Rabu, 07 November 2012

Koleksi Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Jawa Tengah
Koleksi mushaf "Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah"
di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang

Jika Anda peminat kajian naskah atau mushaf kuno, dan kebetulan berada di Semarang, silakan datang ke Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di kompleks “Masjid Agung Jawa Tengah” – awas, jangan keliru dengan “Masjid Agung Semarang” di Kauman, atau “Masjid Jami’” di Simpang Lima. (Boleh lihat: http://seputarsemarang.com/masjid-agung-jawa-tengah-1726/). Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah menempati lantai dua dan tiga Al-Husna Tower – yaitu menara masjid ini – di bagian depan sisi selatan masjid. Museum ini relatif baru, diresmikan pada tanggal 28 September 2007 oleh Gubernur Jawa Tengah, H Mardiyanto, dan tentu saja dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid yang cukup megah ini.
Koleksi mushaf dan naskah lainnya.

Sabtu, 03 November 2012

Penyalin Qur'an (3): Ustadz Rahmatullah, Demak

Rahmatullah ad-Dimawi - demikian ia menulis namanya di bagian akhir mushaf karyanya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Demak. Mushaf 30 juz ayat pojok dengan rasm usmani buah tangannya itu diterbitkan oleh Penerbit Asy-Syifa', Semarang, tahun 2000. Ciri hurufnya tebal, mengesankan seperti halnya mushaf asal cetakan Bombay yang disukai secara luas oleh masyarakat muslim Indonesia. Mushaf ini menggunakan model 'ayat pojok' atau 'ayat sudut' yang umum digunakan oleh para penghafal Qur'an.
        Ustadz Rahmatullah telah wafat beberapa tahun lalu. Semasa hidup ia bersama adiknya, Ustadz Mujib - yang juga seorang kaligrafer dan penulis mushaf - mengasuh Pesantren an-Nuriyah di Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Selain menulis mushaf, Ustad Rahmatullah banyak menulis khat untuk buku-buku agama yang biasanya terbit di Semarang dan Kudus.
        Sejak sekitar 10 tahun terakhir ini, hampir semua penerbit mushaf di Indonesia "mengambil jalan pintas" memodifikasi kaligrafi Mushaf al-Madinah an-Nabawiyyah untuk mushaf yang mereka terbitkan. Mushaf tersebut diterbitkan oleh Mujamma' al-Malik Fahd li-Tiba'at al-Mushaf asy-Syarif, Saudi Arabia. Kaligrafi yang memang sangat 'cantik' pada mushaf tersebut adalah karya Usman Taha, asal Suriah. Modifikasi kaligrafi "Mushaf Madinah" menjadi "Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia" dengan memanfaatkan teknologi komputer dewasa ini memang adalah cara murah untuk menghasilkan teks mushaf yang siap cetak. Itu adalah jalan pintas, dan tentu saja jauh lebih cepat, dan sangat murah, dibandingkan jika menulis baru. Di tengah 'jalan mudah' para penerbit seperti itu dewasa ini, mushaf dengan kaligrafi karya bangsa sendiri seperti mushaf ini menjadi barang yang mahal, langka, dan membanggakan! Kita harus bangga dengan karya sendiri. Di samping itu, mushaf 30 juz yang ditulis sendirian, bukan tim, juga dewasa ini semakin langka. Mushaf-mushaf indah dan mewah seperti Mushaf Istiqlal, Mushaf Sundawi, Mushaf at-Tin, Mushaf Jakarta, Mushaf Kalimantan Barat, dan Mushaf al-Bantani, semuanya ditulis oleh tim yang terdiri atas beberapa kaligrafer. Maka mushaf yang tampak sederhana seperti ini terasa semakin istimewa. (Semoga penulisnya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah).

(Terima kasih kepada Muhammad Labid atas informasi mengenai Ustadz Rahmatullah)

Kliping Media Massa

Di bawah ini adalah "potongan koran" (dan lain-lain) segala macam tentang Al-Qur'an. Saran atau rekomendasi pembaca untuk mengisi 'kliping' ini sangat kami harapkan. Terima kasih.

Jumat, 02 November 2012

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (Bahriyah) 1991

        Mushaf ini merupakan salah satu dari tiga jenis Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_26.html). Di bagian depan mushaf tertulis "Mushaf Ayat Sudut Departemen Agama" - artinya mushaf ini berpola 'ayat sudut' (atau 'ayat pojok'), yaitu setiap halaman, di bagian sudut/pojok bawah-kiri, berakhir dengan penghabisan ayat. Mushaf dengan model seperti ini banyak digunakan oleh para penghafal Al-Qur'an (hafiz), sejak awal kemunculannya pada akhir abad ke-16 di Turki Usmani. Di Turki, sistem penulisan mushaf ini disebut ayet ber-kenar.

Kamis, 01 November 2012

Mushaf Standar Indonesia (Usmani) 2011

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (Usmani), 2011

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia ini - sesuai dengan catatan di bagian belakang mushaf - dicetak pada tahun 2011, diadakan oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI. Mushaf ini dicetak oleh PT Adhi Aksara Abadi Indonesia, sebanyak 653.000 eksemplar - suatu jumlah yang cukup besar, dan meningkat dari tahun ke tahun. Ukuran mushaf edisi ini sedikit lebih besar, yaitu 26 x 18 cm, tebal 2,5 cm. Kulit mushaf tampak lebih mewah, dengan mutu jilidan lebih bagus, warna hijau dengan tulisan "Al-Qur'an al-Karim" warna emas, dikelilingi iluminasi yang ritmis. Di bagian depan mushaf terdapat sambutan Menteri Agama RI Suryadharma Ali, tertanggal 8 Maret 2011. Tanda tashih ditandatangani oleh H Muhammad Shohib Tahar (Ketua Tim Pelaksana Pentashihan Mushaf Al-Qur'an) dan Dr H Ahsin Sakho Muhammad (Sekretaris), tertanggal 17 Oktober 2011.  
Komposisi edisi ini, baik teks Qur'an mapun teks tambahannya, sama sepenuhnya dengan "edisi tulis ulang" sebelumnya (lihat http://quran-nusantara.blogspot.co.nz/2012/11/mushaf-standar-indonesia-usmani-2004.html). Teks Al-Qur'an edisi ini dicetak dengan warna hitam semuanya, berbeda dengan edisi tahun 2008 di mana kata "Allah" dan kata gantinya dicetak dengan warna merah.

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (Usmani) 2008

        Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia ini - sesuai dengan catatan di bagian belakang mushaf - dicetak pada tahun 2008, diadakan oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen (sekarang Kementerian) Agama RI. Mushaf ini dicetak oleh PT Macanan Jaya Cemerlang, Klaten, Jawa Tengah, sebanyak 75.610 eksemplar. Ukuran mushaf 24,5 x 16,5 cm, tebal 2,5 cm. Kulit warna hijau dengan tulisan warna emas. Di bagian depan mushaf terdapat sambutan Menteri Agama RI Muhammad Maftuh Basyuni. Tanda tashih ditandatangani oleh H Muhammad Shohib Tahar (Ketua Tim Pelaksana Pentashihan Mushaf Al-Qur'an) dan Dr H Ahsin Sakho Muhammad (Sekretaris), tertanggal 28 Mei 2008.
        Komposisi edisi ini, baik teks Qur'an mapun teks tambahannya, sama sepenuhnya dengan "edisi tulis ulang" sebelumnya (lihat http://quran-nusantara.blogspot.co.nz/2012/11/mushaf-standar-indonesia-usmani-2004.html). Yang membedakan, pada edisi 2008 ini semua kata "Allah" dan kata gantinya dicetak dengan warna merah.

Mushaf Standar Indonesia (Usmani) 2004

Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (Usmani), 2004

Mushaf Al-Qur'an ini - seperti tercantum di bagian belakang mushaf - diadakan oleh Proyek Peningkatan Pelayanan Kehidupan Beragama Pusat Departemen [sekarang Kementerian] Agama RI tahun anggaran 2004 sebanyak 8000 eksemplar. Dapat dikatakan, dengan demikian, bahwa mushaf ini menjadi semacam "edisi resmi" Kementerian Agama RI. Ukuran mushaf 24 x 16 cm, tebal 2,5 cm, warna kulit biru dengan tulisan warna emas. Di bagian depan terdapat kata sambutan oleh Menteri Agama Prof Dr H Said Agil Husin Al Munawwar, MA. Tanda tashih ditandatangani oleh H Fadhal Abdurrahman Bafadal (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an) dan H Muhammad Shohib Tahar (Sekretaris), tertanggal 21 April 2004.