Minggu, 02 Februari 2025

Proses Pembuatan Dluwang (Kertas Kulit Kayu dari Jawa)

Qur'an kuno Nusantara pada umumnya - sekitar 90%(?) - ditulis di atas kertas yang diimpor dari Eropa. Oleh karena itu, biasanya disebut "kertas Eropa", yang mencakup asal kertas dari Belanda, Inggris, Italia, dan mungkin sedikit Prancis. Namun sebagian Qur'an - juga naskah-naskah keagamaan lainnya - terutama di Jawa, Madura, dan Lombok, ditulis di atas dluwang (kertas tradisional dari kulit kayu). Masyarakat yang tidak mudah memperoleh akses kertas Eropa, seperti lingkungan pesantren, menyalin mushafnya dengan dluwang yang mereka produksi sendiri.
        Berikut adalah foto-foto proses pembuatan dluwang (Sunda: daluang).
 
Pohon dluwang yang siap digunakan berumur sekitar satu setengah hingga dua tahun. Jika pohonnya terlalu tua akan menghasilkan dluwang yang kurang bagus, karena serat kulitnya keras.

Rabu, 24 Juli 2024

Qaidah Bagdadiyah cetakan Bombay

Astana Pangeran Mangkubumi, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, mempunyai ratusan koleksi naskah, berupa surat-surat (telah dibuat katalog, terbit 2024), dan naskah-naskah keagamaan. Sebuah koleksinya yang menarik dan langka adalah Qa'idah Bagdadiyah cetakan Bombay. 

Halaman awal yang tersisa.

Sabtu, 18 Mei 2024

Kajian Mushaf di Jurnal Suhuf (2008-2023)

Di bawah ini adalah tautan (link) lengkap artikel-artikel tentang kajian mushaf yang telah terbit di Jurnal Suhuf sejak awal penerbitannya (Vol. 1-16, 2008-2023). Jurnal Suhuf diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama Republik Indonesia (https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf), beralamat di Gedung Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560.

Tiga Buku Katalog Mushaf Kuno Nusantara

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI telah menerbitkan tiga jilid buku katalog manuskrip Al-Qur’an dari beberapa provinsi di Indonesia. Tiga jilid buku ini merupakan serial hasil penelitian mushaf kuno yang dilakukan oleh para peneliti LPMQ sejak tahun 2011 hingga 2015. 
        Jilid pertama memuat mushaf-mushaf koleksi sejumlah lembaga dan koleksi pribadi di beberapa provinsi di Pulau Sumatera; jilid kedua memuat mushaf-mushaf dari Sulawesi dan Maluku; dan jilid ketiga memuat mushaf-mushaf dari Jawa. Provinsi-provinsi lain yang belum tercakup dalam ketiga jilid buku ini, yaitu di Kalimantan dan Nusa Tenggara, masih menunggu untuk diterbitkan nanti. Katalog ini diharapkan dapat menjadi sumber kajian manuskrip Al-Qur’an Nusantara bagi para peneliti, dosen, mahasiswa, serta peminat kajian mushaf dan ‘ulūmul-Qur’ān.


        PDF ketiga katalog ini dapat diunduh lengkap melalui tautan berikut:

(1) Mushaf Kuno Nusantara: Pulau Sumatera (2017):
(2) Mushaf Kuno Nusantara: Sulawesi dan Maluku (2018):
(3) Mushaf Kuno Nusantara: Jawa (2019):

Selasa, 23 April 2024

Bukan disalin di Sambas

Jangan langsung percaya! (13)

        Kita perlu kritis, jangan langsung percaya terhadap semua yang tertulis di manuskrip! Di bagian akhir mushaf ini tertulis: "Selesai di Sambas 2 Safar sanat 1071, ditulis al-Haj Asy'ari al-Hafiz adanya". Tetapi, apakah fakta-fakta lain dalam naskah ini mendukung?
Iluminasi 'wadana gapura' di awal mushaf.

Qur'an litograf Singapura, 1870-an

        Seorang kenalan mengirimkan beberapa foto mushaf yang belum lama di tangannya. Saya senang sekali melihat foto itu, karena mushaf litograf (cetak batu) Singapura tersebut merupakan mushaf 'baru' yang belum pernah saya lihat. Itu menambah perbendaharaan pengetahuan kita tentang khazanah mushaf cetakan Singapura.
Halaman awal Surah al-Isra'.

Qur'an Mini cetakan David Bryce, 1890-an

        "Teka-teki" tentang salah satu cetakan Qur'an mini (lihat: https://quran-nusantara.blogspot.com/2014/02/peninggalan-cheng-ho.html) sekarang menjadi jelas: rupanya 'mushaf imut' itu dicetak oleh David Bryce di Glasgow, Inggris, pada pertengahan 1890-an! Lebih jelasnya, saya kutip langsung satu paragraf buku The Book by Design terbitan British Library, London, 2024:155:
Kemasan berkaca dan kulit mushaf.

Halaman Iluminasi 'Diperjualbelikan'?

        Mushaf ini adalah anomali! Halaman awal mushaf yang memuat Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah ini dihias indah, jelas mencerminkan iluminasi gaya Terengganu (Malaysia bagian utara sekarang). Namun, anehnya, halaman-halaman mushaf selanjutnya disalin dalam gaya Jawa - terlihat, di antaranya, dari tanda juz-nya yang berupa setengah lingkaran di tepi kanan dan kiri halaman mushaf, dan iluminasi akhir mushaf yang lazim dari Jawa.
Halaman iluminasi awal mushaf.

Sabtu, 20 April 2024

Pedoman Membaca dan Menulis Al-Qur'an Braille Edisi Penyempurnaan

        Sejak ditetapkan pada 1984, Mushaf Standar Braille dalam waktu yang cukup lama tidak memiliki pedoman yang secara lebih terperinci mengatur cara membaca dan menulis Al-Qur’an Braille. Akibatnya, ditemukan sejumlah perbedaan pandangan di kalangan para penerbit maupun praktisi. Oleh karena itu muncul upaya untuk melakukan kajian dan telaah dalam bentuk lokakarya dan workshop yang dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI bersama beberapa lembaga dan komunitas penggiat pembelajaran Al-Qur’an Braille. Hasil dari sejumlah pertemuan tersebut adalah buku Pedoman Membaca dan Menulis Al-Qur’an Braille edisi pertama yang diterbitkan oleh LPMQ pada tahun 2012 (unduh: https://www.academia.edu/6401887/Pedoman_Membaca_dan_Menulis_Al_Quran_Braille).


Pedoman Membaca dan Menulis Al-Qur'an Braille edisi pertama, 2012 (kiri), 
dan edisi penyempurnaan, 2023 (kanan).

Selasa, 05 Maret 2024

Tiga kertas 'ProPatria' dalam satu mushaf

Pada kertas Eropa, watermark (cap kertas) selalu berpasangan dengan countermark (cap tandingan). Watermark (yang biasanya berupa gambar) terletak di sebelah kiri, dan countermark (yang biasanya berupa huruf singkatan atau kata) terletak di sebelah kanan. Untuk memastikan suatu pasangan cap kertas, ketika hendak mengidentifikasi, kita wajib terlebih dahulu mencari tengah kuras naskah. Ini untuk memastikan bahwa lembar kertas sebelah kiri bersambung dengan lembar sebelah kanan. Tidak bisa tidak!

Cap kertas ProPatria - Van der Ley.

Lidi Ijuk Pohon Aren

Inilah pohon aren (enau), biasanya tumbuh di lereng-lereng pegunungan. Buahnya bisa diolah menjadi kolang-kaling. Lidi aren sangat keras, sehingga pénanya cocok untuk menulis teks panjang seperti Qur'an - juga tentu saja naskah-naskah keagamaan lainnya. Jika lidinya kecil, dan tidak nyaman untuk menulis, disambung dengan tangkai pena yang lebih besar.
        Lidi aren sebagai pena digunakan hingga sekitar tahun 1960-an. Ibu saya, kelahiran 1942, dulu di pesantren menggunakan pena itu. Tidak hanya di pesantren-pesantren di Indonesia, tetapi juga di Thailand Selatan! Seorang ibu tua di dekat masjid Telok Manok, Narathiwat, meriwayatkan bahwa di masa kecilnya ia menulis dengan pena lidi aren.

Pohon aren (enau) dan bagian ijuknya yang berlidi.

Çava Kalemi: Lidi Aren

Dalam buku Ninety-Nine Qur'an Manuscripts from Istanbul (2010), M Ugur Derman, seorang penulis sejarah kaligrafi kenamaan dari Turki -- sebelumnya juga seorang kaligrafer -- menyebut suatu alat tulis yang dikenal luas di kalangan kaligrafer Turki masa lalu, yaitu 'Cava kalemi' (pena Jawa). Derman menyebut bahwa pena Jawa itu dari lidi suatu pohon tropis yang tumbuh di Jawa. Pohon daerah tropis yang dimaksudkan itu adalah pohon aren (enau).
        Sebenarnya lidi tersebut bukanlah lidi daun, tetapi lidi pada bagian ijuk pohon aren. Lidinya hitam, keras, dan lurus. Sebagian pohon aren menghasilkan lidi yang besar, dengan lebar batang lidi hingga 5-6 milimeter.
        Pohon aren tidak tumbuh hanya di Pulau Jawa, tetapi di seluruh daerah tropis Asia Tenggara. Oleh karena itu, istilah yang lebih tepat sebenarnya bukan 'Pena Jawa', tetapi 'Pena Jawi'. Dalam perspektif Jazirah Hijaz masa lalu, yang dimaksud 'Jawi' bukanlah Pulau Jawa, tetapi Nusantara, yaitu kawasan Islam Asia Tenggara.


Pena Jawi (kanan): mata pena dari lidi aren dimasukkan dalam tangkai pena. 
(Foto: Buku Ninety-Nine Qur'an Manuscripts from Istanbul)

Senin, 28 Agustus 2023

Penyalin Qur'an (6): Haji Abdul Karim, Riau, 1833

Tidak banyak penyalin Qur'an abad ke-19 yang dapat dikenali pada abad ke-21 ini, terlebih di kawasan Melayu. Kebanyakan penyalin Qur'an tidak mencantumkan namanya, barangkali, karena tidak ingin menonjolkan diri. Salah satu penyalin Riau yang dapat kita kenali namanya saat ini adalah Haji Abdul Karim yang menyalin di Daik, Pulau Lingga, Kepulauan Riau, seperti terbaca jelas dalam kolofon di akhir mushaf ini. Karya tulisnya cukup halus, dari awal hingga akhir mushaf. Tampak jelas bahwa Haji Abdul Karim bin Abbās bin Abdurraḥmān bin Abdullāh al-Banjār adalah penyalin terlatih. Sayang sekali, sebagaimana penyalin lainnya pada abad ke-19, riwayat hidupnya tidak dapat ditelusuri lagi. Mushaf ini selesai ditulis pada hari Jumat, 13 Jumadil Awal 1249 H (27 September 1833). 

Sabtu, 31 Desember 2022

Mushaf dengan Catatan Riwayat Qalun

Pada Oktober 2021 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama RI menerbitkan "Mushaf Al-Qur'an Riwayat Hafs dari Imam 'Asim Disertai Catatan Pinggir Riwayat Qalun dari Imam Nafi' Tariq Syatibiyah" - demikian judul lengkap mushaf ini. 


Sabtu, 04 September 2021

Berapakah Harga Sebuah Manuskrip Qur'an pada Masa Lampau?

Informasi tentang harga sebuah manuskrip Qur'an pada masa lampau cukup langka. Saya memperoleh riwayat dari Pak Lukman (60-an tahun), asal Losari, Cirebon, yang sejak menikah tinggal di Cakung, Jakarta Timur. Pak Lukman mengatakan (1-9-2021) bahwa ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kakeknya (buyutnya Pak Lukman, bernama Yahya, seorang kiai di Losari) mengatakan bahwa mushaf miliknya dibeli dengan seekor kerbau! Semasa kecilnya, Pak Lukman sempat melihat mushaf tersebut, namun sayangnya, sekarang tidak tahu lagi di mana. Jika diperkirakan bahwa satu generasi itu 30 tahun, maka Kiai Yahya hidup pada akhir abad ke-19.
Mushaf Qur'an koleksi Elang Panji Jaya, Cirebon.

Jumat, 01 Januari 2021

"Qur'an '60-an" (2): Cetakan Kementerian Agama, 1967

Pada tahun 1967 Kementerian Agama RI melalui Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur'an menerbitkan mushaf dengan pengantar Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. "Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur'an adalah salah satu yayasan yang dibentuk oleh Departemen (sekarang 'Kementerian') Agama dengan tugas kewajiban menterjemah dan mentafsir Al-Qur'an serta memperbanyak tersebarnya Al-Qur'an di Tanah Air kita Indonesia," demikian bunyi satu paragraf mukadimah Ghazali Thayib, ketua yayasan ini. Penerbitan mushaf ini merupakan hasil kerja sama dengan Percetakan Yamunu, Jakarta.

Jumat, 09 Oktober 2020

Cetakan Kemenag 1960

"Qur'an '60-an (1)"

Tepat pada Hari Pahlawan 10 November 1960 Menteri Agama K.H. Muhammad Wahib Wahab mengeluarkan tanda tashih untuk mushaf yang diterbitkan oleh Kementerian (waktu itu 'Departemen') Agama sendiri. Format tanda tashihnya berbeda dengan yang berlaku dewasa ini. Tanda tashih dikeluarkan dan ditandatangani oleh Menteri Agama, disertai empat nama pentashih. Sedangkan Kepala Lajnah Pentashih Mashaf (sicAl-Qur'an di bagian bawah, H. Muhammad Saleh Suaidi, memberikan himbauan agar umat Islam memelihara kesucian mushaf. Tanda tashih ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Arab (halaman recto) dan bahasa Indonesia di sebaliknya (verso). 

Dari karakter huruf teks Al-Qur'annya yang tebal, kita ketahui bahwa mushaf ini merupakan reproduksi mushaf Bombay. Rupanya, mushaf inilah yang sering disebut sebagai "Qur'an Tahun '60-an" sebagai bahan penyusunan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia. Sayang sekali, kondisi mushaf ini tidak lengkap. Bagian awal dan akhir mushaf telah hilang. Namun, untung-nya, lembar tanda tashih yang telah koyak tersimpan di tengah mushaf. 

Tanda tashih versi bahasa Indonesia.


Minggu, 17 Mei 2020

Bibliografi Mushaf Standar (2)

Beberapa Sumber Baru tentang Mushaf Standar Indonesia

Pada post beberapa tahun lalu tentang bibliografi Mushaf Standar Indonesia (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2013/04/bibliografi-mushaf-standar-indonesia.html) ada empat tulisan yang bisa dibaca untuk mengenal 'mushaf khas Indonesia' ini. Belum lama ini terbit empat buku yang bisa dipelajari lebih jauh untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang Mushaf Standar Indonesia. Semuanya diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia. Buku-buku dalam format pdf ini bisa diunduh melalui tautan yang tersedia:
1. Sejarah Penulisan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia (2017): https://www.academia.edu/43084864/Buku_Sejarah_Penulisan_Mushaf_Standar_Indonesia. Buku ini disusun oleh para pentashih Lajnah, berisi pengenalan Mushaf Standar, latar belakang penetapannya, jenisnya, disertai lampiran dokumen-dokumen langka yang cukup lengkap.  
2. Tanya-Jawab tentang Mushaf Standar Indonesia dan Layanan Pentashihan (2019): https://www.academia.edu/43084896/Buku_Tanya_Jawab_tentang_Mushaf_Standar_Indonesia. Ini merupakan buku praktis dengan model tanya-jawab seputar Mushaf Standar serta layanan pentashihan yang di antaranya mencakup prosedur layanan, tashih online, dan pengawasan mushaf.
3. Pedoman Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (2019): https://www.academia.edu/43077641/Pedoman_Pentashihan_Mushaf_Al-Quran. Buku ini memuat beberapa materi tentang pentashihan, baik yang bersifat kebijakan maupun teknis. Buku diharapkan menjadi panduan teknis bagi para pentashih, penerbit Al-Qur'an, dan siapa saja yang menaruh minat kepada proses penerbitan mushaf.
4. Penyempurnaan Penulisan Rasm Usmani Mushaf Standar Indonesia (2018): https://www.academia.edu/43077433/PENYEMPURNAAN_PENULISAN_RASM_USMANI_MUSHAF_STANDAR_INDONESIA_KEMENTERIAN_AGAMA_RI. Buku kecil ini berisi surat keputusan Kepala Lajnah tentang penyempurnaan penulisan 180 kata rasm usmani dalam Mushaf Standar.

Senin, 11 Mei 2020

Ditulis oleh Ar-Raniri?

Jangan langsung percaya! (12)

        Sekali lagi, jika Anda pergi ke museum—suatu tempat yang seharusnya tidak ada informasi yang salah—jangan langsung percaya kepada semua informasi yang disajikan! Kita perlu kritis. Bahkan, lebih dari itu, juga jangan langsung percaya kepada semua tulisan yang terdapat di manuskrip! Untuk memperoleh informasi yang autentik, kita perlu menimbang-nimbang gaya tulisan, alat tulis, tinta, kertas, jilidan, atau aspek kodikologis lainnya.
Gambar 1. Tulisan di sebuah manuskrip Qur'an.

Sabtu, 15 Februari 2020

Watermark, Asal, dan Usia Naskah


Cap kertas "Three Crescents".
Untuk mengkaji suatu naskah, asal dan usia-nya perlu diketahui terlebih dahulu, atau sekurang-kurangnya diperkirakan, sebelum mengkaji aspek lainnya secara teliti. Sebab, suatu naskah atau teks tentu saja tidak jatuh begitu saja dari langit. Naskah disalin pasti dalam ruang dan waktu historis tertentu – dalam konteks tertentu. Persoalannya, naskah-naskah Nusantara kebanyakan tidak memiliki kolofon (catatan naskah) – entah karena memang tidak ditulis oleh penyalinnya, atau karena naskahnya rusak dimakan waktu. Oleh karena itu, perlu dicari berbagai cara untuk mengetahui asal dan usia naskah. Tentu saja banyak cara untuk mengenali asal dan usia naskah, seperti dari bahasa (ini yang paling mudah!), bahan, tulisan, jilidan, iluminasi, dan lain-lain, tergantung ketersediaan informasi yang ada pada naskah yang dikaji. Karena mushaf Qur’an dalam bahasa Arab, pengkaji mushaf sering menjumpai kesulitan untuk mengidentifikasi asal dan usia mushaf. Nah, satu aspek lain yang bisa ditambahkan dalam hal ini adalah kertas.