Tampilkan postingan dengan label (h) Tradisi Baca-Tulis Qur'an Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (h) Tradisi Baca-Tulis Qur'an Nusantara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2024

Qaidah Bagdadiyah cetakan Bombay

Astana Pangeran Mangkubumi, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, mempunyai ratusan koleksi naskah, berupa surat-surat (telah dibuat katalog, terbit 2024), dan naskah-naskah keagamaan. Sebuah koleksinya yang menarik dan langka adalah Qa'idah Bagdadiyah cetakan Bombay. 

Halaman awal yang tersisa.

Selasa, 23 April 2024

Halaman Iluminasi 'Diperjualbelikan'?

        Mushaf ini adalah anomali! Halaman awal mushaf yang memuat Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah ini dihias indah, jelas mencerminkan iluminasi gaya Terengganu (Malaysia bagian utara sekarang). Namun, anehnya, halaman-halaman mushaf selanjutnya disalin dalam gaya Jawa - terlihat, di antaranya, dari tanda juz-nya yang berupa setengah lingkaran di tepi kanan dan kiri halaman mushaf, dan iluminasi akhir mushaf yang lazim dari Jawa.
Halaman iluminasi awal mushaf.

Sabtu, 15 Februari 2020

Watermark, Asal, dan Usia Naskah


Cap kertas "Three Crescents".
Untuk mengkaji suatu naskah, asal dan usia-nya perlu diketahui terlebih dahulu, atau sekurang-kurangnya diperkirakan, sebelum mengkaji aspek lainnya secara teliti. Sebab, suatu naskah atau teks tentu saja tidak jatuh begitu saja dari langit. Naskah disalin pasti dalam ruang dan waktu historis tertentu – dalam konteks tertentu. Persoalannya, naskah-naskah Nusantara kebanyakan tidak memiliki kolofon (catatan naskah) – entah karena memang tidak ditulis oleh penyalinnya, atau karena naskahnya rusak dimakan waktu. Oleh karena itu, perlu dicari berbagai cara untuk mengetahui asal dan usia naskah. Tentu saja banyak cara untuk mengenali asal dan usia naskah, seperti dari bahasa (ini yang paling mudah!), bahan, tulisan, jilidan, iluminasi, dan lain-lain, tergantung ketersediaan informasi yang ada pada naskah yang dikaji. Karena mushaf Qur’an dalam bahasa Arab, pengkaji mushaf sering menjumpai kesulitan untuk mengidentifikasi asal dan usia mushaf. Nah, satu aspek lain yang bisa ditambahkan dalam hal ini adalah kertas.

Minggu, 08 Desember 2019

Iluminasi

Bagaimana Qur'an diproduksi pada masa lampau? (3)
Iluminasi 

Pada masa lampau, dalam penyalinan mushaf Al-Qur'an, tampaknya melibatkan dua profesi berbeda, yaitu juru tulis dan juru hias naskah. Berdasarkan warisan mushaf yang ada, kita dapat memperkirakannya. Mushaf koleksi Museum Negeri Aceh di bawah ini merupakan contoh yang baik. Iluminasi pada halaman awal mushaf ini telah selesai dikerjakan oleh juru hias naskah (iluminator), namun belum sempat ditulisi ayat oleh sang juru tulis. Sebaliknya, pada gambar terakhir di bawah, ayat Al-Qur'an telah selesai ditulis, namun meninggalkan bagian kosong di sekitar teks untuk iluminasi yang akan dikerjakan oleh sang juru hias.
Halaman iluminasi awal mushaf yang masih kosong. 
(Koleksi Museum Negeri Aceh, No. 4028).

Minggu, 10 Agustus 2014

Berapa lamakah menyalin Qur’an pada masa lampau?

Tidak seperti zaman sekarang, hingga akhir abad ke-19 kebanyakan Qur’an disalin dengan tangan. Memang, sejak pertengahan abad ke-19 telah muncul pencetakan mushaf dengan teknik litografi (cetak batu), namun produksinya sangat terbatas, dan pencetakan dalam skala besar baru terjadi pada awal abad ke-20 seiring dengan kemajuan teknologi percetakan (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/02/pencetakan-quran.html). Muncul pertanyaan, berapa lamakah menyalin sebuah mushaf pada masa lampau?
Kolofon "Kanjeng Kiai Qur'an" dalam huruf pegon (Arab-Jawa).

Senin, 06 Januari 2014

Penghafal Qur'an

Para Penghafal Qur'an (1)
Penghafal Qur’an di Batavia abad ke-17

Agaknya, tidak banyak kisah yang kita ketahui tentang para penghafal Qur’an di Nusantara sebelum ketokohan Mbah Munawwir Krapyak, Yogyakarta, pada paruh pertama abad ke-20. Mungkin saja dahulu banyak para penghafal Qur’an, mengingat bahwa ‘sekolah-sekolah’ atau tempat pengajian senantiasa tumbuh bersama perkembangan masyarakat Islam. Tapi bagaimana keadaan yang sesungguhnya, dan siapa nama para hafiznya, tidak banyak diketahui. Nah, di antara gelapnya masalah ini, ada sepenggal kisah yang pantas kita kutip di sini. Saya kutip lengkap saja:
Cover buku Batavia (detail). 

Jumat, 29 November 2013

Cetakan litografi

Jangan langsung percaya! (5)

Jangan percaya kepada pengurus masjid! Haha…, maaf, maaf, ini terkait dengan keterangan tentang suatu Qur’an cetakan. Pernah, seorang peneliti Qur’an menulis laporan penelitian demikian panjang, dan mengajukannya untuk dimuat di sebuah jurnal, namun dia keliru mengidentifikasi Qur’an cetakan sebagai manuskrip (tulisan tangan)! Ia menyatakan bahwa naskah yang ditelitinya itu sebagai tulisan tangan, padahal merupakan cetakan litografi. Nah, kekeliruan itu bersumber dari keterangan pengurus masjid yang ‘ditelan mentah’. Maka sekali lagi, janganlah langsung percaya!

Cetakan litografi yang 'lentur' sebagaimana tulisan tangan biasa: 
Qur'an cetakan Muhammad Azhari, Palembang, 1848.

Kamis, 28 November 2013

Asal naskah

Jangan langsung percaya! (4)

Jika Anda menemukan sebuah manuskrip di suatu daerah, janganlah langsung percaya – tapi pasti Anda tidak! – bahwa naskah tersebut merupakan asli naskah setempat. Tidak hanya sekarang, pada zaman dahulu migrasi naskah dari suatu tempat ke tempat lainnya juga banyak terjadi, bahkan sampai ke tempat-tempat yang cukup jauh, dengan berbagai sebab: bisa hadiah, jual-beli, bahkan bisa juga merupakan rampasan. Sebuah Qur’an asal Aceh di Singaraja, Bali, membuktikan hal ini. Meskipun orang setempat mengatakan bahwa naskah tersebut merupakan asli tempatan, kita boleh saja mengangguk-angguk, tapi jangan percaya! Bagaimana kita bisa ‘yakin’ tentang asal-muasal suatu naskah?
Qur'an Aceh di Bali.

Senin, 25 November 2013

Huruf 'mim' setelah angka tahun

Jangan langsung percaya! (3)

Pada sebuah pameran, seorang pedagang dan kolektor naskah tergopoh-gopoh menunjukkan sebuah koleksinya yang menurut dia disalin sejak sebelum zaman para wali! Dia memperlihatkan kolofon di akhir naskah, yang tertulis angka 1300 sekian, diikuti huruf mim. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya bahwa naskah miliknya itu telah disalin sebelum zaman para wali di Jawa! Mengapa?
Contoh penggunaan huruf mim pada akhir sebuah naskah 
dari Palembang, pertengahan abad ke-19.

Masalah angka lima

Jangan langsung percaya! (2)

Seorang pemilik naskah menyatakan bahwa naskah miliknya “amat sangat tua sekali”, berdasarkan sebuah bentuk angka 5 yang ada di bagian depan naskahnya. Bentuk angka 5-nya berupa lingkaran, tidak jauh berbeda dengan angka 5 yang berlaku dewasa ini. Nah, sebaiknya Anda jangan langsung percaya pada ketuaan naskah miliknya itu! Mengapa?
Penulisan angka 5, 4, dan 0 pada sebuah Qur'an di Sulawesi Barat.

Kamis, 25 Juli 2013

Menghormati Qur'an

Penghargaan kaum Muslim terhadap Qur'an

Dari pengalaman di berbagai tempat ketika 'memburu' Qur'an, saya memperoleh banyak pelajaran, dan semakin berhati-hati memperlakukan Qur'an. Karena sering menemui keterbatasan fasilitas di lapangan, kadang-kadang saya lupa dan khilaf dalam memperlakukan Qur'an. Misalnya, di sebuah museum di Malaysia utara, ketika tidak menemui meja yang tepat untuk menaruh Qur'an untuk difoto, saya menggunakan kursi sebagai tempat untuk meletakkan Qur'an. Pegawai museum yang melihat segera mencegah tindakan tak pantas saya, "Ini 'kan biasa untuk duduk?" Saya harus segera paham maksudnya.
Sebuah banner pameran yang memuat Qur'an dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Jumat, 22 Maret 2013

Qa'idah Bagdadiyah

Mungkin sudah banyak yang melupakan medote baca Qur’an ini. Sejak munculnya metode baca Iqra’ pada tahun 1980-an, perlahan-lahan Qa’idah Bagdadiyah kehilangan ‘pengaruh’-nya. Apalagi, kemunculan Iqra’ kemudian segera memancing tumbuh suburnya metode-metode baca lainnya, seperti al-Barqi, Hatta’iyah, an-Nur, Tilawati, Ummi, dan (sepertinya) belasan lainnya. Sebelum Iqra’, sebenarnya metode Qira’ati muncul lebih dahulu – bahkan sebenarnya Iqra’ diilhami oleh Qira’ati – namun sebagai ‘gerakan’, Iqra’ lebih massive, sehingga benar-benar menjadi fenomena baru pada waktu itu. Sejak itu, metode baca Qur’an yang dianggap lebih sistematis itu digunakan di hampir semua kalangan, juga tentu saja sekolah-sekolah.
Qa'idah Bagdadiyah versi ringkas, cetakan Penerbit Karya Toha Putra, Semarang, tahun ±2011. Tulisan pada kulit buku ini tidak asli lagi (karya Rahmatullah), berbeda dengan edisi dasawarsa 1970-an dengan huruf bergaya "Bombay".

Selasa, 19 Maret 2013

Tanda Tashih

Tanda Tashih dari Masa ke Masa

Tidak banyak manuskrip Qur'an Nusantara yang mempunyai tanda tashih. Memang, banyak manuskrip Qur'an yang tampaknya ditashih, atau dikoreksi, entah oleh penyalinnya sendiri atau orang lain yang membaca kemudian. Itu tampak dari hasil koreksi yang biasanya diletakkan di bagian pinggir halaman. Pada waktu itu belum ada lembaga khusus pentashihan mushaf, dan kebanyakan manuskrip tidak mencantumkan proses pentashihannya. Di antara langkanya petunjuk proses tashih (atau 'pernyataan tashih') pada manuskrip Qur'an di masa lalu, ada sebuah mushaf dari Sulawesi Barat yang ditashih di Mekah (Gambar 1).  
Gambar 1.

Senin, 18 Maret 2013

Foto mengaji

Tiga foto dari KITLV

"Seorang pembaca al-Quran dan peminum teh di Yogyakarta", lebih kurang tahun 1880. 
Ada sebilah keris di atas bantal. Foto dibuat oleh Kassian Cephas, fotografer istana Yogyakarta, dan dikenal sebagai perintis fotografi Indonesia.

"Dokter mata J. Tijssen yang sudah mengoperasi mata orang Aceh sehingga bisa membaca al-Qur'an". Tahun 1932. 
Melihat foto ini, baru ingat lagi bahwa dahulu anak-anak itu memang telanjang jika bermain sehari-hari! Hingga pertengahan dasawarsa 1970-an, ketika saya kecil, di kampung saya di Purworejo, Jawa Tengah, masih terjadi.

Foto ini sangat terkenal: anak-anak mengaji di serambi sebuah langgar di Jawa, ±1910. 
Di latar depan terlihat beberapa pasang teklek yang hingga tahun 1970-an masih dipakai, sebelum "zaman plastik" masuk pedesaan Indonesia. Sejak itu, alas kaki dari kayu digantikan dengan sandal jepit yang beralas empuk, ringan, dan tidak membuat pegal jari kaki... 
Langgar biasanya terdiri atas dua ruangan. Ruang dalam khusus untuk salat, sedangkan ruang luar (serambi), yang biasanya letaknya lebih rendah, digunakan untuk mengaji atau mengobrol usai salat. Langgar biasanya berupa bangunan panggung dan beralas plupuh (batang bambu yang dicacah), atau papan kayu untuk langgar yang lebih 'mewah'. 

Minggu, 17 Maret 2013

Seni mushaf Nusantara

Seni mushaf Nusantara dari masa ke masa
Ali Akbar - aliakbarkaligrafi@yahoo.com

Mushaf Al-Qur'an disalin sesuai dengan ruang dan waktu mushaf itu dibuat. Atau dengan kata lain, sesuai dengan latar budaya dan kondisi zamannya. Lokalitas budaya tempat mushaf disalin merupakan faktor yang ikut menentukan dan mempengaruhi variasi bentuk, motif dan warna iluminasi – demikian pula gaya kaligrafinya, dalam taraf tertentu.

    Unsur kreativitas lokal, sebagai hasil serapan budaya setempat, terlihat dalam corak iluminasi yang sangat beragam, dan masing-masing daerah memiliki ciri khas sendiri. Iluminasi biasanya dicirikan dengan (1) pola dasar, (2) motif hiasan, dan (3) warna. Iluminasi lazimnya menghias tiga bagian Al-Qur'an, yaitu di awal, tengah, dan akhir Al-Qur'an. Dalam hal kaligrafi, keunikan mushaf Nusantara di antaranya tampak dalam karakter “kaligrafi berhias” atau “kaligrafi floral”, yaitu komposisi kaligrafi yang bermotif tetumbuhan. Kreativitas tulisan tersebut dituangkan khususnya pada kepala-kepala surah. Unsur kreativitas lokal itu, baik dalam iluminasi maupun kaligrafi, berkembang sangat leluasa dan berkarakter khas, bahkan dalam bentuk makhluk "zoomorphic" seperti Macan Ali khas Cirebon.
 Mushaf dari Sumedang, Jawa Barat, dengan gambar Macan Ali. (Courtesy of James Bennett)

Rabu, 14 November 2012

Para Penulis Qur'an di Indonesia: Penelusuran Awal

Sejak berabad lampau, ketika mushaf Al-Qur’an masih disalin satu per satu secara manual, para penyalin mushaf Nusantara telah berkarya dengan baik. Banyak mushaf telah ditemukan, tersebar dari Aceh hingga Ternate, atau bahkan mungkin Raja Ampat di Papua. Namun para penyalin mushaf tersebut kebanyakan tidak mencantumkan namanya di dalam mushaf hasil karyanya – barangkali agar tidak mengurangi rasa takzimnya kepada Al-Qur’an, atau alasan lainnya. Dari kolofon yang ada, tidak terlalu banyak nama penyalin yang dapat dicatat hingga berakhirnya tradisi manuskrip pada akhir abad ke-19.
Sejak pertengahan abad ke-19, mengawali teknologi cetak mushaf di Asia Tenggara, pada 1848 Muhammad Azhari menulis dan mencetak mushaf untuk pertama kali di kawasan ini (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-palembang-1848-mushaf.html). Berdasarkan bukti yang ada, ia juga menyalin mushaf lainnya, dan selesai dicetak pada 1854 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html). Pada periode cetak awal ini, beberapa penulis Nusantara juga berkarya di percetakan mushaf di Singapura. Di antara penyalinnya adalah Muhammad Hanafi bin Sulaiman as-Sumbawi (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/bali-koleksi-masjid-agung-jami.html), dan (mungkin orang yang sama, atau bersaudara) Haji Muhammad bin al-Marhum Sulaiman Sumbawi (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/mushaf-cetakan-singapura.html).
Tulisan Haji Muhammad bin al-Marhum Sulaiman Sumbawi.

Jumat, 26 Oktober 2012

Alas Tulis: Kertas Eropa dan Dluwang

Pada umumnya, kertas/alas tulis yang digunakan untuk menyalin Qur'an di Nusantara adalah kertas Eropa. Disebut demikian karena dibuat di Eropa dan dipasarkan di Nusantara. Pada umumnya, kertas Eropa dibuat di Belanda, Inggris, dan Italia. Kertas Eropa mudah dicirikan, yaitu jika diterawang terdapat garis tebal (chain lines) berjarak sekitar 2,5 cm, dan garis tipis (laid lines) berjarak sekitar 1 mm. Secara fisik, kertas Eropa mirip dengan kertas merek Conqueror pada zaman sekarang.
        Kertas yang digunakan pada mushaf dari Langitan, Tuban, ini juga kertas Eropa. 
Gambar 1. Watermark (kiri) berupa gambar (kadang-kadang di bagian bawahnya disertai huruf),
dan 
countermark (kanan) berupa huruf, 
tertera “M SCHOUTEN & CO”.

Kamis, 25 Oktober 2012

Sampul

Bagaimana Qur'an diproduksi pada masa lampau? (1)

Sampul

Seorang kenalan tadi siang (25/10/2012) membawa sebuah mushaf kuno milik saudaranya, dari Langitan, Tuban, Jawa Timur. Tidak ada kolofon dalam mushaf ini, sehingga pemiliknya ingin tahu kapan kira-kira mushaf ini dibuat. Membuka-buka mushaf tersebut, dan memotretnya, lalu terpikir bahwa mushaf ini cukup baik menjadi contoh bagaimana sebuah mushaf diproduksi pada masa lampau, meski mempunyai beberapa kekurangan. Tentu saja memang tidak ada sebuah mushaf yang benar-benar lengkap bisa mewakili semua aspek produksi sebuah mushaf. 
Baiklah, berdasarkan mushaf ini kita akan melihat beberapa aspek produksi mushaf dari masa lampau, disertai bandingan sejumlah mushaf lainnya yang relevan. Ditulis secara serial, agar tidak terlalu panjang dan membosankan.
Gambar 1. Sampul kulit bersepuh emas.

Selasa, 25 September 2012

Resensi Buku - Ragam hias Qur'an Melayu

Resensi Buku

Dzul Haimi Md. Zain et al., Ragam Hias al-Qur’an di Alam Melayu, Kuala Lumpur: Utusan Publications, 2007, xxxii + 114 halaman.

DAPAT dikatakan, buku ini merupakan perintis awal kajian seni hias mushaf (iluminasi) Al-Qur'an di Nusantara. Setelah lama tertunda, hasil penelitian ini akhirnya terbit, dalam edisi yang cukup mewah. Berbagai keprihatinan penulis, baik mengenai langkanya kajian mengenai seni hias Melayu, liku-liku selama penelitian, maupun penerbitan buku ini yang tertunda, diungkapkan penulis dalam pengantar buku ini, berjudul “Mengharung Liku Tantangan” (hlm. xiii).