber-kenar.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Penyalin Qur'an (1): Muhammad Syadzali Sa'ad

Penjelasan mengenai pengertian "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dan latar belakang historisnya, silakan baca "Beberapa Sumber tentang Mushaf Standar Indonesia" di tautan ini: http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/04/bibliografi-mushaf-standar-indonesia.html dan empat buku terbitan baru: http://quran-nusantara.blogspot.com/2020/05/bibliografi-mushaf-standar-2.html
Di bawah ini adalah contoh mushaf al-Qur'annya. Mushaf Standar pertama ini ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa'ad pada tahun 1973-1975 (1394-1396 H). Namun, sebagai "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" dengan 'rasm usmani' baru diresmikan pada tahun 1984 sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 25 tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Al-Qur'an Standar (lihat Lampiran I buku Mengenal Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia di http://academia.edu/3876992/Mengenal_Mushaf_Al-Quran_Standar_Indonesia).
        Mushaf al-Qur'an yang ditulis oleh Muhammad Syadzali ini, dalam contoh di bawah, diterbitkan oleh Maktabah Sa'adiyah Putra, Jakarta, 1985. Mushaf ini berhuruf tipis. Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia kemudian "ditulis ulang" (istilah yang sering digunakan) dengan huruf yang tebal oleh Ustaz Baiquni Yasin dan tim pada tahun 1999-2001 (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/mushaf-standar-indonesia-usmani-2004.html). Penulisan ulang Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia dengan huruf yang tebal, konon, karena permintaan masyarakat yang menyukai huruf tebal, seperti halnya huruf Mushaf Bombay.
        Kaligrafer Muhammad Syadzali mempunyai paling kurang dua karya mushaf 30 juz, yaitu "Mushaf al-Qur'an Standar Indonesia" edisi pertama ini, dan "Mushaf Indonesia" atas pesanan Ibnu Sutowo yang selesai ditulis pada tahun 1979 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/mushaf-indonesia.html).