Catatan: Untuk pengutipan (sitasi), silakan unduh dan baca artikel dalam versi lebih lengkap: "Pencetakan Mushaf Al-Qur'an di Indonesia", Suhuf, Vol. 4, No. 2, 2011, hlm. 271-287: https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/57/56
Dari berbagai usaha penelusuran keberadaan mushaf kuno, diketahui bahwa di Indonesia sekurang-kurangnya terdapat 455 naskah, dan dalam koleksi berbagai lembaga di luar negeri sekurang-kurangnya terdapat 203 naskah. Semuanya berjumlah 658 naskah mushaf. Tentu saja angka ini bersifat sementara, dan masih banyak koleksi mushaf yang belum terdaftar.
Penyalinan Al-Qur'an di Nusantara telah
dimulai sejak akhir abad ke-13, ketika Pasai secara resmi merupakan kerajaan
Islam. Hal ini
disinggung dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah ke Aceh pada masa Sultan Malik
az-Zahir. Meskipun demikian, naskah mushaf tertua yang diketahui hingga kini disalin sebelum tahun 1606, dengan kolofon berbahasa Jawa, yang saat ini dalam koleksi
Belanda.
Mushaf Al-Qur’an koleksi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta.
Penyalinan Al-Qur'an secara
manual terus berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang
berlangsung di berbagai kota dan pusat-pusat Islam masa lalu, seperti Aceh,
Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok,
Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar,
Ambon, Ternate, dan wilayah lainnya. Sebagian warisan masa lalu tersebut kini
tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, pesantren, ahli waris, dan
kolektor, baik di dalam maupun di luar negeri.
Cetakan Palembang dan
Singapura
Perkembangan
teknologi cetak naskah-naskah keagamaan merambah Nusantara pada pertengahan abad ke-19. Pada saat yang sama,
penyalinan mushaf Al-Qur'an secara
manual berangsur-angsur mulai ditinggalkan, seiring dengan kamajuan teknologi
cetak. Pencetakan
mushaf di Nusantara – demikian pula di dunia Islam umumnya – menggunakan teknik
litografi (cetak batu), dan tidak menggunakan teknik tipografi (dengan satuan
huruf dari logam). Pilihan terhadap teknik tersebut – berbeda dengan
perkembangan percetakan di Eropa – karena hasil cetakannya hampir sama dengan
keindahan kaligrafi tulisan tangan. Hal ini dapat dimengerti, sebab karakter
huruf Arab sambung-menyambung, berbeda dengan huruf Latin yang terdiri atas
satuan huruf terpisah. Mushaf yang dicetak dengan teknik tipografi tidak banyak
memuaskan kaum muslim. Maka tidak mengherankan, meskipun di Eropa mushaf
Al-Qur’an telah mulai dicetak sejak abad ke-16, namun tidak berkembang di dunia
Islam.
Mushaf cetakan Palembang, tahun 1854, koleksi Masjid Dog Jemeneng,
Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon.
Mushaf litografi
yang masih ada hingga sekarang adalah sebuah mushaf yang selesai dicetak pada
20 Agustus 1848 di Palembang oleh Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-palembang-1848-mushaf.html).
Sejauh yang diketahui hingga
kini, inilah mushaf cetakan litografi tertua di Asia Tenggara. Mushaf ini
dicetak menggunakan alat cetak Press
Lithographique yang dibeli oleh Azhari di Singapura sepulang dia dari haji. Mushaf cetak tua lainnya, bertahun 1854, dicetak oleh
percetakan yang sama (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/quran-cetakan-palembang-1854-kolofon.html).
Mushaf-mushaf cetak batu lainnya yang banyak
beredar di Nusantara pada akhir abad ke-19 adalah cetakan Singapura. Tinggalan
mushaf itu tersebar di berbagai daerah, dari Sumatra hingga Maluku. Pada saat
itu Singapura menjadi salah satu pusat pencetakan dan distribusi buku-buku keagamaan di Asia Tenggara (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/mushaf-cetakan-singapura.html).
Cetakan Bombay
Mushaf cetak lainnya yang banyak beredar di
Asia Tenggara terutama sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah
cetakan Bombay (atau Mumbai), India. Kota di pantai barat India ini merupakan
pusat percetakan buku-buku keagamaan yang diedarkan secara luas ke kawasan Asia
Tenggara. Luasnya peredaran itu dapat dilihat dari peninggalan mushaf cetakan India
yang terdapat di beberapa daerah, yaitu Palembang, Demak, Madura, Bima,
Malaysia, hingga Filipina Selatan (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/mushaf-cetakan-india-koleksi-kms.html#more).
Dengan demikian tidak mengherankan jika
tradisi cetak mushaf di kawasan ini dimulai dengan mereproduksi mushaf cetakan
India itu. Jenis mushaf lainnya yang juga beredar di kawasan Asia Tenggara
adalah cetakan Turki dan Mesir, dengan jumlah yang lebih sedikit, karena
kebanyakan hanya dibawa oleh jamaah haji yang pergi ke tanah suci.
Penerbit Sulaiman Mar’i yang berpusat di
Singapura dan Penang, selama bertahun-tahun sejak sekitar tahun 1930-an ketika
memulai usahanya, hanya mereproduksi mushaf cetakan Bombay. Itu terlihat dari
ciri hurufnya yang tebal. Sebenarnya ada beberapa gaya tulisan mushaf India
yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an – meskipun kesemuanya ada kemiripan –
namun mushaf yang paling banyak dicetak adalah mushaf dengan gaya tulisan dan
harakat tebal, yang kemudian sering disebut sebagai “Al-Qur’an Bombay”.
Perkembangan Penerbitan
Mushaf
Generasi pertama pencetak mushaf Al-Qur’an
di Indonesia adalah Abdullah bin Afif Cirebon yang telah memulai usahanya sejak
tahun 1930-an – bersamaan dengan Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan
Penang – serta Salim bin Sa’ad Nabhan Surabaya (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/05/mushaf-cetakan-abdullah-bin-afif.html#more). Usaha bidang ini kemudian
disusul oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung yang didirikan oleh Muhammad bin Umar
Bahartha pada tahun 1948 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/09/penerbit-al-maarif-bandung.html#more). Mereka tidak hanya mencetak Al-Qur’an, namun juga
buku-buku keagamaan lain yang banyak dipakai umat Islam.
Pada 1950-an penerbit mushaf di Indonesia di
antaranya adalah Sinar Kebudayaan Islam dan Bir & Company. Penerbit Sinar
Kebudayaan Islam menerbitkan mushaf pada tahun 1951, sementara Bir & Co
mencetak mushaf dengan tanda tashih dari Jam’iyyah
al-Qurra’ wal-Huffaz (perkumpulan para pembaca dan penghafal Al-Qur’an)
tertanggal 18 April 1956. Pada 1960-an Penerbit Toha Putra Semarang memulai
kegiatan yang sama, lalu disusul Penerbit Menara Kudus (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/05/menara-kudus-1974.html#more). Penerbit lainnya pada
sekitar periode ini adalah Tintamas (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/05/blog-post.html#more), dan beberapa penerbit kecil lainnya.
Sampai dengan dasawarsa 1970-an dan 1980-an
sejumlah penerbit di atas masih merupakan “pemain utama” dalam produksi mushaf
di Indonesia. Pada periode tersebut juga muncul sejumlah penerbit mushaf baru
di berbagai kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Demikian pula
pada dasawarsa 1990. Sejak dasawarsa 2000-an, beberapa
penerbit yang semula hanya menerbitkan buku keagamaan – dan mereka telah sukses
di bidangnya – mulai tertarik untuk menerbitkan mushaf. Bahkan sebagian lain
semula merupakan penerbit buku umum.
Era Baru
Para penerbit mushaf dasawarsa 1980-an,
setelah keluarnya Mushaf Standar pada 1984, hingga awal dasawarsa
2000-an, pada umumnya masih meneruskan tradisi lama dalam produksi mushaf.
Mereka kebanyakan hanya mencetak Al-Qur’an Bombay (dengan sedikit modifikasi
lagi untuk sepenuhnya sesuai dengan Mushaf Standar), Al-Qur’an “Bahriyah” model
sudut, atau Mushaf Standar yang telah ditulis ulang oleh kaligrafer Indonesia.
Sampai sejauh itu agaknya tidak ada inovasi yang berarti baik dalam tampilan
maupun komposisi isi mushaf. Dalam hal desain kulit, misalnya, pada umumnya
hanya berbentuk persegi empat dengan ragam hias floral. Nama mushaf, Qur’an Majid (kebanyakan mushaf dari
India menggunakan nama ini) atau al-Qur’an
al-Karim berbentuk bulat di dalam medalion
terletak di posisi tengah. Warna yang digunakan pun adalah warna-warna tegas seperti
merah, kuning, biru, hijau, coklat, serta emas.
Era baru dalam produksi mushaf muncul sejak
awal dasawarsa 2000-an, ketika teknologi komputer semakin maju, dan
dimanfaatkan dengan baik oleh para penerbit. Perubahan itu, pertama, dalam hal
kaligrafi teks mushaf. Sejak awal dekade itu, hingga sekarang, para penerbit
pada umumnya memodifikasi kaligrafi Mushaf Madinah yang ditulis oleh Usman Taha,
khattat asal Syria. Mushaf Madinah itu
dicetak oleh Mujamma’ al-Malik Fahd yang
bermarkas di Madinah.
Perubahan
lainnya adalah dalam tampilan kulit (cover)
mushaf. Para penerbit mengeksplorasi bentuk-bentuk dan komposisi baru, juga
motif ragam hiasnya. Warna yang digunakan pun tidak kaku lagi, namun menggunakan warna-warna cerah, dan dipertegas dengan lapisan plastik dan vernis yang
semakin menambah mewah. Sebagian mushaf juga menggunakan warna tertentu,
disesuaikan dengan sasaran pasar yang dituju. Kulit sebuah mushaf yang disertai
terjemahan dengan sasaran pasar perempuan berwarna
ungu, dan ditulis “Al-Qur’anulkarim
Special for Woman” (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/quran-untuk-para-wanita-sebuah-penerbit.html#more).
Perkembangan mushaf yang disertai terjemahan
memang sangat beragam. Para penerbit saling menawarkan kelebihan produknya
dibanding produk sejenis lainnya. Mereka berlomba-lomba mengasah kreativitas,
baik dalam hal cover, isi, maupun
kelengkapan teks tambahannya, seperti indeks isi Al-Qur’an, panduan tajwid,
doa-doa, keterangan tanda waqaf, dan lain-lain. Sejumlah penerbit juga
memproduksi mushaf bertransliterasi Latin, disertai terjemahan per kata, terjemahan dalam bahasa Indonesia
dan Inggris, serta tajwid
dengan kode warna (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/05/ragam-mushaf-al-quran-kontemporer-di.html#more).
Untuk menarik minat anak-anak, beberapa
penerbit juga membuat Al-Qur’an dan terjemahannya dengan warna dan hiasan yang
khas anak-anak, misalnya bentuk balon, bintang, bulan sabit, atau
lengkungan-lengkungan semacam pelangi (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html#more). Para
penerbit sangat kreatif, dan semua usaha itu adalah untuk
pembaca, agar senantiasa tertarik untuk terus-menerus membaca dan mengkaji
Al-Qur’an. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar