Sabtu, 18 Januari 2020

Johor

Tiga mushaf cetak koleksi Yayasan Warisan Johor

Mushaf Al-Qur’an cetak koleksi Yayasan Warisan Johor merupakan ‘warisan’ dari Masjid Sultan Abu Bakar, masjid kesultanan Johor, yang berlokasi tidak jauh dari Yayasan. “Ketika Qur’an-Qur’an lama yang sudah tidak dipakai lagi akan dibakar, kami selamatkan beberapa yang masih bagus, dan kita simpan di Yayasan ini,” demikian kata Mazlan bin Keling, Penolong Pegawai Tadbir Yayasan (14/1/2020). Untunglah mushaf-mushaf ini bisa diselamatkan, sehingga bisa mengisi mata rantai sejarah penggunaan mushaf di Johor—atau Malaysia secara lebih luas. Mushaf-mushaf lainnya telah musnah menjadi abu.
 Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru.

Sebelum ‘era mushaf Saudi’, yaitu sebelum dasawarsa 1980/1990, mushaf yang beredar di Malaysia sama dengan mushaf yang beredar di Indonesiajuga umumnya di Asia Tenggara—yaitu mushaf-mushaf Indo-Pakistan. “Orang Johor menyebut mushaf berhuruf tebal seperti ini ‘Qur’an Majid’,” kata Ustaz Nazir, pensyarah di Kolej Pengajian Islam Johor (MARSAH). Di sampulnya, mushaf yang dahulu dicetak di Bombay itu memang biasanya tertulis ‘Qur’an Majid’. Di Indonesia, biasanya disebut ‘Qur’an Bombay’. "Namun saat ini, di Malaysia tidak dibenarkan menggunakan mushaf jenis ini. Harus menggunakan Mushaf Madinah," sambung Ustaz Nazir. 
Agar mata rantai sejarah mushaf di Tanah Melayu tidak terputus, tiga mushaf cetakan di bawah ini menjadi penting untuk ditengok kembali. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi penelitian lebih lanjut.
1. Mushaf berukuran 24,5 x 17 cm, tebal 4 cm. Di sampul warna biru tertulis ‘Qur’an Majid’. Di bagian depan terdapat uraian tajwid dan adab membaca Qur'an sebanyak 14 halaman dalam huruf Jawi. Mushaf ini dicetak oleh Dar at-Tiba'ah al-Islamiyah. Tampaknya ini merupakan pencetak lokal Nusantara, namun tidak mencantumkan kota dan tahun terbitan. Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay.
Beberapa halaman penjelasan tajwid dalam huruf Jawi.

Cetakan Dar at-Tiba'ah al-Islamiyah al-Arabiyah.

2. Mushaf cukup besar, berukuran 37 x 26 cm, tebal 7 cm, sampul kulit. Di bagian depan mushaf tertulis catatan dalam huruf Jawi: "(1) Qur'an ini hadiah daripada waris Allah yarham ... Haji Qasim Batupahat. (2) Allah yarham  itu telah kembali ke rahmatullah ta'ala di Batupahat dalam tahun 1933. Qur'an ini baharu diperbaiki, yaitu dijahit semula kerana telah putus tali jahitnya. ..." Tertanggal 9-11-55. Di bagian depan tercantum bahwa mushaf ini merupakan cetakan Matba' Muhammadi Bombay, 1303 H (1885). Rasm Usmani, dan iluminasi awal mushaf berwarna. Melihat kualitas cetakan warnanya, tampak bahwa mushaf ini merupakan hasil reproduksi pada awal abad ke-20 dari mushaf cetakan lama (1885). Namun kita tidak menemukan angka tahun lain, sehingga kita belum bisa memastikan tahun cetakan secara pasti.



3. Mushaf cukup besar, berukuran 36 x 26,5 cm, tebal 5 cm, sampul kain. Di bagian depan mushaf tertulis catatan dalam huruf Jawi: "Diwakafkan oleh Hajah L-l-b-y(?) bint Muhammad Qasim, ibu kepada Allah yarham Muhammad Hasyim bin Ghulam Muhyiddin atas Masjid Abu Bakar Johor Baharu. Telah diterima pada hari ini 23-11-58." Rasm Usmani, dan iluminasi awal mushaf berwarna. Di halaman depan mushaf tercantum "Matba' Muhammadi Bombay, 1374 H (1954)", sedangkan di bagian akhir mushaf tercantum kolofon bahwa mushaf ini ditulis pada 1302 H (1884), dan dicetak pada 1354 H (1934). Artinya, bahwa mushaf ini merupakan reproduksi cetakan lama, yang ditulis pada masa yang lebih lama lagi... 
[Inilah rumitnya (dan asyiknya?) meneliti mushaf cetakan!]




Artikel terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar